
...Ikhlaskan untuk yang pergi. Relakanlah untuk yang meninggalkan. Karena tidak ada yang di dunia ini itu kekal, percayalah bahwa akan ada masa yang lebih indah di masa mendatang....
...~Satya Dimas Adriansyah~...
__________________________
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
.
Beberapa saat, Aku dan Dimas sampai di rumah sakit. Aku berlari menuju ke ruang gawat darurat. Mamaku tengah menangis di pelukan mama Lastri yang juga sedang menangis. Sedangkan papa Kenzo menepuk-nepuk pundak papaku. Sintya sendiri duduk sambil mengelus kedua lututnya.
Aku berjalan pelan sambil mendatangi mereka. Perasaan khawatir sekaligus cemas, letih dan lesu terasa menyerangku. Sintya yang melihatku langsung memelukku. Seketika aku berfikir, adikku baik-baik saja bukan.
Aku mendekati mamaku. Dia menangis tersedu-sedu dan membuatku juga ingin menangis. Sungguh rasanya menyayat hati saat mengingat kejadian yang menimpa adikku di pasar malam itu.
Aku menutup mataku dan aku meneteskan air mata. Aku tak bertanya kepada semua orang. Semuanya hanya sibuk menangis. Aku pun berjalan dan bersandar pada dinding di samping tempat Sintya duduk. Sedangkan Dimas duduk di samping Sintya.
Tak lama dokter keluar dari pintu. Aku terus menangis walaupun tidak sesegukan. Papaku yang melihatnya langsung menemuinya.
"Bagaimana keadaan putri saya." teriak Papaku sambil mengguncang tubuh dokter tersebut.
Dokter tersebut hanya menggeleng. Aku yang melihatnya hanya bisa menggeleng dan mengatakan dalam diam, itu tidak mungkin.
Pikiran ku kacau sekarang. Dan Papaku bertanya lagi kepada sang dokter penuh dengan penekanan.
"Bagaimana putri saya dokter." tanya Papaku.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan putri anda. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir berkata lain."
Ucapan sang dokter membuat jantungku terasa terhenti. Tak ada lagi tenaga yang mengisi. Ayahku jatuh ke lantai sambil menangis, begitu pula mamaku yang masih di pelukan mama Lastri.
__ADS_1
Aku juga terduduk di lantai sambil menangis keras.
"Itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin... Tiidaaakkk... Hiks.. Hiks.. Hiks..."
Dimas seketika memelukku untuk menguatkanku. Rasaku tambah lemas, dan ingin jatuh pingsan. Dimas juga mengelus pundakku.
"Fiya.. Fiya.. Ikhlaskan ya.. Fiya. Kamu sabar."
"Nggak mungkin... Adikku nggak mungkin tiada kan Dim.. Nggak mungkin... Hiks..."
Aku menenggelamkan wajahku di pundak Dimas sambil menangis. Mamaku yang sudah tidak tahan langsung masuk ke ruangan gawat darurat itu. Aku memilih untuk diam di sana. Hingga tangisan ku terhenti ketika mendengar suara anak kecil yang memanggilku.
"Kakak..." panggilnya dengan lembut.
Aku bangkit dari pundak Dimas dan mengusap air mataku. Dimas juga membantu mengusap air mataku. Dengan sekuat tenaga aku berdiri dan mencari asal suara itu. Aku melihat Aldo di sana dan dia bergeser ke sebelah kanan.
Seketika aku kaget dan mataku terbelalak saat melihat adikku berada di belakang Aldo. Aku berlari dan langsung memeluknya sambil berjongkok. Badannya yang dingin sedang ku peluk dengan eratnya. Wajahnya juga memancarkan aura indah dan tenang. Aku melepaskan pelukanku dan mengusap kepalanya.
"Kakak.. Aku titip mama sama papa ya. Aku nggak mau buat mama sama papa nangis. Jaga papa sama mama ya di sini. Kakak juga jangan nangis ya." ucap adikku dengan fasihnya sambil mengusap air mataku yang jatuh.
Aku memeluknya lagi. Sungguh tak kuat rasanya jika harus kehilangan adik yang masih di bawah umur 4 tahun. Dimas memelukku dari samping dan tangan kanannya di berikan kelonggaran. Aku tersenyum dan lebih mendekatkan tangan Dimas untuk lebih dekat dengan adikku hingga menyentuh rambutnya.
"Kakak melihatku kan, titip kak Fiya baik-baik ya. Aku sayang kakak." ucapnya sambil memeluk Dimas.
Dimas berdiri dan mengusap kepalanya. Tiba-tiba mamaku keluar dari ruangan itu dan langsung menemuiku. Aku belum sempat berkata, namun mamaku mengguncang tubuhku dengan keras.
"Kau melihat Sofiya bukan? Dimana dia?" tanya mamanya.
Aku melihat ke arah Sofiya dan Sofiya memberikan isyarat untuk tidak memberitahukannya kepada mamaku. Aku pasrah dan tertunduk serta menggelengkan kepalaku.
"Kau bohong. Dimana dia? Suruh dia balik lagi ke tubuhnya .... Cepat." bentak mamaku.
Aku memegang tangan mamaku dengan menahan tangis yang teramat sesak yang ku simpan di dalam bola mataku.
"Maaf mah, Sofi udah pergi. Aku nggak bisa menyuruhnya untuk kembali. Semua kehidupan dan kematian sudah berada di tangan Yang Maha Kuasa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain pasrah dan ikhlas."
Dengan berat hati, aku hanya bisa melontarkan kata-kata itu. Aku kaget dengan respon mamaku yang tiba-tiba memukul pipiku. "Plaakkk...." seketika aku menangis sambil memegang pipi kananku yang terasa nyeri.
__ADS_1
"Mama, tenang. Mama harus sabar." ucap Papaku sambil memegangi mamaku.
"Sabar mama Ova, sabar." ucap Dimas yang memegangiku.
"Dasar anak yang tidak berguna. Kau selalu membawa kesialan. Apa manfaatmu bisa melihat makhluk, sedangkan untuk mengembalikannya kau tidak bisa."
Terasa hatiku di tusuk oleh pedang saat mamaku melontarkan kata-kata itu. Aku pun balik melawannya.
"Iya memang aku salah dan tidak berguna. Aku juga gagal menjaga adikku. Tetapi, aku bukan Tuhan yang bisa mengubah segalanya."
Aku marah dan kesal dengan diriku sendiri. Aku pun meninggalkan mereka di rumah sakit tersebut. Aku keluar hingga tak sadar aku hampir tertabrak oleh ramainya lalu lintas di jalan.
"Hei, sadarlah. Kau mau mati di sini."
Aku merasa aku mengenal suaranya, tetapi itu bukan suara Dimas. Aku pun melihat ke arahnya.
"Farhan." ucapku kaget saat melihatnya.
"Dia menolongku." batin.
"Aku tau kau dukun, tetapi setidaknya jangan mati begini."
Aku menghempaskan tangan yang memegangiku. Aku pun pergi tanpa mengucapkannya terimakasih, hingga aku duduk di halte bus. Aku menangis dan aku membungkuk dan menangis di lututku.
Tak lama Dimas datang dengan napas yang terengah-engah. Dia duduk di sampingku dan mengelus punggungku.
"Ternyata di sini. Aku khawatir kamu kenapa-napa." ucap Dimas.
Aku pun bangkit dan mengusap air mataku. Dimas merangkulku dari samping dan mengelus pundakku. Dia meraih pipi kananku dan mengelusnya.
"Sabar Fiya, kata-kata mama kamu itu tidak sengaja karena dia sedang marah dan sedih. Kamu nggak usah sedih ya Hmm.. Kalau adik kamu nggak tenang bagaimana?"
Aku hanya diam, yang aku lakukan hanya menangis, menangis dan menangis tiada henti. Setiap ucapan yang Dimas katakan selalu membuatku menangis.
"Sudah, sudah.... Lebih baik aku antar kamu pulang. Kita buat persiapan pemakaman untuk besok pagi buat adik kamu. Jangan nangis lagi.. Hmm.."
Aku hanya mengangguk. Kami pun berdiri meninggalkan halte bus tersebut kembali ke parkiran rumah sakit dan meninggalkan rumah sakit tanpa pamit untuk persiapan esok hari.
__ADS_1
//**//