
Fiya melihat ke kanan dan kirinya secara seksama. Dan berjalan sendirian. Dimas dan yang lain juga mengikutinya.
"Fiya, kau melihat sesuatu?" tanya Dimas cemas.
"Aku peringatkan, perbanyak istigfar dan berhati-hati."
Mereka mengangguk paham dengan perkataan yang Fiya ucapkan.
"Lalu, pak Alvin, bagaimana dia?"
"Aku yakin, dia sudah terperangkap dan di bawa ke suatu tempat. Kita akan mencarinya sambil mencari anggota kelompok 5."
Mereka mencari hingga maghrib tiba. Tak terdengar sayup-sayup suara adzan berkumandang di hutan tersebut. Mereka juga memutuskan untuk berhenti sejenak sambil membangun tenda darurat.
...*****...
Anggota kelompok 5 akhirnya menemukan sebuah pondok tua.
"Lumayan, ada pondok, walaupun tua tapi bisa buat berteduh." ucap Gilang.
Tangan Ayu menarik tangan Gilang. Langkah teman-temannya juga terhenti saat Gilang juga terhenti.
"Jangan masuk."
"Tidak ada tempat lain lagi. Hari sudah semakin gelap, setidaknya kita menemukan tempat untuk berteduh." ucapnya.
"Ta-tapi.."
"Jangan takut. Ayo kita masuk."
Mereka mengangguk dan memasuki pondok kecil tersebut. Tangan Ayu gemetar, Gilang yang melihatnya meyakinkannya dengan isyarat dan menggenggam tangannya.
Mereka menumpuk tanaman obat tersebut di luar pondok dan duduk di teras. Bagas memilih duduk di depan pintu, namun saat menyenderkan badannya, pintu itu tiba-tiba terbuka.
"Aduh.."
"Hati-hati Bagas."
"Pintunya tua si, jadi kebuka sendiri. Tapi.. Liat deh temen-temen, pondoknya lumayan kok, nggak serem-serem amat. Tapi sayangnya bau busuk." ucap Bagas.
"Bau busuk?" tanya Vella dan Daisy penasaran.
"Entahlah."
Bagas kemudian menutup pintunya kembali. Ayu dan teman-temannya memilih untuk duduk dan meluruskan kaki mereka. Jelas tidak jelas, terdengar suara orang bersenandung. Ayu yang mendengarnya lekas melihat ke kanan dan kirinya.
"Kalian mendengar sesuatu?" tanya Ayu.
"Nggak ada, paling jangkrik." ucap Bagas.
"Nggak, bukan jangkrik, lebih tepatnya orang bersenandung. Masa nggak denger." ucap Ayu meyakinkan.
"Jangan nakut-nakutin kita Yu." ucap Daisy dengan tegas.
__ADS_1
"Ssssttttt..."
Gilang mengisyaratkan teman-temannya untuk diam, dan merekapun menurut. Suara tersebut pun semakin jelas seperti orang yang sedang menangis.
"Ada yang nangis, tapi dimana?" tanya Bagas.
"Entahlah. Coba kita cari, siapa tau ada anak yang tersesat."
Mereka pun bangkit, walaupun diselimuti dengan ketakutan. Ayu hanya mengikuti para laki-laki sambil melihat ke samping rumah tersebut, namun tidak mendapati apapun.
"Nggak ada apa-apa, ayo balik."
Bagas membalikkan badannya. Tubuhnya mulai merasakan gemetaran di tambah dengan bulu kuduknya yang berdiri. Gilang yang melihat Bagas mulai mundur langsung memegang tangannya.
"Eh.. Lu kenapa bengong?" tanya Gilang bingung.
"I-itu.."
Mereka melihat ke belakang dan ternyata ada sesosok makhluk berbaju putih penuh dengan darah dan setengah wajahnya yang tertutup rambut panjang dan lebat, serta setengah wajahnya lagi yang pucat juga ada darah yang mengalir dari matanya.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!"
Semuanya berteriak dan langsung berlari sekuat tenaga hingga mereka masuk ke dalam pondok tua tersebut.
...******...
Fiya mendengar jeritan di kala magrib. Fiya langsung menoleh ke suara yang ia dengar.
Dimas melihat arah pandang Fiya, begitu juga Aldi yang sedang duduk di depan tenda dengan membakar
"Enggak, memangnya apa yang kamu dengar?" tanya Dimas.
"Aku tadi seperti mendengar suara jeritan, tapi darimana itu. Aku harus mencarinya."
Dimas segera menarik tangan Fiya sebelum Fiya pergi. Fiya menghempaskan tangan Dimas dengan kasar.
"Kita sudah dekat dengan mereka Dimas, kenapa kau mencegahku?"
"Ini sudah malam Khanza, sebaiknya kita beristirahat." ucap Aldi.
"Di dalam hutan ini, malam tidak akan pernah berakhir. Percuma kita bermalam di sini, coba lihat jam kamu, sekarang pukul berapa?"
Aldi melihat jam di pergelangan tangannya dan melihatnya dan benar jam tangannya tidak berfungsi.
"Bagaimana? Berfungsi? Tidak bukan. Di sini banyak aura negatif yang menghalangi energi positif yang masuk di hutan ini. Entah karena apa, tetapi ini masih menjadi misteri."
"Fiya, sebaiknya benar, sekarang turuti kata kami. Kita bermalam di sini. Kita lanjutkan lagi besok. Jangan khawatir. Kamu ingat apa yang kamu katakan, tetap berpikir positif dan berdoalah. Jadi kamu juga harus sabar." ucap guru Olahraga.
"Iya baik pak."
"Sebaiknya kamu beristirahat di tenda, kami akan berjaga di luar." ucap Aldi.
"Tidak, kita semua harus beristirahat."ucap Fiya.
__ADS_1
"Aku akan menemani kamu, pintu tenda biarkan terbuka." ucap Dimas.
"Nggak, aku maunya di sini sama kalian. Nggak adil bila hanya aku yang beristirahat."
"Ya sudah, terserah kamu saja."
Fiya duduk di tengah-tengah antara Dimas dan Aldi. Hingga malam tiba, Fiya mulai mengantuk dan tak sadar tertidur di pundak Dimas. Fiya tidur sambil menekuk lututnya yang dingin. Dimas akan melepaskan jaketnya, namun Aldi mendahuluinya.
"Jangan bergerak, nanti dia terbangun."
Dimas mengangguk dan membenarkan jaket yang menyelimuti tubuh Fiya. Guru olahraga yang melihatnya, baru bisa bernafas lega.
"Teman kalian yang satu ini sangat keras kepala dan pemberani. Memiliki tanggung jawab dan etika, serta senang menolong orang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri walaupun dia berada dalam bahaya. Bapak yakin, kalian berdua pasti memiliki rasa kepadanya. Tetapi, bapak peringatkan jangan sampai salah satu dari kalian melukai satu sama lain, karena orang yang pasti pertama terluka adalah.. Kalian tau sendiri. Bapak peringatkan itu." ucap guru olahraga menasihati.
Dimas dan Aldi hanya mencerna perkataan guru olahraga tersebut, sambil melihat Fiya yang tertidur di pundak Dimas.
...*****...
Tanpa Ayu dan teman-temannya sadari, pagi telah tiba. Keadaan mereka tertidur di dalam pondok tersebut dengan keadaan tidur di lantai sebuah ruangan kotor.
"Dimana kita?" tanya Ayu yang sudah sadar.
Teman-temannya yang mendengarnya pun terbangun. Mereka kaget saat keadaan mereka sudah tidak karuan.
"Kenapa kita kotor sekali? Apa yang kita lakukan semalam." ucap Daisy.
Gilang juga sadar dan sudah mendapati pak Alvin bersandar di pagar kayu tua.
"Loh, pak Alvin kan."
Mereka semua langsung bangun dan melihat ke arah samping Gilang. Mereka semua berdiri dan membangunkan pak Alvin.
"Pak.. Pak Alvin.." ucap Gilang.
Pak Alvin bangun, namun dengan tatapan kosongnya. Pak Alvin pun bangun dan membuat Gilang dan yang lain bingung. Bagas dan Vella juga tiba-tiba bangun dengan tatapan kosong. Mereka keluar dari ruangan tersebut. Gilang, Ayu dan Daisy mengikuti mereka diam-diam.
"Aku rasa mereka tidak sadar." ucap Daisy.
"Sstt..."
Mereka terdiam dan mengintai di balik pagar. Pak Alvin, Bagas dan Vella duduk di sebuah meja tua. Tak lama ada seorang nenek tua datang menyajikan makanan untuk mereka.
"Kalian tak perlu bersembunyi, mari sini makan bersama." ucap nenek tua itu.
Mereka bertiga yang masih sadar langsung berbalik dan masuk kamar tempat yang tadi mereka bangun.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ayu bingung.
"Pura-pura tidur, cepat."
Mereka pun duduk dan berpura-pura tidur. Nenek tua itu datang dan hanya tersenyum, lalu menutup pintu kembali.
//**//
__ADS_1