
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
.
Waktu jam istirahat ke dua, aku kembali ke kelasnya bersama Feni. Aku terus berfikir tentang kejadian di atap yang hampir melibatkan diriku. Aku akhirnya menatap ke arah atap lalu menundukkan kepalaku lagi.
"Apakah itu jiwa pendendam?" batin.
"Kenapa lo liat ke atap Za"
"Nggak papa kok"
Aku memberikan senyuman kecil agar Feni percaya. Aku ingin sekali memastikan makhluk itu dan akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke atap.
"Fen, gue titip bakso ya, bawa ke kelas, gue tiba-tiba pengen ke WC"
"Ya udah sana, tapi cepetan ya"
"Iya, nih duit gue belanjain"
"Thank you"
Aku memberikan uang 20 ribu kepadanya. Setelah aku memastikan Feni lumayan jauh dari diriku. Aku segera berlari menuju ke lift dan menaiki atap.
Sebenarnya di lift juga ada makhluk, namun dia tidak mengganggu. Dia hanya mengganggu beberapa orang yang menganggunya. Terkadang makhluk itu sengaja membuat lift rusak dan terhenti, dan itulah mengapa tak banyak yang memakai lift kecuali bila ada keadaan mendesak.
Tidak butuh waktu sampai 5 menit, pintu lift terbuka. Aku pun keluar dan menuju ke lantai atap menggunakan beberapa tangga karena lift tersebut hanya sampai di lantai 4.
"Dimana dia, pasti dia di sekitar sini"
Aku menengok kanan dan kiriku. Tak terlihat siapapun di sana. Aku menarik nafas panjang dan membalikkan badanku.
"Deengg"
Betapa terkejutnya ketika makhluk yang aku maksud sudah di depanku. Aku berfikir dia sudah pergi, namun itu tidak mungkin untuk makhluk itu lakukan. Aku mundur beberapa langkah secara perlahan. Beruntungnya jantungku bisa ku kendalikan.
"Ternyata kau bisa melihatku"
"Jadi kamu yang membuat ulah ini, atas dasar apa kamu melakukannya"
__ADS_1
"Aku ingin ada yang menemaniku di sini. Semenjak ada kau di sini dan menyelamatkan makhluk lain, teman teman ku perlahan menghilang dan pergi"
"Kenapa kau tak ikut pergi dari sini"
"Ini tempat ku, kau tak berhak mengusirku"
Makhluk itu hendak menyerangku, aku menghindari dengan cepat. Aku beristigfar di dalam hati.
"Kenapa kau menyerangku? Apa aku ada salah denganmu? Kenapa kau melibatkan orang tidak bersalah dalam hal ini"
Akhirnya aku memegang tangan makhluk yang begitu dingin tersebut. Aku membacakan ayat yang pernah di ajarkan oleh kakek buyutku.
"Lepaskan, lepaskan aku.. Lepaskan..."
Dia meminta melepaskan tangannya. Awalnya usahanya tidak berhasil, tetapi dia akhirnya bisa melepaskan tangannya dari cengkeramanku. Aku terjatuh dan dia pun tertawa.
"Kekuatan mu itu tidak sebanding denganku, percuma jika kau mengusirku, itu tidak akan berguna"
Nafasku terengah-engah, makhluk itu menatapku dengan tatapan yang mengerikan. Tiba-tiba Dimas datang.
"Jangan mendekat"
Aku berteriak kepadanya, namun dia tidak menghiraukanku dan mendekatiku.
"Kamu, kenapa kamu di sini dan kamu kenapa? Apa makhluk yang menyebabkan semua ini"
"Bagus sekali pangeranmu datang. Akan lebih seru"
"Jangan sakiti dia, dia tak ada hubungannya dengan ini"
"Begitukah? Bagaimana kalau aku menampilkan diriku dengan wajah hancurku"
"Jangan lakukan, kalau kau melakukan itu, aku akan benar-benar mengusirmu"
"Bagaimana bisa kau mengusir tuan rumahnya sendiri? Kau hanyalah tamu di sini, kau tiada hak untuk mengusirku"
"Aku tau apa yang kamu alami sekarang, bisakah kita berbicara baik? Bagaimana bisa kau melakukan hal sekeji itu kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan ini? Apa alasan mu terus berada di sini? Apa kau dendam dengan seseorang? Itulah alasan mu tak kembali ke alam bakamu"
"Jangan ikut campur masalahku, atau nyawamu yang akan menemaniku"
"Jika kau terus seperti ini aku yang akan melawanmu"
Aku mengerahkan seluruh tenagaku. Dimas memegangi tanganku tapi aku menepiskannya. Makhluk itu mulai tak nyaman, aku terus mengeluarkan kekuatanku dan akhirnya dia pun kalah.
Aku mengatur nafasku dan Dimas pun memegangi ku. Aku terus menatap abu yang terbang di hadapanku.
__ADS_1
"Akhirnya, aku menangkapnya"
"Bagaimana itu mungkin"
"Mungkin saja, kau tak tau apa yang terjadi sebenarnya"
"Maksud kamu? Siapa yang tadi kamu lawan? Makhluk apa itu"
"Dia adalah jiwa pendendam. Jiwa penuh kebencian dan ketidak percayaan. Jiwa penuh amarah dan keegoisan. Makhluk jiwa pendendam adalah makhluk yang membuat nyawa orang dalam bahaya agar orang itu bisa merasakan apa yang makhluk itu alami"
"Lalu apa alasan dia ingin mencelakaimu di sini"
"Kau tak akan pernah tau apa yang aku lihat. Sebenarnya di sini banyak arwah-arwah yang terkurung karena makhluk itu. Makhluk itu ingin mereka menemaninya. Namun sekarang aku melihat senyum mereka. Tunggu sebentar di sini"
Aku berbicara sambil menatap beberapa arwah yang tersenyum kepadaku. Aku pun berdiri dan menatap mereka. Sekitar ada 5 arwah yang ada di depanku.
"Terimakasih kak, atas bantuan mu. Jika kau tak ada, mungkin akan lebih lama lagi kami di siksa"
"Kenapa alasannya dia mengurung kalian? Siapa dia?"
"Namanya adalah Dilla, dia angkatan ke dua sekolah ini. Dia terkenal merundung seseorang di kala itu. Dulu dia terjatuh di sana. Jiwanya menjadi tidak tenang dan ingin selalu merundung seseorang. Jujur, dulu aku juga bisa melihat makhluk seperti kakak. Tetapi karena aku tidak bisa mengendalikan diri, jadi aku yang menjadi korban."
"Yang lain, apakah sama"
"Kalau aku, sedang berdiri di pagar itu sambil menangis karena di rundung juga. Tiba-tiba aku merasa ada yang mendorongku dan terjatuh di sana."
"Kakak, kami semua berterima kasih di sini. Atas bantuan kakak, kami bisa tenang sekarang"
"Sama-sama, semoga kalian bahagia"
Aku tersenyum kepada wajah pucat mereka dan menatap kepergian mereka. Dimas meraih kedua tanganku lalu memelukku. Aku menolaknya dan mendorongnya.
"Isshh, ini sekolah, kita harus menjaga privat"
"Jelaskan kepadaku, siapa yang kamu selamatkan dan siapa jiwa Pendendam itu"
"Namanya Dilla, dia dendam pada orang yang di rundung. Dulu, dia menyiksa orang di sini, namun malah dia yang akhirnya menjadi korbannya sendiri. Arwahnya tidak terima dan akhirnya dia mengambil arwah orang yang di rundung agar dia bisa menyiksanya juga"
"Oohh, begitu rupanya. Kok ada yang seperti itu ya"
"Kalau kau tak paham lupakan, ayo kita ke kelas"
"Kamu kelihatan pucat, kita pulang saja"
"Aku nggak papa kok, udah ayo"
__ADS_1
Aku menarik tangannya dan menuju ke kelas. Sebenarnya aku sedang tidak baik, aku amat sangat lelah, namun aku tidak mau dia khawatir, jadi aku pendam sendiri. Lagipula menurut ku, bila ada orang yang menyemangati kita di tengah kita kesulitan, rasa lelah kita dan masa sulit kita bisa terasa lebih ringan bukan? Ya itulah mengapa aku bilang tetap baik-baik saja.
//**//