Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
81. Guru les Bastian


__ADS_3

..."Melihat orang lain kesakitan, itu juga akan membuatku sakit. Maka yang aku lakukan adalah mengobati. Walaupun tidak sepenuhnya sembuh, tapi aku bisa membantunya menutup luka yang dideritanya."...


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


_______________________________


Rumah Bastian


Waktu makan malam, Bastian duduk di tempatnya. Mamanya mengambilkan makanan untuk dirinya seperti biasanya.


"Mah, pah.. Jadiin kak Khanza guru les Bastian yah..." pinta Bastian secara tiba-tiba.


"Kenapa harus dia? Jangan dia, papa yakin dia tidak pintar."


"Dia pintar dan baik papa, aku inginnya kak Khanza. Kalau nggak di bolehin, aku nggak mau makan." Bastian ngambek dan menyilangkan tangannya di dadanya sambil cemberut.


"Bastian, nggak boleh gitu." larang mamanya.


"Intinya Bastian nggak mau makan kalau mama sama papa nggak ngijinin kak Khanza jadi guru Bastian." Bastian hendak pergi, namun papanya geram dan menghela nafasnya kasar.


"Bastian duduk!! Baiklah, papa akan ijinkan, asal kamu nurut sama papa dan mama."


"Oke, aku makan sekarang."


Bastian duduk kembali dan langsung melahap makanan yang sudah tersaji di meja makan.


"Entah apa yang anak itu berikan kepada Bastian, sehingga dia sering memberontak."


Papa Wendi pun makan dengan terpaksa sambil melihat ke Bastian yang makan dengan lahap. Papa Wendi pun menelepon Arya setelah makan malam usai.


...******...


Di rumah Fiya sendiri, Fiya langsung berbaring di kasurnya setelah sampai di rumahnya. Tak lama, mamanya pun datang ke kamarnya.


"Kamu habis darimana saja? Kok jam segini baru pulang?" tanya mama Ova sambil berjalan ke arahnya.


"Maaf mah, aku habis ke rumah adik Farhan." Fiya duduk di ranjangnya.


"Kamu ke rumah Farhan? Kamu ngapain ke sana?" tanya mama Ova dengan sedikit tegas.


"Kemarin aku ketemu sama adik Farhan waktu aku jalan-jalan ke taman bermain. Nggak sengaja, bola anak itu ngenai kepala Fiya, terus dia takut di marahi dan akhirnya aku pun membelikannya eskrim. Terus, nggak lama Arya meminta bantuanku untuk mencarikan seorang perempuan yang di maksud adik Farhan, dan ternyata adalah aku orangnya." cerita Fiya dengan singkat.


"Kenapa harus dia? Besok-besok, kamu nggak boleh ke sana lagi. Mama takut, kamu di sakiti sama keluarga Farhan." larang sang mama.


"Tapi mah..."


"Nggak ada tapi-tapian. Dan kamu harus ingat, kalau sampai papa tau, papa akan lebih marahin kamu dan kamu pasti akan di hukum. Sekarang kamu mandi, dan bersiap makan malam."

__ADS_1


Fiya hanya pasrah dan menunduk. Fiya hendak berdiri untuk mandi, namun teleponnya berbunyi dan dia pun kembali duduk lalu mengangkat teleponnya.


"Hallo Arya, ada apa?"


"Maaf Za, lo besok di suruh ke rumah Bastian lagi. Lo jadi guru les Bastian mulai besok."


"Apa!! Bentar-bentar, gue jadi guru les Bastian. Bagus memang, rencana kita berhasil untuk masuk ke rumah Bastian dan dekat dengan keluarga Farhan, tetapi orang tua gue ngelarang gue untuk menemui Bastian. Gue harus gimana sekarang?" tanya Fiya bingung.


"Tenang, gue akan bantu lo, apapun yang terjadi. Gue harap, dengan dekatnya lo dengan orang tua Farhan, lo bisa membantu Farhan kembali pulih. Dan agar lo nggak di remehin lagi sama mereka."


"Gue nggak berharap gue di puji atau di beri tepuk tangan. Yang gue harap, gue bisa bertemu dengan temen gue itu, walaupun dia sedikit kasar, tetapi dia masih memiliki kebaikan. Ya udah, gue tutup dulu, nanti kita atur rencana setelah gue makan malam."


"Baiklah."


Fiya pun bangkit dan langsung melakukan aktivitas yang sempat tertunda karena telepon tersebut. Kemudian, ia pun turun untuk makan malam bersama.


...******...


Keesokan harinya, Fiya mengumumkan kepada anggota PMR-nya bahwa hari ini tidak bisa mengadakan pertemuan rutin dengan PMR. Sebagian siswa ada yang senang dan ada pula yang sedih karena harus menunda kegiatan rutin PMR yang diikutinya.


"Lo akhir-akhir ini kok kelihatan sibuk? Lo sebenarnya kemana si?" tanya Feni yang penasaran dengan perubahan sikap Fiya.


"Gue sibuk akhir-akhir ini karena gue sering ngunjungin perpustakaan. Gue juga lagi cari-cari materi buat di praktekin ke PMR. Gue juga lagi rajin baca buku mapel buat persiapan PAT. Walaupun masih masih semester ganjil, gue lagi pengen lebih keras usahanya. Entah karena apa, tapi gue suka dan nyaman." jawabnya berbohong.


"Kenapa lo nggak ajak gue si? Gue kan bisa pinjem beberapa novel." keluh Feni.


"Kalo lo ada masalah cerita, jangan pendem sendiri."


"Gue nggak ada masalah kok. Lo tenang aja, sekarang kita masuk kelas, sebelum telat."


Feni mengangguk walaupun sebenarnya tidak yakin dengan jawaban yang Fiya ucapkan, sehingga ia memilih untuk meng-iyakan jawaban Fiya.


Hingga pulang sekolah, Fiya menunggu seseorang datang ke halte bus di sekolahnya. Kebetulan Aldi melewatinya dan menghampiri Fiya yang sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Aldi.."


"Kamu belum pulang? Kamu naik bus, sama aku aja.."


"Nggak, gue di jemput. Lo duluan aja.."


Aldi hendak melepaskan helmnya, namun Fiya mencegahnya karena paham dia akan menunggu bersamanya.


"Jangan, lo pulang aja. Sebentar lagi gue di jemput. Jangan rela menunggu demi orang yang belum tentu bukan milikmu. Lebih baik lo pulang, sebelum dikecewakan."


Tak lama, mobil Arya pun datang dan Fiya langsung membuka pintu mobilnya dan langsung meninggalkan Aldi di tempat.


"Aarrgghh... Khanza kenapa si? Apa dia sudah menemukan yang baru?" kesal Aldi.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam mobil Fiya menunduk dan melihat ke arah luar sambil menghela nafas panjang.


"Siapa dia?" tanya Arya.


"Dia temen sekelas gue. Namun, entah mengapa hati nurani gue merasa kalau ada yang salah dengan dia. Lo tolong cari tau dia buat gue."


"Iya, sekarang kita langsung ke rumah Bastian?"


"Kita ke toko buku sebentar. Gue akan membeli beberapa buku untuk mengajar."


Aldi mengangguk dan melajukan mobilnya dengan sedikit kecepatan tinggi. Setelah membeli beberapa buku, mereka langsung pergi ke rumah Bastian. Begitu mereka sampai, mama Ova memvideo call Fiya.


"Hallo mah, ada apa?" tanya Fiya.


"Kamu dimana sekarang?"


"Di rumah temen mah, aku ada belajar kelompok hari ini."


"Cepatlah pulang dan jangan sampai maghrib ya.."


"Iya mah.."


Fiya menutup video callnya dan langsung masuk ke rumah Bastian. Bastian langsung menyambutnya dengan senang.


"Bagus kamu datang, mulai hari ini, kamu akan menjadi guru les Bastian." ucap mama Ifa.


"Iya tante, tetapi tidak dengan hari selasa, karena saya masih ada ekstrakulikuler rutin PMR." pinta Fiya.


"Itu terserah kamu dan persetujuan dari anak saya, Bastian. Kamu sekalian jagain anak saya hari ini, karena saya akan menjenguk Farhan di rumah sakit."


"Iya tante. Tante berhati-hatilah."


Mama Ifa mengacuhkannya dan Bastian melihat kedua orang di depannya dengan bingung.


"Bastian, sekarang kita les ya..."


"Tapi jangan les matematika kak, aku ingin mapel lain. Apa kakak bisa?"


"Emm... Tentu saja bisa. Kali ini kakak akan mengajarkan kamu ngaji waktu asar nanti dan sekarang kita les dulu ya... Kamu mau mapel apa?" tanya Fiya.


"Dongeng..." teriaknya semangat.


"Emm.. Em.. Em.." Fiya menggelengkan kepalanya sambil menggoyangkan jari telunjuknya.


"Tidak hari ini, kakak akan mengajarkan kamu mapel IPA. Yaitu tentang mengenal beragam jenis keunikan hewan. Pasti Bastian belum tau kan, sekarang kita duduk dan belajar. Oke..."


Bastian mengangguk dan menuruti Fiya. Arya yang melihatnya ikut senang dengan keakraban Fiya dengan adik Farhan. Tak hanya Arya saja, begitupun dengan Dimas, Aldo dan Farhan yang selalu setia mengikutinya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2