Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
63. Ditipu


__ADS_3

Rumah sakit


Pada waktu hampir magrib, Aldi kembali lagi ke rumah sakit. Sudah ada papa Brian yang sudah pulang dari kantornya.


"Nak Aldi, kalian ke sini lagi?" tanya mama Ova.


"Iya tante."


"Kebetulan kamu ada di sini. Bisa tolong titip Khanza sebentar? Kami mau pulang dulu dan membawa makan malam." ucap mama Ova.


"Iya tante, saya akan menjaga Khanza dengan senang hati."


Mama Ova dan papa Brian beranjak dari tempat duduknya. Papa Brian menaruh jasnya di lengannya dan menepuk bahu Aldi dengan tangan kirinya.


"Titip sebentar." ucapnya yang di jawab anggukan oleh Aldi.


"Sayang, sama Aldi sebentar ya, mama akan kembali lagi nanti." Mama Ova mengusap kepala Fiya dan mencium keningnya.


Fiya mengangguk dan kemudian melambaikan tangan kanannya kepada kedua orangtuanya. Setelah orang tua Fiya keluar, Aldi pun duduk di sampingnya.


Fiya juga ingin duduk karena merasa bosan. Aldi yang melihat Fiya kesusahan untuk duduk, akhirnya membantunya.


"Terimakasih.." ucap Fiya.


"Sama-sama... Kamu pasti bosan kan di sini. Mau makan sesuatu?" tanya Aldi.


"Emm.. Enggak, aku mau nonton televisi aja." pinta Fiya yang di jawab anggukan dengan cepat oleh Aldi.


Aldi pun beranjak dan menyalakan televisi yang tersedia di ruangan tersebut.


"Emm... Khanza, kata kamu kemarin waktu ngilang kamu nginep di apartemen Farhan kan? Itu dimana lokasinya, kok aku nggak tau?" tanya Aldi.


"Emm.. Kalau nggak salah jalan no 15 blok 8, kan ada gedung tinggi, nah itu apartemennya." ucap Fiya.


"Kenapa kamu tanya?" lanjut Fiya.


"Nggak papa si, aku nggak tau ternyata dia keluarga sultan." jawabnya.


Fiya hanya mengangguk dan kembali fokus ke arah televisi sembari berbincang kepada Aldi.


Hingga pukul setengah 7 malam, Mama Ova dan papa Brian kembali ke rumah sakit dan membawa makan malam untuk Aldi. Mereka pun makan bersama-sama.


"Aku suapin?" tanya Aldi.


"Nggak usah, aku bisa sendiri kok."


Aldi hanya pasrah dan kemudian memakan makanannya sendiri.

__ADS_1


...*****...


Keesokan harinya, Farhan menjalani harinya seperti biasa. Tak ada yang berubah sedikitpun terhadap dirinya. Hingga pulang sekolah, dirinya aman karena Fiya sedang dirawat di rumah sakit. Namun, seperti biasa dirinya selalu di gandeng oleh Jennie.


"Sayang, kamu nggak papa kan? Udah nggak peduliin dukun lagi??" tanya Jennie.


Farhan kesal dan kemudian langsung menghempaskan tangan Jennie dari lengannya. Farhan langsung meninggalkannya dan menuju ke parkiran.


"Isshh.. Kok belum berubah si.." gerutu Jennie.


"Iya ya, padahal kata tuh dukun besoknya dia bakal balik ke lo." ucap Bianka.


"Kayaknya ada yang salah. Yuk cepetan ke rumah gue dulu."


Jennie dan Bianka bergegas pulang menggunakan mobil Bianka seperti biasanya saat tidak pulang bersama dengan Farhan.


Sesampainya di rumah Jennie, Bianka pamit untuk pulang. Jennie mengangguk dan langsung masuk ke rumah. Jennie langsung memeluk mamanya begitu mendapati mamanya di ruang keluarga yang sedang menonton televisi.


"Mamah.. Gimana ini? Kok Farhan belum balik sama aku si.." rengeknya.


"Jangan galau gitu, tunggu aja sampai nanti malam." jawab santai mama Ulfa.


"Sampai nanti malam mah? Kata dukun kemarin pagi ini. Buktinya mana!! Dari pagi aja Farhan masih cuek sama aku!"


"Baiklah, kalau begitu kita ke rumah orang tua Farhan sekarang."


Jennie langsung naik ke kamarnya, dan setelahnya dia siap, mereka berdua langsung pergi ke rumah orang tua Farhan.


Hingga di sore hari, keluarga Farhan dan Jennie telah berkumpul. Semua anggota keluarga menjadi sangat gelisah. Belum ada kabar ataupun perubahan dari Farhan.


Jennie sudah menghubunginya berkali-kali, namun langsung di tolak oleh Farhan. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah pak Parjo.


Butuh waktu beberapa jam untuk ke rumah Mbah Parjo. Begitu mereka sampai, papa Wendi langsung menggedor-gedor pintu. Namun tidak ada jawaban.


Dan dengan pasrah papa Wendi dan papa Yuda mendobrak pintu tersebut. Tak ada siapapun di dalam rumah tersebut. Semua barang tidak ada, peralatan sesajen juga tak ada.


"Sial, sepertinya kita sudah di tipu." ucap papa Yuda.


Semua orang terkejut, tak terkecuali dengan mama Ulfa yang sangat syok dengan pernyataan dari papa Yuda.


"Lalu, mas saya bagaimana? Papah.. Bagaimana dengan mas mama sekarang..." rengek mama Ulfa.


"Apalagi papah mah, itu rekening ada sekitar 100 juta, papa rugi banyak itu." jawabnya dengan kesal.


"Dasar dukun-dukunan..." umpat mama Ulfa.


Tiba-tiba, ada seorang kakek tua yang bertudung dan melewati keluarga yang sedang penuh penyesalan tersebut. Orang bertudung itu tersenyum.

__ADS_1


"Begitulah hukuman orang yang serakah, bergantung dengan uang dan menghamburkan uang untuk hal yang musrik. Kalian tidak bisa menentang takdir dan cinta. Kalian tidak akan pernah tau, ada orang yang di pertaruhkan cinta sekarang. Juga ada seseorang yang sedang terjebak oleh cinta mereka. Dan, kalian akan segera mengetahuinya."


Kakek tua bertudung itu pun kembali berjalan. Keluarga tersebut hanya saling bertatapan satu sama lain karena masih tak mengetahui apa maksud dari kakek tersebut.


"Maksud kakek itu apa mah?" tanya Jennie.


"Mamah nggak tau. Mama lagi pusing sekarang." Mama Ulfa memegang kepalanya yang pening.


Papa Wendi tak tinggal diam, sehingga akhirnya dia memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib.


...*****...


Di sisi lain, Farhan bingung di apartemennya,. Arya masih setia menemani Farhan di apartemen.


"Arya, menurut lo gimana? Apa gue harus bilang sama Khanza, kalau Dimas merasuki tubuh gue?" tanya Farhan.


Arya menghela nafas dan menepuk bahunya dan kemudian duduk di sampingnya.


"Jangan dulu bos, bos belum memiliki bukti. Jika waktu datang dengan tepat, pasti semua akan terjadi dan pasti Khanza akan tau semuanya. Em.. Gue mau nanya sama bos, bos benci sama Khanza kan? Tapi waktu itu kenapa bos nolongin dia?" tanya Arya penasaran.


"Bukan karena gue benci, tetapi kasian lah, hujan-hujan gue biarin di jalan pingsan lagi."jawabnya.


"Oohh..."


Tak lama Arya mendapatkan telepon dari papa Farhan. Dia pun segera mengangkatnya.


"Hallo..."


"Apa!! Tertipu??"


"Iya, saya di apartemen Farhan."


"Baik, saya akan ke sana bersama Farhan."


Arya pun menutup teleponnya dan langsung memandang Farhan dengan penuh kegugupan.


"Lo kenapa?" tanya Farhan yang mengejutkannya.


"Keluarga lo di tipu sama dukun, begitu juga keluarga Jennie."


"Apa!! Ditipu??!! Kenapa itu bisa terjadi?"


"Mereka mau ke dukun. Kirain lo tuh dipelet sama Khanza. Akhirnya mereka ke dukun untuk bales perbuatan mereka, tetapi malah justru mereka yang tertipu."


"Baiklah, kita ke sana sekarang untuk mengecek keadaan mereka dan untuk menghindari salah faham. Pasti biang keroknya Jennie ini."


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk ke rumah orang tua Farhan untuk memastikan semuanya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2