Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
15. Rumah Aldo


__ADS_3

Sementara itu, di rumah Fiya, Aldo sudah bangun dari tidurnya sedari tadi. Setelah dia membaca surat dari Fiya, dia pun membuka lemari dan banyak camilan yang di tinggalkan oleh Fiya.


Aldo tidak memakannya, dia hanya memandangnya lalu menutupnya lagi. Dia pun duduk kembali di ranjangnya sambil berfikir keras.


"Aku ingin tau bagaimana keadaan di rumah" batin.


Aldo pun akhirnya pergi ke rumahnya sendiri. Masih lumayan ramai, walaupun pemakaman di adakan kemarin tetapi masih ada tetangga yang berkunjung.


Bendera kuning terpasang di pagar rumah tersebut. Aldo pun masuk ke rumahnya, melihat sekeliling dan langsung menuju ke kamarnya. Dia melihat ibunya sedang memandang fotonya yang ada di meja kamarnya. Dia pun sedikit mendekatinya.


"Nak...hiks.. Kenapa kamu meninggalkan ibu secepat ini? Kenapa kamu tega meninggalkan ibu sendirian? Ibu minta maaf kalau ibu punya salah sama kamu, ibu minta maaf.... Hiks.. Ibu minta maaf"


Aldo juga tak kuasa menahan air matanya, dia juga menangis. Karena dia tidak tega melihat ibunya bersedih, dia pun akhirnya keluar dan menuju tangga dimana ia terjatuh.


Dia mengingat sebuah peristiwa di saat dia terjatuh walaupun hanya sesaat. Dia pun turun dari tangga tersebut dan melewatinya dengan hati-hati. Melihat bayangan demi bayangan akan masa lalunya dengan adik dan kakaknya.


Adik perempuan berumur 5 tahun, sedangkan kakak laki-lakinya berumur 17 tahun. Aldo pun sampai di tangga terakhir.


FLASHBACK ON


"Hehehe, kak Aldo.. Sini" panggil adiknya.


"Sebentar."


Dia pun menemui adiknya yang sedang bermain boneka di ruangan tersebut.


"Ada apa Fina?" tanyanya dengan ramah.


"Kakak, kalau aku besar nanti aku pengen jadi dokter biar nanti bisa nyembuhin mama, papa dan kakak jika kalian sakit."


"Pastinya dong."


"Kak Aldi, dimana kak?"


"Sepertinya di kamar. Oiya, mama sama papa kemana?"


"Aku dengar mereka pergi ke rumah nenek sebentar. Ya udah ya kak, aku mau menemui kak Alfin dulu"


Aldo pun mengangguk dan pergi meninggalkannya, namun tak lama kemudian dia mendengar suara teriakan dari adiknya.

__ADS_1


"Aaaaakkkk.. Kakak.."


Seketika Aldo pun berlari ke kamar kakaknya. Dia begitu kaget saat kakaknya terlihat begitu marah dan sudah melihat boneka yang tadi di bawa Fiya sudah hancur berantakan.


"Alfina..."


"Kak Aldo hiks.. Kal Aldi merusak bonekaku hiks..."


"Bawa dia keluar, aku muak melihat kalian berdua. Cepat pergi dari kamarku" bentak Aldi.


Aldo pun menuntun Fina keluar dari kamar Aldi. Ketika mereka sudah menjauh, Aldi langsung melempar boneka yang sudah rusak lalu menutup pintu dengan keras. Fina ketakutan, begitu juga Aldo. Apa yang harus mereka lakukan? Mereka hanya bisa menangis seperti anak kecil. Namun tidak dengan Aldo, dia hanya meneteskan beberapa air mata agar adiknya tidak merasa ketakutan.


"Sudah, sudah.. Nggak papa..."


"Kakak, aku takut."


"Nggak papa, mungkin kakak sedang tidak mau di ganggu, jangan di ulangi lagi ya"


Alfina mengangguk. Akhirnya, Aldo pun mengantar Alfina ke kamarnya.


FLASHBACK OFF


Setelah mengingat kejadian itu, Aldo pun pergi ke kamar kakaknya dengan menembusnya. Entah mengapa, rasa aneh menyelimuti Aldo. Dia melihat sekelilingnya dan banyak keganjalan yang ia rasakan. Dia pun mendekati laci lemari kakaknya dan melihat sekeliling. Dia pun membukanya satu per satu. Belum ada yang aneh, namun rasa penasaran kini justru tertuju kepada kakaknya.


Sementara itu, Aldo sekarang berada di luar dimana keluarga sedang berkumpul. Rasa duka masih menyelimuti mereka, namun Aldo kini melihat ke arah bocah kecil yang sepertinya sangat terpukul. Dia ingin memeluknya, namun apa dayanya yang kini hanya seorang arwah.


"Andai saja waktu itu mama tidak menyuruh Aldo untuk mengambil air, pasti dia tidak akan terjatuh" ucap mamanya.


"Sudah, jangan nyalahin mama terus, namanya juga sudah takdir mah"


Alfina hanya terdiam dan perlahan menuju ke kamarnya. Aldo yang melihatnya perlahan mengikutinya.


"Dia kenapa?" batin.


Alfina pun terduduk lalu terbaring sambil memegang boneka yang dulu sempat diperbaiki Aldo sebelum dia pergi. Dia memeluknya erat.


"Kakak, maafkan aku hiks... Maaf..."


Aldo pun mendekatinya dan mengelus rambutnya pelan.

__ADS_1


"Kakak, aku takut di sini... Hiks.. Mengapa kakak meninggalkanku... Hiks.. Aku takut..."


"Maafkan kakak, kakak tidak bisa bertahan. Kamu di sini yang kuat ya... Masih ada mama dan papa."


"Kakak, aku takut dengan kak Aldi. Dia begitu menyeramkan... Aku takut dengan kak Aldi kak.. Hiks.. Aku takut..."


Aldo hanya bisa menangis. Dia bingung apa yang dimaksud oleh adiknya sehingga membuatnya begitu ketakutan.


"Apa yang membuat Alfina takut dengan kak Aldi? Memang dia kejam, namun aku tidak pernah melihat Alfina sangat takut seperti ini. Apa ini ada kaitannya dengan kak Aldi? Apa yang telah dilakukan olehnya kepada adikku?" batin.


Akhirnya setelah berfikir panjang, dia pun kembali ke rumah Fiya dan langsung berada di kamarnya.


"Sepertinya kak Fiya belum pulang atau sebaiknya aku susul saja dia. Tapi... Tidak tidak, sebaiknya jangan nanti aku hanya akan mengganggu mereka saja. Lebih baik aku di sini. Lalu, ini kan... Kenapa kak Aldi punya kalungku? Ku kira udah hilang, tetapi kenapa bisa ada di kakak? Tapi saat tadi aku masuk ke kamarnya aku merasa aneh. Kira-kira apa yang terjadi sebenarnya? Lebih baik aku tanyakan saja ke kak Fiya nanti. Entah mengapa aku sangat meragukan rumahku sendiri tak terkecuali dengan kak Aldi, tapi aku takut itu merepotkan"


Dia pun terdiam dan termenung. Tak lama pintunya pun terbuka. Dia segera menyimpan kalungnya dalam genggamannya.


"Oh.. Aldo, maaf kakak telat. Udah makan belum?"


Aldo menggeleng.


"Benar, bagaimana kamu makan ya, kakak kan nggak bilang sama mama kalau ada tamu. Ya udah makan yuk, kakak bawain mie ayam nih."


"Buat orang tua kakak si"


"Mereka udah kok, bentar ya kakak ambil mangkuk sama sendok."


"Iya kak"


Dia kembali melihat kalungnya. Lalu melihat ke arah pintu dimana Fiya keluar. Dia sungguh bingung apa yang harus dia lakukan kali ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Besok aku akan kembali ke rumah lagi dan memastikannya. Aku sangat yakin, disana banyak keganjalan namun aku tak mengetahuinya. Aku akan memastikannya besok"


Tak lama Fiya pun kembali dan membawa dua mangkuk dan minumannya di nampan. Setelahnya dia menuangkan mie ayam tersebut.


"Silahkan di makan"


"Iya kak, terimakasih banyak"


"Sama-sama. Ayo dimakan, nanti keburu dingin"

__ADS_1


Aldo mengangguk dan mulai menyendokkan mie nya ke mulutnya dan memakannya dengan perlahan karena masih sedikit panas.


//**//


__ADS_2