Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
104. Rencana dan keputusan


__ADS_3

..."Jangan pernah berkhayal terlalu tinggi, karena khayalanmu itu sebuah misteri yang akan terjadi atau tidak terjadi di masa depan nanti."...


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


__________________________


Hari-harinya di sekolah, kini dilalui tanpa Farhan. Hari-harinya di rumah pula, ia hanya jalani bersama dengan Bastian karena Farhan terlalu sibuk bersama dengan Jennie.


Hingga tak terasa, hampir berbulan - bulan lamanya mereka tak bersama dan bahkan tak ada waktu luang untuk saling bertemu hingga Dimas pun bingung harus melakukan apa. Mereka berpisah hingga semester dua berakhir, dan kini mereka sudah memasuki kelas 12.


"Kamu nggak dekat lagi sama Farhan. Kamu suka kan sama dia." tanya Dimas.


"Aku suka, tapi kalau cuma di anggap temen aku bisa apa. Lagian juga, dia pasti bisa sendiri kok tanpa aku."


Fiya hanya bisa melihatnya dari kejauhan bersama dengan orang lain. Begitu pula dengan Farhan, yang sebenarnya masih sangat ingin bersama dengan Khanza dan memulihkan ingatannya kembali.


Semakin hari, semangatnya juga ikut menurun. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tak ada yang tau Fiya akan melakukan apa untuk selanjutnya.


...*****...


Di hari ini, Farhan meminta kepada Jennie untuk membawanya ke perusahaan papanya. Permintaannya pun di turuti oleh Jennie dan mereka sepakat untuk pergi ke perusahaan papanya sore ini.


Kedatangan mereka di sambut baik oleh papa Yuda. Jennie terus menggandeng tangannya dan papa Yuda tersenyum senang kepada keromantisan keduanya.


"Dasar anak remaja. Bikin papa iri aja. Kalian baru sampai kan, yuk.. Papa akan ajak kalian ke ruangan papah." ajak papa Yuda.


Mereka berdua mengangguk dan kemudian berjalan ke ruangan ayahnya tersebut. Papa Yuda memanggil sang pegawai untuk membawakan teh untuk Farhan dan Jennie.


Farhan tersenyum miring dan ia yang sudah menyusun rencananya, pun menjalankan aksinya. Farhan ijin untuk keluar dan ia pun segera keluar dan menemui pegawai yang membawa membawakan minuman ke ruangan papa Yuda. Di kesempatan tersebut juga Farhan memanggil Dimas melalui batinnya, dan Dimas pun datang menemuinya.


"Itu ada CCTV, kamu bisa kan menghalanginya sebentar?" tanya Farhan.


"Untuk apa?" tanya Dimas.


"Aku akan berbuat sesuatu. Nanti aku jelaskan."


Dimas mengangguk dan kemudian terbang menutupi CCTV yang ada di sana. Tak lama pegawai yang membawakan minuman tersebut datang.


"Mbak mau ke ruangannya om Yuda kan.. Biar saya aja yang bawa mba. Kebetulan, saya mau ke sana. Saya pengen jadi calon menantu yang baik." ucap Farhan yang sebetulnya enggan untuk mengucapkannya.


"Oohh.. Baik tuan. Silahkan. Kalau begitu saya permisi."


Farhan mengangguk dan membiarkan pegawainya pergi. Farhan pun memberikan obat sakit perut ke dalam minuman-minuman tersebut, kecuali minuman untuk dirinya. Setelah tugasnya selesai, ia pun kembali ke dalam ruangan papa Yuda diikuti oleh Dimas. Papa Yuda dan Jennie yang melihatnya terkejut karena Farhan yang membawa minuman tersebut.


"Kan ada pegawai di sini. Kenapa kamu yang bawa?" tanya papa Yuda.


"Aku di sini untuk mencontohkan calon menantu yang baik. Jadi aku yang bawa." Sambil menyajikan minuman tersebut.


"Hahahaha... Jennie, mulai sekarang kamu harus belajar menjadi istri yang baik. Oke.."


"Iya papah..." jawab Jennie dengan malu-malu.

__ADS_1


Mereka berdua tersenyum dan kemudian mereka lekas meminum teh yang disajikan Farhan. Farhan meminumnya dengan santai, sedangkan papa Yuda dan Jennie merasakan sesuatu yang ganjal di dalam perutnya.


"Emm... Papa ijin ke kamar mandi sebentar."


Jennie yang masih belum bereaksi mengangguk, begitu pula dengan Farhan. Tak lama pula, Jennie juga merasakan sesuatu yang membuat perutnya sedikit sakit.


"Farhan, aku juga ke belakang dulu sebentar."


Farhan mengangguk dan kemudian Farhan mengangguk kepada Dimas. Dimas hanya memiringkan kepalanya bingung.


"Lo tutup lagi tuh CCTV."


"Lo mau ngapain?" tanya Dimas bingung.


"Gue mau cari sebuah bukti di sini. Siapa tau aku menemukan sesuatu dan bisa mengingatkanku tentang sesuatu."


Dimas yang baru paham segera melakukan apa yang dimaksudkannya dan Farhan lekas menggeledah ruangan tersebut. Papa Yuda dan Jennie masih sibuk bolak balik di kamar mandi.


Tak lama, Farhan menemukan sebuah berkas penting. Dia pun segera membawanya ke dalam tasnya dan kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


"Eh, lo juga harus drama perutnya sakit. Kalau lo nggak drama, orang lain pasti curiga, kenapa hanya kamu yang nggak sakit perut."


"Bener juga... Orang-orang yang deket sama Fiya kok jadi ketularan pinter ya."


Dimas menjitak kepala Farhan dan mereka berduapun keluar dari ruangan papa Yuda. Orang yang melewatinya kebingungan.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai.


"Sa-saya mau pulang. Tolong sampaikan ke om Yuda dan Jennie, perut saya sakit."


Farhan langsung berlari menuju ke lift dan segera keluar dari perusahaan tersebut.


...*****...


Fiya turun dari kamarnya untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Kebetulan, pada saat itu, Arya datang ke rumahnya. Orang tuanya pun mengajaknya sekalian untuk makan malam.


"Oiya Khanza, mungkin di kelas 12 ini, kamu tidak bisa sekolah di SMA itu lagi."


"Memangnya ada apa pah, kok Khanza tidak sekolah lagi?" tanya mamanya penasaran.


"Papa akan meresmikan sebuah perusahaan lagi di luar kota. Kalian berdua akan ikut papa kan?" tanya papanya.


"Tergantung kepada Khanza pah, kita tidak bisa memaksanya pindah ke sembarang tempat."


"Nggak papa mah, aku nggak keberatan kok. Aku setuju-setuju aja. Dan, entah kenapa penglihatan terhadap makhlukku semakin berkurang. Jadi, papa sama mama nggak perlu khawatir."


Setelah makan malam, mereka baru berbincang bersama dengan keluarga Fiya di ruang tamu.


"Ada apa gerangan kamu ke sini Arya."


"Ah ya.. Aku hampir lupa. Kedatangan saya ke sini untuk mengundang Khanza untuk menghadiri ulang tahun Farhan 3 hari lagi."

__ADS_1


Arya memberikan sebuah undangan kepada Fiya. Fiya menerimanya dan mengusapnya dengan halus.


"Om, tante. Aku permisi mau pamit pulang. Sudah malam juga."


"Iya, kamu hati-hati di jalan."


"Iya tante. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Em..mah pah, biar aku yang antar ke luar." mereka berdua mengangguk dan membiarkan Fiya mengantar Arya.


"Arya."Sebelum Arya pergi, Fiya menghentikannya langkahnya dan membuatnya berbalik ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Arya.


"Soal yang aku pindah tadi, jangan bilang sama Farhan ya... Aku yang akan memberitahukannya secara langsung bila ada waktu lain kali."


"Baiklah, aku takkan bilang hal itu. Tetapi, apakah kamu yakin kamu akan pindah?" tanya Arya.


"Iya, aku yakin. Selanjutnya kamu yang akan membantu memulihkan ingatannya. Itu pun apabila dia ingat."


"Aku akan berusaha semampuku."


Arya pamit pulang dari rumah Fiya dan Fiya kembali lagi ke kamarnya dan duduk di dekat jendela sambil meminum susu coklat sebelum memulai tidurnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bukankah hal ini terlalu sulit untuk aku jalani sendirian. Sulit untuk memulihkan ingatannya kembali."


Setelah menghabiskan susunya, ia pun mulai tidur dan berbaring di tempat tidurnya. Dimas datang dan tau apa yang sedang di rasakannya. Dimas mendekatinya dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Kenapa kamu datang?" tanya Fiya.


"Fiya, kamu harus.."


Fiya bangkit secara tiba-tiba dan menangis di hadapannya.


"Aku harus apa? Terus bersabar. Seperti itukah...Hiks.. Apakah kamu tau seberapa besar aku bertahan karena cinta yang tanpa jelas statusnya!! Sakit rasanya harus melalui kenangan sendiri...hiks...!!"


"Kamu harus bisa bertahan karena dia adalah masa depanmu."


"Dimas!! Jodoh, kematian, rezeki, itu semua adalah misteri di tangan Tuhan. Seperti kamu sekarang. Aku dulu percaya kamu adalah masa depanku, namun semuanya di patahkan oleh takdir yang tidak sejalan sesuai dengan ekspetasiku. Jadi, aku sekarang sudah tidak ingin berkorban lebih besar lagi sebelum aku terluka. Dan.. angan pernah memaksaku untuk bertahan dengan misteri Tuhan yang belum pasti sesuai dengan keinginanmu. Aku lelah..."


Fiya menunduk dan mengusap air matanya yang terus menerus keluar.


"Keluar dari kamarku sekarang, aku ingin istirahat."


Dimas pun pasrah dan pergi dari kamar Fiya dan langsung pergi ke jembatan dimana dia pernah bersama dengan Fiya. Tepat di pagar jalan tersebut, ada seseorang memakai pakaian serba hitam sedang menikmati indahnya malam tersebut.


Dimas memilih untuk diam di tempat dan menunggu hingga orang itu pergi. Namun, orang itu berbalik dan mendongak ke arahnya, dan hanya senyum miring yang ia lihat.


Dimas sedikit bingung dan mencoba mencari tahu siapa wajah di balik pria itu. Pria tersebut pun membuka penutup kepalanya dan tersenyum ke arahnya. Dimas kaget begitu laki-laki tersebut membuka penutup kepalanya.

__ADS_1


"Aldi." ucap Dimas


//**//


__ADS_2