
Aldi sampai di rumahnya. Kedatangannya di sambut baik oleh mamanya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Aldi, habis belajar lagi, kok tumben pulangnya sore." ucap mamanya sambil menyalaminya.
"Iya mah."
"Dimana?"
"Di rumah Khanza."
"Oohh.. Ya sudah. Kamu mandi terus turun makan malam"
Dia mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya dan melempar tasnya dengan kasar. Dia mendudukan dirinya di ranjangnya.
"Siapa makhluk itu? Sepertinya aku pernah melihatnya."
Dia pun bangkit dan menuju ke kamar mandi. Setelahnya dia turun ke ruang makan untuk makan malam.
Dia duduk di tempatnya sambil menunggu makanan datang. Papanya yang di sampingnya menepuk bahunya yang sedang melamun.
"Di, bagaimana sekolah baru kamu? Kamu menjadi populer kan? Dan papa yakin kamu yang paling tampan di sana."
"Nggak pa, terlalu banyak saingan di sana."
"Hahahaha.. Bagaimana dengan belajar kelompokmu? Apakah gadis itu cantik?"
"Hmm... Sangat.."
"Lagi ngomongin apa si. Udah sampai ini makanannya. Ayo cepet makan."
*****
Di sisi lain
Aldo tengah bingung dengan apa yang di lihatnya tadi siang. Dia duduk di sofa kamarnya sambil berfikir.
"Tadi kak Aldi kan? Kenapa dia bisa ke sini?"
Ketika dia termenung, Fiya pun datang ke kamarnya. Tidak dengan tangan kosong tentunya, dia selalu membawa camilan untuk menemani mereka berdua.
"Aldo, kamu belum tidur."
"Belum kak. Kakak ada apa ke sini?"
"Nggak papa. Kakak hanya bosen aja di kamar. Kakak duduk sini ya, kamu juga pasti kesepian."
"Nggak kesepian kok kak. Kan ada kakak, aku berasa jadi hidup lagi."
Fiya pun duduk di sofa depan televisi lalu menyalakan tvnya.
"Oiya kak. Tadi temen-temen kakak ya."
"Iya."
"Ehm... Kalau boleh tau namanya siapa kak?"
"Aldi dan Dimas."
"Oohh.."
"Memangnya kenapa?"
"Nggak papa kok kak."
"Berarti benar itu kak Aldi. Dia satu sekolah dengan kak Khanza dan pasti satu kelas juga. Aku merasa aneh dengan kak Aldi, tapi kenapa aku belum menemukannya." batin.
Fiya yang melihatnya terbengong pun mengelus kepalanya. Dia sedikit kaget kemudian melihat ke arah Fiya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kok bengong?"
"Nggak papa. Aku cuma ngantuk kak."
"Ya udah sekarang istirahat. Kakak ke kamar. Selamat malam."
"Malam kak."
Fiya pun meninggalkannya dan kemudian menuju ke kamarnya. Dia hendak menaiki tangga, namun papanya memanggilnya.
"Udah belajar?"
"Udah pah. Memangnya kenapa pah?"
"Mama sama papa mau bicara sama kamu."
"Deg" seketika jantungnya merasa bergemetar hebat di dalam dadanya. Perasaan tidak enak menyelimuti dirinya, dan pastinya akan ada sesuatu yang dibicarakan.
"Ada apa pah?"
"Duduk." perintahnya.
Fiya pun duduk dan menelan salivanya kasar. Mamanya hanya memperhatikan sambil menggendong adiknya yang sedang tidur di pangkuan mamanya.
"Siapa di kamar tamu? Akhir-akhir ini kamu sering ke sana."
"Maaf mah, pah. Aku kedatangan tamu."
"Khanza, di rumah ini bukan hanya ada kamu. Ada adik kamu juga yang masih kecil. Mau berapa makhluk lagi yang akan kamu bawa pulang." keluh mamanya dengan sedikit nada yang tinggi.
"Mamah.. Bisakah kita bicarakan baik-baik. Mamah selalu saja memarahi Khanza. Apa Khanza salah membantu arwah orang lain. Kalau memang kekuatan Khanza hanya menganggu kehidupan rumah ini, kenapa Khanza tidak diizinkan pergi dan menginap di rumah yang lain."
"Bukan seperti itu nak. Papa mau tanya siapa namanya?"
"Ini bukan urusan papa. Kalau papa ingin tau pun pasti papa akan menyuruhnya keluar dari rumah ini kan?"
"Lalu?"
"Kami hanya mewanti-wanti saja nak. Ini juga berbahaya untuk diri kamu."
"Iya mah, pah. Aku tau hal itu. Jika aku tak memakai anugerah ini. Apakah aku akan membiarkan makhluk pendendam terus berkeliaran dan menindas makhluk malang lainnya. Aku tak tahan semua itu. Kalian jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Itu terserah kamu. Yang terpenting jaga diri kamu baik-baik. Mama mau tidur. Papa, tolong gendong sofi."
Papa pun mengangguk dan menggendong sofi menuju ke kamarnya.
"Kamu juga tidur, jangan lupa berdoa dulu. Apakah tamu kita juga sudah tidur?"
"Sudah mah. Oiya, namanya Aldo."
"Iya baiklah. Selamat malam."
"Selamat malam mah."
Fiya pun bergegas ke kamarnya dan kemudian mencuci kakinya dan tidur.
*****
Keesokan harinya..
Yang menjadi pusat perbincangan hari ini bukan Aldi, Dimas dan Fiya. Yang sedang ramai di perbincangkan adalah mengenai pertunangan antara Farhan dan Jennie.
Farhan dan Jennie berangkat bersama dan dengan manja Jennie menggandeng lengan Farhan. Farhan sebenarnya malas meladeninnya dan dia pun melepaskan gandengannya.
"Sayang, kenapa di lepas. Sekali-kali biar jadi pusat perhatian. Jangan dukun terus."
Farhan semakin jengah dan meninggalkan sendirian. Aldi, Dimas dan Fiya yang berjalan beriringan pun di tabraknya hingga dia jatuh di dada Aldi, dan Jennie mengikutinya dan membuat Fiya jatuh di dada Dimas.
"Kamu nggak papa." tanyanya kompak.
__ADS_1
"Iya, nggak papa kok."
Fiya yang sudah terlanjur gugup pun akhirnya meninggalkan mereka berdua. Dimas dan Aldi lagi meraih tangannya bersamaan.
"Aku mau ke ruang guru bentar. Kalian ke kelas aja duluan."
"Aku ikut." ucapnya kompak lagi.
Fiya melihat mereka berdua secara bergantian dengan tatapannya yang bingung.
"Kompak lagi. Udah, kalian tuh udah bikin satu sekolah heboh, jangan buat ruang guru juga heboh. Kalian bukan pengawalku. Sana ke kelas."
"Nanti kamu ke atas sendirian."
"Nggak aku sama bu Vita kok. Aku bareng sama dia nanti." bohongnya karena untuk menghindari mereka berdua.
"Baiklah."
Dimas dan Aldi pun berlalu kemudian Fiya juga pergi bukan untuk ke ruang guru, melainkan ke kamar mandi. Dia membasuh wajahnya dan kemudian menatap dirinya di pantulan kaca.
"Benar kata mama papah, sepertinya itu akan terjadi bahkan segera, namun, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Dia pun mengelap wajahnya dengan handuk dan kemudian keluar dari kamar mandi. Dia menuju ke lift, dan pada saat itu bersamaan dengan Farhan.
Farhan menyentuh tangan Fiya saat hendak menekan pintu lift. Dia langsung mengusapnya begitu juga dengan Fiya.
"Isshh.."
"Lo naik tangga." ucap Farhan.
"Ogah amat. Mending lo aja, kenapa harus gue?"
"Kan lo dukun, pasti punya mantra buat teleportasi."
"Gue bukan setan yang bisa pindah tempat semau gue. Mending lo aja sana."
"Nggak mau, lo yang harus naik tangga."
"Gue bukan b*bu lo."
Fiya memencet tombol lift dan langsung memasukinya. Pintu lift akan tertutup, namun Farhan mencegahnya dan ikut masuk lift.
"Kenapa dah harus sama dukun" batin Farhan.
"Hedeh.. Kenapa malah ketemu Farhan." batin Fiya.
Tiba-tiba lift terhenti dan membuat tubuh Fiya bersandar Farhan. Tatapan mereka bertemu, Farhan langsung mendorongnya hingga terbentur dan membuat Fiya pingsan. Farhan panik dan berjongkok lalu menepuk pipinya.
"Mbah.. Mbah dukun.. Mbah.. Ini serius lo pingsan. Khanza.. Za... Khanza..."
Dia terus menepuk pipi Fiya dan kemudian dia memencet tombol darurat yang ada di sana.
"Hallo... Hallo.."
"Apa di lift ada orang."
"Iya pak ada."
"Sebentar anak-anak. Lift ada masalah, siapa di dalam" tanya seseorang tak lain adalah guru.
"Farhan pak dan Khanza. Ini malah Khanza pingsan."
"Baiklah. Kamu jangan panik. Tunggu sebentar, sebisa mungkin sadarkan dia ya."
"Iya pak."
Farhan terus menepuk pipi Fiya, namun tak ada respon. Sekitar 15 menit, pintu lift pun terbuka, dan Farhan langsung membawanya ke UKS.
//**//
__ADS_1