
Farhan mengantarkannya sampai ke rumahnya. Fiya mengembalikan jaket yang terpasang di badannya, namun Farhan menghentikannya.
"Lo pake aja, kembaliin besok juga nggak papa."
"Ta-tapi..."
Fiya belum menyelesaikan perkataannya, namun Farhan sudah terlebih dahulu menyalakan motornya dan meninggalkan rumah Fiya.
Fiya langsung masuk ke rumahnya dan menuju ke kamarnya. Dia langsung mengganti bajunya dan mencucinya beserta dengan jaket Farhan yang di pakainya tadi.
Setelah membiarkan pakainnya di cuci, ia pun turun untuk makan siang. Dia terkejut karena Arya dan Bastian sudah menunggu di meja makan. Bastian yang melihat Fiya langsung turun dan berlari ke arah Fiya.
"Loh... Bastian kamu di sini. Kamu nggak berpapasan sama kakak kamu?" tanya Fiya.
"Nggak kak..."
"Rindu kakak ya kamu ke sini..."
Fiya mencolek hidung Bastian yang membuatnya tertawa.
"Kakak tau aja... Oiya kak, lusa kakak datang ya ke ulang tahun aku. Kakak harus pake baju ini, bentar kak."
Bastian kembali ke Arya dan mengambil barang yang di maksud Bastian. Fiya mengikutinya di belakang dan Bastian segera kembali sambil membawa paper bag yang di berikan Arya.
"Nih kak.."
Fiya membukanya dan kembali menutupnya. Dan tersenyum sambil mengacak rambut Bastian.
"Kakak coba sekarang?" tanya Fiya.
"Jangan kak, kalau di pakai sekarang, nanti jadi nggak surprise dong."
"Ya udah, sekarang makan siang bersama yuk."
Bastian mengangguk dan menggandeng tangan Fiya ke tempat duduk yang kosong agar mereka duduk secara berdampingan. Dimas yang melihat mereka berdua tersenyum lebar dan memilih untuk pergi dari tempat tersebut.
...*****...
Hingga pada hari-H, Bastian gelisah karena Fiya tak kunjung datang ke acara ulang tahun yang akan segera di mulai. Dan tak lama, orang yang ditunggu datang dengan menggunakan pakaian yang Bastian berikan.
Jennie, Bianka, Farhan dan teman-teman Bastian melihat ke arah pintu masuk. Fiya melangkah dengan anggun dengan memakai pakaian berwarna pink selutut dan juga terdapat sayap di belakangnya. Rambut yang sudah lumayan panjang di biarkannya tergerai dan memakai bando berbentuk seperti mahkota.
Bastian tersenyum dan langsung berlari ke arahnya. Fiya memberikan kotak kado tersebut kepadanya. Teman-teman Bastian yang kagum pun mulai mengerumuni Fiya.
"Siapa peri cantik ini?" tanya salah satu teman perempuan Bastian.
"Dia adalah peri yang menjagaku, dia cantik bukan?" tanya Bastian.
"Iya cantik." jawab anak-anak serempak yang membuat Fiya tersipu.
"Iya, kakak cantik, pasti hatinya juga baik. Siapa yang membelikan kakak baju ini, baju ini sangat cantik?" tanya teman Farhan lagi.
"Aku yang membelikannya. Dia kakak baik seperti peri, sehingga aku yang membelinya di bantu oleh kak Arya."
Arya yang sedari tadi hanya diam juga ikut tersenyum sambil melihat wajah Fiya yang sudah mulai memerah seperti warna bajunya.
"Bastian, sudah jangan goda kak Khanza terus, dia malu nanti. Sekarang kita masuk yuk. Sini kakak yang bawa kadonya."
Bastian mengangguk dan menggandeng tangan Fiya perlahan hingga ke depan roti. Jennie dan Bianka mulai iri dengan kehadiran Fiya. Fiya berdiri di belakang Bastian dan di belakangnya ada Farhan sedangkan di sampingnya ada Arya. Begitu acara akan di mulai, Feni tiba-tiba datang sambil tergesa-gesa.
__ADS_1
"Maaf, saya telat." ucap Feni.
"Iya nggak papa kak, ayo kak sekarang kita nyanyi." ajak Bastian semangat.
Mereka serempak menyanyikan lagu ulang tahun. Setelahnya lilin pun di tiup dan juga memotong kue. Jennie hendak menyiramkan air ke baju Fiya, namun usahanya gagal dan malah mengenai bajunya sendiri.
"Di sini bukan tempat bermain anak-anak, jadi kotor kan baju kakak..." gerutu Jennie dengan kesal.
Jennie pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan bajunya yang kotor dengan ekspresi wajah yang cemberut.
"Isshh... Kenapa pula jadi aku yang kena?" gerutunya.
Sedangkan Fiya di luar sedang senang bermain dengan teman-teman Bastian. Bastian yang dari tadi sibuk di dalam dan kemudian keluar merasa iri dengan Fiya yang bermain dengan teman-temannya.
"Itu peri aku, kalian tidak boleh merebutnya." teriak Bastian.
Fiya yang mendengarnya pun langsung mendatanginya dan memeluknya.
"Sayang... Nggak boleh seperti itu, ini kan cuma satu hari, masa kakak nggak boleh main sama teman-teman kamu."
"Iya, kamu kan setiap hari main sama kakak peri. Habis ini juga kamu bisa main sama kakak peri. Kami boleh pinjam sebentar ya..." pinta teman laki-laki Bastian.
"Daripada ribut, lebih baik kita main sama-sama yuk... Katanya kak Khanza mau nyanyi loh..." kata Feni tiba-tiba.
"Yyeeaayyy.... Nyanyi... Nyanyi.. Nyanyi..." Sorak para teman-teman Bastian.
"Fiya, aku kan nggak bisa nyanyi..." keluh Fiya.
"Bisa lah... Ayo cepetan..."
Feni mendorong Fiya hingga di depan tempat utama ulang tahun Bastian. Dan Fiya dengan terpaksa pun bernyanyi. Jennie hanya tersenyum miring dan kemudian meminta Farhan untuk berdansa bersama.
Arya melihat tatapan Fiya yang merasa sedih dan lagunya yang mulai acak-acakan langsung mengambil microfon lagi dan bernyanyi bersama Fiya. Nyanyian Fiya kembali merdu dan tertata.
"Farhan..." teriak Jennie.
"Jen, kita pulang yuk, udah nggak asik di sini. Lagian acaranya udah selesai kan... Yuk kita pulang." ajak Bianka dengan paksa.
"Iya deh... Lagipula Farhan nyebelin hari ini."
Mereka berdua memutuskan untuk pulang di susul oleh teman-teman Bastian yang mulai berpamitan. Dan kini hanya tinggal Bastian, Arya, Fiya, dan kedua orang tua Farhan yang masih ada di tempat.
"Terimakasih Khanza, Feni , kedatangan kalian berdua di sini sangat menghibur anak-anak."
"Sama-sama tante, lagipula kan Bastian udah kayak adik kami sendiri." jawab Feni yang membuat semua orang tersenyum.
"Oiya, tadi kayaknya aku liat Jennie dan Bianka, tapi dimana mereka?" tanya Feni sambil celingak celinguk begitu pula dengan semua orang yang di sekelilingnya.
"Mungkin mereka udah pulang. Kebiasaan selalu ilang dan nggak pamit kalau pergi." ucap mama Ifa.
"Oohh seperti itu... Oiya, om tante dan Arya. Aku ijin pamit pulang dulu. Soalnya aku masih ada urusan. Nggak papa ya Bastian, kakak pulang duluan. Masih ada Kak Khanza di sini."
Bastian mengangguk dan Mama Ifa tersenyum sambil mengelus rambutnya lembut.
"Iya baiklah, kamu hati-hati. Arya, sebaiknya kamu antarkan Feni pulang."
"Iya tante. Khanza, kamu di sini dulu sebentar nggak papa kan?" tanya Arya.
"Iya nggak papa kok."
__ADS_1
Arya pun langsung berlalu pergi menyiapkan mobil.
"Ya udah, aku pamit tante. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab semuanya.
Begitu Feni pergi, Bastian langsung menarik Fiya ke kamarnya. Fiya juga berjalan tertatih-tatih karena langkah Bastian yang begitu cepat.
Sementara itu, di mobil sendiri Feni dan Arya merasa canggung satu sama lain. Dan Feni pun memilih untuk memainkan ponselnya, namun sialnya ponselnya mati dan ia pun berpura memainkan handphonenya selayaknya handphonenya itu hidup.
"Kamu butuh charger? Nih..."
Arya memberikan kabel data yang sudah di hubungkan dari sumbernya. Feni menerimanya dengan canggung.
"Terimakasih..."
Sekitar 20 menit, Feni sampai dan langsung turun dari mobil. Arya yang matanya terlalu jeli melihat luka di kaki Feni langsung mengambil peralatan P3knya di tempat yang tersedia dan langsung keluar dari mobil.
"Feni, tunggu sebentar."Feni pun terhenti dan melihat ke belakang.
"Ada apa?" tanya Feni.
Arya langsung membungkuk dan mengangkat kaki Feni.
"Eh.. Eh.." Feni langsung berpegangan mobil yang tak jauh dari dirinya.
Arya pun membuka plester dan menempelkannya di kedua mata kaki Feni yang tergores oleh sepatu yang di pakainya.
"Lebih baik pakai sepatu atau sandal yang lembut agar kamu tidak terluka."
Arya pun langsung berdiri setelah selesai mengobatinya. Feni melihat ke bawah dan menaruh rambutnya ke belakang telinganya.
"Terimakasih..." ucap Feni singkat.
"Lain kali hati-hati."
Arya pun masuk kembali ke dalam mobilnya dan lekas meninggalkan rumah Feni. Feni pun kembali melihat kakinya dan langsung berlari ke dalam rumahnya dengan girang.
Kembali ke kamar Bastian...
Mereka berdua sibuk membuka kado yang di bawa oleh teman-teman Bastian, sehingga ia memilih kado Fiya yang lebih dahulu ia buka.
Fiya menghadiahkan di seperangkat alat sholat untuk Bastian. Bastian pun mengusapnya dengan lembut.
"Waah... Alasan kakak memberi Bastian ini apa?" tanya Bastian penasaran.
"Biar Bastian ngaji dan sholatnya rajin."
Bastian mengerti dan kembali membuka hadiah lainnya yang masih tersisa. Fiya kembali membuka kado, dan diam-diam Dimas memberikan kado tanpa nama untuk Bastian, namun dengan senang Bastian suka karena hadiahnya adalah sebuah robot.
Fiya juga membuka salah satu kado berbentuk amplop yang di beri pita tengahnya. Tak perlu pikir panjang ia langsung membukanya. Dia terkejut karena ada 3 tiket ke kebun binatang.
Fiya membolak-balikan amplop tersebut sambil mengecek isinya, namun tidak ada sepucuk surat atau sekedar nama pengirim di dalamnya.
"Wah apa itu kak?" tanya Bastian.
"Ada tiket ke kebun binatang. Batas hingga minggu depan. Minggu besok kita jalan-jalan."
"Aasiikkk.. Ajak kak Arya pula ya kak..."
__ADS_1
Fiya tersenyum dan mengangguk sambil berfikir siapa yang memberikan hadiah tersebut.
//**//