
Mereka berempat terpaku di tempatnya masing-masing. Walaupun Aldo, Dimas dan Farhan tak terlihat, namun mereka ikutan panik karena ada kemungkinan besar Fiya akan dimarahi oleh papa Wendi.
"Maaf papa, ini kakak yang Bastian maksud."
Arya angkat bicara sambil berdiri di depan Fiya walaupun sambil menunduk. Fiya melirik ke kanan dan kirinya lalu memberanikan dirinya untuk ikut berbicara.
"Maaf Om, saya ke sini hanya untuk mencari Bastian. Dan saya pun tidak tau ini rumah om, jadi saya permisi."
Fiya hendak pergi, namun Bastian mencegahnya dengan tatapan memelas.
"Maaf Bastian, kakak ini pembawa sial. Kakak tidak akan dekat-dekat lagi dengan kamu. Kakak pergi ya, jaga diri kamu baik-baik."
"Jangan kakak, aku ingin kakak tetap di sini. Bahkan aku juga belum kenal kakak, tapi kakak mau pergi lagi."
"Kakak akan kasih tau lain kali. Kakak pergi ya.."
Fiya menekatkan dirinya untuk pergi dari rumah Farhan, namun baru dua langkah ia berjalan Bastian menangis. Fiya pun terhenti dan kembali memeluknya.
"Bastian, maafin kakak ya... Kalau ada waktu lagi pasti kita ketemu."
"Jangan pergi Khanza. Bastian tidak akan diam jika kamu pergi." cegah Arya.
"Kakak jangan pergi hiks.. Jangan..."
Papa Wendi hanya memijat pelipisnya dan kemudian menghampiri Bastian.
"Bastian, jangan begitu. Kamu ada kak Jennie, ada kak Maura juga guru les kamu. Masih kurang?"
"Aku maunya sama kakak baik itu... Dia nggak suka marah-marah. Berbeda dengan kak Jennie dan Maura. Mereka suka bentak-bentak." keluh Bastian.
"Jangan membantah!" bentak papa Wendi.
"B-bastian.... Kamu lebih baik masuk ke kamar kamu ya, istirahat. Kakak akan pulang."
Bastian pun memeluk Fiya. Fiya sedikit kaget dan kemudian mengelus-elus kepalanya.
"Aku maunya sama kakak baik ini."
"Om.. Kasih Khanza kesempatan untuk dekat dengan Bastian. Siapa tau dengan adanya Khanza, Bastian akan cepat menurut dan patuh." pinta Arya.
"Baiklah, tetapi kamu juga harus ikut mengawasi mereka." ucap papa Wendi.
"Iya om."
Papa Wendi pun lekas pergi dan Bastian tersenyum lebar sambil memeluk Khanza dengan erat.
"Yeayyy.... Sama kakak baik."
__ADS_1
"Iya sayang. Kakak hampir lupa, nih hadiah buat kamu." Fiya memberikan paper bag kepada Bastian dan langsung diterimanya dengan senang.
"Wah... Apa ini kak?"
"Buka aja."
Bastian berlari ke sofa dan langsung membuka hadiah yang di bawa oleh Fiya.
"Wah... Mobil-mobilan, terimakasih kakak..."
"Sama-sama sayang..."
Fiya selalu memeluk dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Dimas yang melihat tersenyum lebar, sedangkan Farhan sendiri memutar bola matanya malas.
"Hmm.. Aku di lupain." keluh Farhan.
Tak lama, seseorang datang ke rumah Bastian. Dan baby sister Bastian menyambutnya dengan baik.
"Bastian, kakak datang untuk les kamu."
"Nggak mau, aku maunya sama kakak ini." jawab Bastian menolak dengan tegas.
"Bastian, kamu harus belajar biar kamu nambah pinter. Kakak akan di sini untuk menemani kamu. Belajar yuk.."
Bastian pun mengangguk, dan baby sisternya dengan senang hati mengambilkan buku Bastian. Fiya duduk di sebelah kanannya dan Maura duduk di sebelah kirinya.
Maura mengajarkan mapel matematika dan Bastian tidak mendengarkannya, dia hanya sibuk bermain, namun Fiya selalu menasihatinya. Bastian menurut dan dengan menahan amarah Maura kembali mengajarkan mapel yang di bawanya.
"Maaf, tidak perlu kesal begitu. Anak-anak perlu waktu untuk mengingat dan berfikir. Coba aku yang jelaskan. Bastian, dalam perkalian pecahan, kamu hanya perlu mengalikan bilangan tersebut. Bilangan atas dengan yang di atas, dan di bawah juga hanya tinggal di kali kan. Seperti ini..."
Fiya mengajarinya dengan penuh ketelitian dan penuh perhatian. Fiya yang sibuk mengajarkan Bastian, di kagetkan dengan suara mama Ifa.
"Khanza? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya mama Ifa.
Bastian yang melihatnya langsung berdiri dan menghampirinya. Mama Ifa yang datang langsung memeluknya.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya mama Ifa khawatir.
"Aku nggak papa mah. Oiya mah, kenapa si mama sama papa selalu memarahi kakak baik itu. Itu adalah kakak baik yang aku temui di taman bermain kemarin mamah. Kata mama, mama mau mencarikan untuk Bastian, tapi mama kenapa marah sama kakak baik itu."
Mama Ifa hanya terpaku dan berfikir sambil melihat ke arah Fiya yang menunduk. Dia kembali melihat ke Bastian dan mengelus rambutnya lalu ke pipinya sehingga anak itu mendongak.
"Sayang, kita bicarakan ini nanti ya sama papa. Kakak itu di suruh pulang dulu. Sudah sore juga kan..."
"Tapi papa juga mengizinkan, dan yang terpenting diawasi sama kak Arya. Mama, ku mohon..." pinta Bastian dengan memelas.
"Hmm... Ya sudah, sekarang kamu lanjutkan belajar lagi."
__ADS_1
"Tapi sama kakak baik juga ya..."
"Iya, sana lanjutkan belajarmu lagi."
Bastian mengangguk dan kembali duduk di tempatnya. Mama Ifa pun menarik tangan Fiya yang sedang melihat Bastian. Fiya melihat ke arahnya dan berdiri.
"Bastian, kakak ke belakang dulu sebentar ya..."
Bastian mengangguk dan kemudian kembali mendengarkan Maura. Fiya mengikuti mama Ifa yang menggeretnya ke ruangan yang sedikit lebih jauh dari Bastian. Setelah memastikan ruangannya cukup jauh dari Bastian, dia pun melepaskan tangannya.
"Jadi kamu yang menemui anak saya di taman bermain. Mau kamu sebenarnya apa? Kenapa kau selalu mendekati keluarga saya?" tanya mama Ifa.
"Maaf tante, saya ke sini karena permintaan Bastian. Saya hanya menemuinya saja, tidak ada hal lain."
"Saya tau, tetapi apabila anak saya kenapa-napa gara-gara kamu, saya tidak akan mengijinkan kamu untuk dekat dengan anak saya Bastian. Hari ini kamu boleh dekat dengannya, dan jangan harap besok bisa dekat dengannya lagi. Bisa-bisa anak saya yang kamu jadikan tumbal selanjutnya."
Mama Ifa langsung pergi, Fiya hanya bisa menatapnya dengan iba, dan dia pun tertunduk lalu meneteskan air matanya.
"Maafkan perkataan mama aku Khanza. Kedua orangtuaku memang selalu kasar. Maka dari itu aku memilih untuk tinggal di apartemen."
Fiya mengangguk sambil mengusap air matanya. Bastian yang melihat Fiya menangispun memeluknya.
"Kakak kenapa menangis? Mama aku marahin kakak ya..."
"Nggak sayang, kakak nggak nangis. Mata kakak cuma perih."
"Oh ya.. Coba sini aku lihat."
Fiya pun jongkok di depannya. Bastian melihat matanya lekat dan kemudian meniup matanya dengan pelan.
"Sudah tidak sakit bukan." tanya Bastian.
"Nggak kok, sekarang ayo kita kembali belajar."
Bastian mengangguk dan menggandeng tangan Fiya dan kembali belajar bersama dengan Maura. Hingga pukul 5 sore, Fiya pamit bersamaan dengan papa Wendi yang pulang kerja.
"Om, tante. Saya pamit." ucap Fiya yang tak di respon siapapun.
"Bastian, kakak pamit ya... Kalau kakak ada waktu kakak main lagi." ucap Fiya.
"Iya kakak. Sering-sering main ke sini ya..."
"Nggak bisa sering-sering sayang. Kakak juga harus mengajar ekskul PMR di sekolah besok, jadi kakak nggak bisa sering-sering ke sini. Nggak papa ya... Tapi, kalau Bastian mau, Bastian bisa menghubungi kakak kapan saja. Kamu mengerti..."
"Iya kak.. Kakak hati-hati."
"Aku antar Khanza."
__ADS_1
Fiya mengangguk dan kemudian keluar dari rumah Bastian. Arya mengemudikan mobilnya di belakang Fiya dan mengantarkannya sampai ke rumahnya.
//**//