Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
39. Sertifikat


__ADS_3

Mereka pun keluar bersama para polisi. Bagas, Vella dan pak Alvin juga sudah sadar pada saat itu juga. Para polisi juga membawa jenazah-jenazah yang tertimpa pondok untuk diotopsi. Para arwah yang sudah tenang melambaikan tangannya kepada Fiya dan mengucapkan terimakasih kepadanya.


Saat sampai di perbatasan, Fiya dan teman-temannya di sambut oleh keluarganya.


"Mama..." ucap Fiya rindu dan memeluk mamanya.


Begitu juga dengan Aldi dan Dimas dan teman-teman mereka.


"Kamu nggak papa nak." ucap mama Ova sambil memeluk dan mengelus rambutnya.


"Ini buat yang terakhir kalinya ya, jangan ilang-ilang lagi." ucap mama Ova.


"Iya mama, maafin Fiya ya. Udah nangisnya, sebentar ya."


"Mau kemana sayang."


"Sebentar mah.."


Dia maju sehingga para orang tua melihatnya.


"Perhatian semuanya, terutama kepada bapak, ibu guru, teman-teman semua dan khususnya untuk para orangtua. Saya selaku yang mengadakan acara meminta minta maaf yang sebesar besarnya, dan karena saya putra-putri kalian menjadi dalam bahaya karena saya." ucap Fiya.


"Nggak kok, ini bukan salah kakak, ini salah kami yang tidak patuh terhadap kakak. Kakak sudah mewanti-wanti untuk tidak melewati daerah garis Kuning, tetapi kami tetap melewatinya. Maafkan kami kak." ucap Gilang mewakili teman-temannya.


"Terutama saya kak, saya minta maaf ya kak. Juga terimakasih atas bantuan kakak yang rela mengorbankan nyawa demi menemukan kami. Melawan bahaya untuk kami dan menjaga kami selalu. Terimakasih kak." ucap Vella.


"Iya nak, berkat bantuan kamu, anak kami selamat, terimakasih ya nak." ucap orang tua Vella.


Fiya hanya tersenyum mendengar perkataan anggota mereka dan orang tua mereka.


"Permisi, nak Safiya Khanza Ayunindya. Terimakasih juga atas bantuan kalian. Kalian menemukan mayat-mayat yang hilang sejak beberapa tahun terakhir. Saya harap anda dan teman-teman anda bisa datang ke kantor polisi untuk menjadi saksi."


"Baik pak. Kapan itu pak?"


"Besok saya akan ke sekolah anda. Kalau begitu saya permisi."


"Oohh.. Iya baik pak."


...*****...


Keesokan harinya, para guru menyambutnya dengan antusias. Memberikannya rangkaian bunga dan beberapa hadiah dari para anggota kelompok 5.


"Tidak perlu pak, bu. Saya ini hanya membantu dan sudah kewajiban saya menolong anggota saya, karena mereka juga tanggung jawab saya."


"Di terima saja. Ini rezeki nak." ucap orang tua Ayu.


Tak lama pula, Feni juga menyambutnya dan langsung berhambur ke pelukannya.


"Khanzaaaaa... Gue kangen sama elo. Kok lima hari lo baru balik si. Gue khawatir banget sama elo. Orang tua lo telepon ke rumah gue, empat hari bolak balik ke hutan sana kami nggak nemu lo. Lo kemana aja 5 hari, dan ngapain aja di sana." ucap Feni sambil menangis.


"Perasaan gue baru 2 hari loh Fen, bener."


"Lo kesurupan kali selama 3 hari, jadi kerasa 2 hari."


"Kalo lo nggak percaya, tanya aja sama Aldi dan Dimas. Mereka juga gitu."

__ADS_1


"Sudahlah, yang penting lo pulang. Kita temuin anggota kita dulu. Mereka udah nungguin di aula."


Mereka bergegas menuju ke aula dan benar, para anggota PMR sedang menunggunya. Fiya segera meraih microfon yang berada di depannya.


"Maaf lama. Apa benar kakak sudah lima hari nggak ketemu?" tanya Fiya.


"Iya kak.."


"Baiklah, sebelumnya kakak meminta maaf yang sebesar besarnya. Karena kakak menghilang lima hari, acara kita jadi nggak sesuai rencana. Maafkan kakak ya."


"Yang terpenting kakak semuanya selamat." ucap salah satu anggota.


Fiya tersenyum lebar mendengar perkataan salah satu anggota. Ia meminta bantuan Feni untuk mengambilkan sesuatu. Feni paham dan mengangguk lalu mengambilkannya.


"Perhatian semua, sesuai dengan janji kakak, kakak akan membagikan sertifikat untuk yang beruntung. Sebelum kakak membagikan, kalian ngapain aja di sana?"


"Nggak ngapa-ngapain kak, esok harinya kami di suruh pulang." jawab salah satu anggota.


"Oohh gitu, kita lanjutkan saja di sini sekarang. Baik, sertifikat yang pertama kakak akan berikan untuk kelompok yang aktif. Yang di panggil, salah satu maju ya..."


"Iya.."


"Di peringkat ke tiga, kakak akan berikan kepada kelompok tiga. Di peringkat ke dua, untuk kelompok 9 dan di peringkat pertama kakak akan berikan kepada....."


Fiya sengaja berhenti untuk membuat semua tegang.


"Kelompok..... Limaaa..." teriak Fiya.


Kelompok 5 paling antusias dan Gilang pun maju ke depan sebagai perwakilan. Fiya di bantu dengan Feni memberikan sertifikat kepada ketiga kelompok tersebut dan Dimas pun siap memotretnya.


"Ciiieeeeee....." Sorak teman-teman mereka.


"Di hutan bareng, maju bareng, nanti di pelaminan bareng, jangan lupa undang ya..." ledek Daisy.


Mereka berdua hanya tersipu malu sambil menerima sertifikat dan hadiah dari Fiya yaitu lencana ke-PMRan. Setelah berfoto bersama, Fiya memerintahkan mereka berdua untuk kembali ke tempat.


"Karena usaha kalian, semua nggak sia-sia dong. Kalian juga mendapatkan tanda sebagai anggota PMR, setiap ketua kelompok silahkan maju dan bagikan kepada teman-temannya."


Mereka langsung maju ke depan dan menerima pemberian dari Fiya dan Feni. Aldi dan Dimas juga ikut membantu agar para anggota tetap tertib.


Selesai acara tersebut, mereka pergi ke kantin tepat pada waktu jam istirahat pertama. Suasana pada saat itu belum terlalu ramai, karena Fiya dan teman-temannya datang lebih awal. Mereka langsung memburu bakso Dadang.


"Pak Dadang!!! Pesan bakso empat porsi." teriak Fiya sambil berlari ke warungnya.


"Astagfirullahal'azim. Loh, kamu masih hidup." ucap pak Dadang kaget.


"Isshh.. Pak Dadang nih, pengen Fiya cepet mati ya."


"Nggak lah, udah kangen ya."


"Banget lah, selama lima hari nggak ke sini."


"Kangen saya."


"Baksonya dong, kalau kangen pak Dadang, saya bisa di baku hantam istri bapak."

__ADS_1


"Eh Hmm.." suara deheman membuat Fiya gelagepan. Suara tersebut tak lain adalah Dimas.


"Dim, katanya dia kangen saya." ledek pak Dadang sambil memberikan nampan bakso lengkap dengan es teh nya.


"Biasa pak dia, suka kaya gitu kangen sama orang yang salah."


"Pak Dadang ih... Kamu malah percaya aja." Sambil menerima mangkuknya.


Fiya meninggalkan Dimas dan menyajikannya kepada teman-temannya. Dimas ikut menyusulnya, setelah dia mengembalikan nampannya.


"Gue kangen banget sama baksonya pak Dadang." ucap Feni.


"Kan lo berangkat selama 5 hari terakhir, lo kemana? Nggak makan?" tanya Fiya sambil memakan sesuap baksonya.


"Nggak lah, nggak ada kalian nggak asik tau. Gue khawatir banget kalian nggak balik, sampe gue nangis di kamar."


"Miris sekali, maap ya gue nggak ngebolehin lo ikut. Ntar kalau lo ikut gue takut lo trauma lagi kaya waktu di UKS."


"Iya, gue tau. Gue pesen lagi ah baksonya."


"Gue sekalian ya."


Feni dengan semangat mengangguk dan memanggil pak Dadang untuk mengisi mangkuk mereka lagi.


...*****...


Pada siang ini, bagian Fiya dan Dimas mengembalikan buku paket. Dimas memilih masuk sendiri ke perpustakaan agar tidak merepotkan Fiya dan Fiya pun menunggu di luar.


Baru dia berbalik, Farhan sudah berada di belakangnya dan membuat buku-buku Farhan terjatuh.


"Heh.. Lo jangan di depan pintu bisa nggak?" tanya Farhan dengan marah.


"Lo yang salah, kan lo yang nggak bilang permisi atau punten atau gimana gitu." jawab Fiya.


"Loh, lo masih idup." tanya Farhan.


"Lo pengen gue mati, tinggal bunuh gue aja, apa susahnya."


"Jangan kebanyakan omong, nih tanggung jawab beresin."


"Loh, kok gue, lo aja kali, lo kan laki."


"Malah jawab bukannya minta maaf. Kan lo tuh yang tiba-tiba mundur terus nubruk gue."


"Eh.. Emang gue tau, lo aja yang nggak bilang permisi."


"Tau ah, bukannya bantu malah nambah di bentak. Dasar cewe.." gerutu Farhan sambil memunguti buku yang terjatuh.


Di saat yang bersamaan Dimas keluar dan langsung mengajaknya pulang tanpa memedulikan Farhan.


"Dasar mereka berdua."


Farhan pun masuk ke ruang perpustakaan setelah menggerutu.


//**//

__ADS_1


__ADS_2