
Musim liburan akhir tahun telah tiba. Fiya tak memutuskan untuk kemanapun, tetapi dia memutuskan untuk menghabiskan liburan bersama dengan Bastian dan teman-teman tak terlihatnya. Feni mengajaknya ke Bali, namun Fiya menolak dan menghabiskan waktunya di rumah.
Orang tuanya juga ingin memberinya tiket untuk ke Paris selama liburan hingga tahun baru, namun dia tetap menolak karena tidak ingin jauh dengan teman-teman tak kasat matanya. Namun, yang membuatnya kecewa adalah harus pergi ke rumah Bastian secara diam-diam tanpa harus diketahui oleh kedua orang tuanya.
Kini Fiya ada di rumah Bastian, dia bermain puzzle bersama dengan Bastian. Namun, Bastian seperti tidak berselera dan juga tidak bersemangat seperti biasanya.
"Bastian, kok kamu diam?"
Tiba-tiba, Bastian menyenderkan kepalanya di lengan Fiya. Fiya sedikit kaget dan kemudian memegang keningnya.
"Hah... Dia panas.."
Kebetulan Arya datang dan mendengar Fiya mengatakan panas, dia langsung meletakkan barang belanjaannya dan menghampiri Bastian. Dia langsung membopongnya dan membawanya ke kamarnya. Begitu dia di kamar, dia langsung menelepon sang dokter pribadi keluarga Farhan. Sedangkan Fiya sendiri membantu mengompres Bastian agar demamnya reda. Dokter pun datang beberapa menit kemudian dan langsung memeriksa keadaan Bastian.
"Syukurlah, dia hanya demam dan kecapean. Tidak ada masalah serius lainnya. Dan untunglah nona ini mengompresnya. Saya akan memberikan resep obat untuk Bastian."
"Iya dokter."
Selagi dokter memberikan resep obat. Fiya dengan telaten masih mengompres kening Bastian. Lalu, Arya pun pergi mengantar dokter hingga ke depan sekaligus membeli obat yang diberikannya.
Selagi Arya pergi, orang tua Bastian pulang dan langsung ke kamar Bastian. Hanya ada Fiya dan Bastian di kamar tersebut. Fiya juga akan keluar membawa air kompresan. Dan dirinya langsung di tarik oleh papa Farhan.
"Kamu apakan anak saya?" tanyanya dengan sedikit marah.
"Farhan sakit demam om. Saya hanya mengompresnya saja." jawab Fiya.
"Kak Khanza..." panggil Bastian dengan lirih.
Ia pun menoleh kepadanya, dia terburu-buru menaruh nampan berisi kompresan di meja dan langsung berlari ke arahnya.
"Bastian, kenapa? Nanti juga sembuh kok. Dah... Kamu istirahat lagi."
Bastian mengangguk dan kemudian tertidur membelakangi Fiya.
"Khanza, sini kamu."
Mama Ifa menarik tangan Khanza dengan kasar hingga keluar dari kamar Bastian.
"Ada apa lagi tante?"
"Jawab dengan jujur, kamu apakan anak saya?" tanyanya dengan tegas.
"Saya tidak melakukan apapun kepada Bastian. Saya hanya mengompresnya saja." jawab Fiya.
"Iya tante, dia hanya mengompresnya saja. Dan dokter pun mengatakan bahwa dia hanya demam dan kelelahan. Syukurlah Khanza ada untuk mengompresnya." ucap Arya yang langsung datang saat melihat pertengkaran diantara mereka berdua.
"Udah, saya nggak mau mendengarkan alasan kalian. Khanza, sebaiknya kamu pulang, saya tidak mau berdebat denganmu lagi."
Mama Ifa merebut obat yang di pegang Arya dan masuk ke kamar Bastian. Mama Ifa menutup pintu dengan sedikit keras dan membuat mereka sedikit kaget.
"Sudahlah Khanza, ayo akan aku antarkan kamu pulang."
__ADS_1
Fiya hanya mengangguk pasrah dan mengikuti Arya dengan perasaan penuh kecewa. Begitu Fiya sampai di rumahnya, ia langsung keluar tanpa pamit kepada Arya. Dia langsung naik ke kamarnya dan berbaring di kasurnya. Tak lama, papanya datang dengan raut wajah yang marah. Fiya sedikit tersentak dan kaget sehingga dia pun berdiri.
"Ternyata kamu berbohong selama ini. Kamu ke rumah orang tua Farhan dan mengajar les adiknya kan?" tanya papanya dengan sedikit marah.
"Darimana papa tau?" tanya Fiya cemas.
"Papa selidikin kamu karena kamu selalu pulang sore hari. Papa tau kamu pergi sama Arya, tetapi bukan ke rumah Arya, tetapi ke rumah Farhan. Untuk apa kamu datang kesana?" tanya sang papa.
"Tolong papa, Khanza hanya ingin dekat dengan Bastian. Khanza tidak ada maksud lain. Karena dengan dekatnya aku dengan Bastian, aku merasa aku dekat dengan adikku lagi." jawab Fiya yang kemudian langsung menangis.
"Mulai hari ini, papa akan larang kamu keluar dari rumah. Nggak ada alasan apapun. TITIK!!"
Papa Brian langsung keluar dengan keadaan marah. Dan mamanya hanya bisa mengelus pundak putrinya untuk menenangkannya.
"Khanza, lebih baik kamu istirahatlah. Mama akan berusaha menenangkan papa kamu."
Fiya hanya mengangguk dan dia menghela nafas panjang dan berusaha menahan air matanya.
"Keluarkanlah jika ingin menangis. Tidak baik apabila kamu menahan air mata kamu. Kamu butuh pundak kan." Farhan pun duduk di sampingnya dan kemudian menepuk pundaknya.
"Sini, bersandarlah dan tumpahkan semua air mata kamu."
Fiya benar-benar menangis, dan Farhan pun akhirnya memeluk Fiya dan membiarakannya menangis tanpa bertanya sepatah katapun kepadanya hingga membuatnya tenang.
Fiya menangis hingga tertidur di pelukan Farhan. Farhan dengan hati-hati membaringkan Fiya di ranjangnya. Farhan mengelus pipinya dan kemudian menyeka air mata yang masih tersisa di kelopak matanya.
"Sungguh kasihan aku melihat dirimu tertidur setelah menangis. Aku akan selalu membuatmu bahagia dan selalu tertawa sebelum kamu tidur." batin.
Fiya berada di balkonnya bersama dengan teman-teman tak terlihatnya sambil meminum coklat panas dan membaca buku novel.
"Fiya, kamu beneran nggak kemana-mana, padahal mau tahun baru loh." ucap Dimas.
"Nggak, aku lebih memilih di rumah. Aku akan tetap bersama dengan kalian."
"Tulilit... Tulilit..." Suara telepon Fiya berbunyi mengganggu suasana tenang di balkon tersebut. Tanpa pikir panjang, Fiya mengangkatnya.
"Hallo Arya ada apa lagi?" tanya Fiya.
"Khanza, lo harus cepet ke rumah Bastian. Bastian tambah parah sakitnya, dan dia terus memanggil nama kamu."
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Secepat mungkin."
Fiya bingung harus melakukan apa sekarang. Tidak mungkin untuknya kabur melalui pintu utama, karena kemungkinan papa Brian berada di ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu. Begitu pula dengan pintu belakang.
"Ada apa Khanza?" tanya Farhan.
"Adik lo sakit. Dia terus manggil nama gue. Gue harus secepatnya kesana sekarang."
"Tenang Fiya, kami ada di sini untuk selalu ngebantu lo. Kita susun rencana terlebih dahulu."
Mereka bertiga mengangguk dan mencoba mengalihkan perhatian papa Brian. Pertama yang mereka lakukan adalah menjatuhkan pot bunga yang ada di seberang pintu.
__ADS_1
Papa Brian langsung ke sumber suara dan melihat pot yang terjatuh. Dengan segera, Fiya berlari keluar ke pintu utama. Selanjutnya adalah gerbang utama yang di jaga oleh satpam.
Dengan jahilnya, Aldo memasukan semut ke baju sang satpam. Begitu sang satpam merasa gatal, ia langsung masuk ke pos dan membuka bajunya. Fiya pun langsung berlari ke luar gerbang dan masuk ke mobil taxi online yang telah di pesan olehnya sebelumnya.
Fiya pun sampai di rumah Bastian. Dia langsung berlari ke kamar Bastian. Orang tua Bastian hanya pasrah dan mempersilahkan Fiya untuk mendekati Bastian.
"Kak Khanza... Kak..." ucap Bastian lirih.
Fiya pun mendekatinya dan langsung mengelus kepalanya. Dia mencium keningnya yang sedikit panas.
"Tenang sayang, kakak di sini. Kakak di sini sayang, kamu cepet sembuh ya. Nona, apa nona butuh sesuatu?" tanya sang pembantu di rumah Farhan.
"Saya butuh air kompres dan juga bubur. Apakah Bastian sudah makan?" tanya Fiya.
"Dari tadi siang belum non. Katanya dia mau makan sama nona."
"Baiklah, tolong ambilkan."
Sang pembantu itu mengangguk. Fiya kembali memperhatikan Bastian dan mencoba membangunkannya.
"Bastian, buka mata kamu sayang. Kakak di sini. Sekarang makan yuk."
Bastian pun bangun dan Fiya membantunya untuk duduk. Fiya memeriksa keningnya lagi yang masih panas. Dia menempelkan kompres terlebih dahulu kemudian menyuapinya bubur.
"Nggak ada rasanya ya, makanya Bastian lambat makannya. Bastian mau cepet sembuh kan biar bisa main sama kakak lagi." Bastian mengangguk. "Maka dari itu, makan yang lahan ya, biar cepet sembuh. Nih... Akk.."
Bastian pun makan dengan lahap walaupun terpaksa. Perhatian mereka teralihkan pada saat mereka mendengar keributan dari arah luar. Papa Wendi pun memutuskan untuk keluar dari kamar Bastian, begitu pula dengan yang lain.
"Sayang, tunggu di sini sebentar ya... Kakak mau keluar sebentar."
Bastian mengangguk dan membiarkan Fiya keluar. Fiya kaget, karena yang datang ternyata adalah papanya.
"Benar saja kamu ada di sini." ucap sang papa.
"Papa, jangan buat keributan di sini. Bastian lagi sakit loh di atas."
"Sekarang kamu ikut papa, kita pulang." Papa Brian menarik tangan Fiya paksa.
"Ta-tapi pah.. Pah.."
Fiya mencoba untuk melepaskan cengkeraman tangan papanya, namun karena cengkeraman tangannya kuat, Fiya kesulitan untuk kabur dari genggaman papanya.
Begitu Fiya sampai, Fiya lang berlari ke kamarnya dan menguncinya dengan rapat. Dia menangis semalaman di kamarnya.
"Khanza, udah. Kamu jangan menangis lagi."
"Aku harus bagaimana sekarang. Aku bingung. Dan... Bastian."
"Dia pasti sembuh. Dia adalah adik yang kuat. Lebih baik kamu makan malam."
Fiya menggeleng dan menyingkirkan tangan Farhan yang memegang pundaknya dan memilih berbaring di kasurnya.
__ADS_1
//**//