Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
21. Kamar Mandi


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan. Fiya pun meminta izin kepada teman-temannya untuk pergi kebelakang.


"Aku ke belakang dulu ya."


"Hmm.."


Mereka bertiga mengangguk dan melanjutkan makan lagi. Fiya segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Dan ketika dia di kamar mandi, dia tidak sengaja bertemu dengan Jennie dan Bianka.


"Eh dukun, kebetulan sekali dia ada di sini."


"Jennie, ada apa?"


"Nggak usah sok polos, lo tau kan gue tuh benci banget sama lo."


"Iya memang, lo benci banget sama gue. Gue udah sadar diri kok. Jadi, lo minggir. Gue mau ke luar."


"Lo nggak bisa keluar dari sini dengan mudah."


"Lo mau apa? Kita bertengkar di sini. Ya ayokk, kalau lo mau, biar makhluk yang menjadi saksi kita mati atau hidup."


"Makhluk lo bilang? Hahaha.. MANA MAKHLUK.. MANA.. SINI KELUAR KALAU BERANI. MAKHLUK OYYY.. JADI SAKSI SINI.. OYYY.. " teriak Jennie.


"Lo yang nantang, jangan sampai dia benar-benar keluar."


Dan benar, pintu kamar mandi yang tadinya terbuka lebar, tertutup dengan rapat dan terkunci dengan sendirinya. Jennie mencoba membuka gagang pintu tetapi gagal. Lampu pun tiba-tiba padam dan kemudian menyala lagi selama berkali-kali.


Jennie dan Bianka panik, sedangkan Fiya hanya menatap mereka tajam dan penuh kebencian. Jennie dan Bianka mencoba membuka pintu dan memegang gagang pintu itu, namun usahanya selalu gagal.


"Hei.. Dukun.. Buka pintunya."


Fiya hanya tersenyum miring, dan kemudian menghilang begitu saja.


"Bagaimana ini Jen.."


"Diem-diem.."


"JENNIE...."


"KENAPA??"


"I..itu."


Jennie pun melihat ke belakang, dan dia melihat arwah yang memiliki wajah yang hancur dan mata yang keluar setengah. Mereka sontak berteriak dengan keras.


"AKKKKK..."


*****


Fiya kembali tanpa ke kamar mandi, membuat teman-temannya kaget. Fiya langsung duduk di tempatnya kembali.


"Kenapa ekspresi kalian seperti itu?"


"Tadi katanya mau ke kamar mandi."


"Nggak jadi, aku cuma mau numpang cuci tangan. Kalau ke kamar mandi kelamaan jadi aku belok ke kantin pak Yono."

__ADS_1


"Oohh.."


Di saat dia akan memulai percakapan, mereka kaget saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. Semua murid heboh dan mereka beelarian ke arah sumber suara. Begitu juga mereka berempat. Fiya menyingkirkan orang-orang yang sedang berkerumun di depannya sampai dia berada di depan pintu tersebut.


Tak lama pula guru juga datang dan mereka mencoba mendobrak pintu tersebut, namun usaha mereka gagal.


"Kenapa pintu ini susah sekali di dobrak?" ucap pak Alvin.


"Pak Alvin, bisa minggir sebentar. Bolehkah saya coba."


"Tapi, bagaimana mungkin?"


"Percayalah. Tolong, kasihan anak yang di dalam."


"Baiklah, hati-hati."


Fiya hendak melangkah, namun tangannya di cegah oleh Dimas. Fiya pun menengok ke belakang dan tersenyum simpul kepadanya.


"Akan aku temani."


"Aku akan teriak, jika butuh bantuan nanti."


Fiya melepaskan tangan Dimas dan kemudian membaca sebuah mantra sambil memegangi pintu. Sekitar 2 menit, dia pun memegang gagang pintu sambil mengucap basmalah.


Dan pintu pun terbuka, dia langsung masuk. Ketika dia masuk, tanpa tak terduga pintu juga di tutup kembali. Semua yang ada di luar panik tak terkecuali dengan Dimas.


"FIYA.. FIYA..."


"Sudah nak, tunggu sebentar. Pasti Khanza bisa."


"DIAM!!"


Dimas pun terdiam, namun dengan penuh ke khawatiran tentunya. Menunggu sampai Fiya keluar. Keadaan di dalam lumayan gelap, namun masih ada sedikit pencahayaan. Fiya menyalakan lampu dan melihat Jennie dan Bianka terkapar di sana.


"Jennie, Bianka.. Bangun.."


Fiya pun berjongkok dan menepuk-nepuk pipi mereka namun tak ada respon. Tiba-tiba, lampu padam kembali. Fiya berdiri dan melihat sekeliling. Dan dia pun mendapati sesosok makhluk yang telah mengganggu Jennie dan Bianka. Fiya langsung menutupi matanya dengan lengannya karena wajah makhluk tersebut.


"Aku tau kau marah. Aku tau kau dendam. Namun, bisakah kau menjadi wujud orang lain. Aku tak bisa berbicara denganmu kalau begini."


Dia pun berubah dan menjadi diri Fiya. Fiya bingung apa yang di maksud dengan dirinya.


"Kenapa kau merubah wujudmu menjadi aku?"


"Karena, mereka ingin mencelakaimu mu. Aku tidak suka."


"Iya memang dia begitu membenciku, namun.. Kau tidak seharusnya membuat mereka takut."


"Jika kau di posisi ku, apa yang akan kau lakukan? Ketidak adilan, selalu di fitnah dan di salahkan, di rundung setiap saat. Dan di siksa di ruangan ini? Apa kau akan diam."


"Percayalah, Allah akan membalas semuanya. Kamu tidak usah khawatir. Jika kau yang membalasnya di dunia ini. Kau sama saja seperti mereka yang selalu merundung orang lain. Sebaiknya kau pergi ke alam mu."


"Sedangkan kamu sendiri selalu di bully olehnya, aku sungguh benci hal itu."


"Iya memang, namun tak apa. Kau tak perlu khawatirkan diriku. Pulang saja ke alammu yang lebih layak dari ini. Aku percaya kau orang baik."

__ADS_1


Fiya memegang tangannya yang begitu dingin, dan dia pun berubah wujud menjadi dirinya. Dia tersenyum lalu mengelus tangan Fiya yang begitu hangat.


"Tanganmu sangat hangat dan ini adalah pertama kalinya, aku bisa mendapatkan kehangatan dari orang yang begitu kuat. Aku percaya kamu bisa."


Fiya pun tersenyum dan memeluknya. "Iya aku bisa kok."


Fiya melepaskan pelukannya dan kembali memegang tangannya.


"Maaf ya sudah merepotkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan datang membantu jika kau membutuhkanku. Sampai jumpa."


"Hmm.."


Dia melihat arwah itu pergi ke sisi yang terang. Setelah dia menghilang dia kembali menyalakan lampu dan membuka pintu kamar mandi tersebut. Semua pandangan langsung tertuju kepadanya.


"Fiya.." ucap Dimas.


"Khanza."


"Kamu tak apa?"


"Aku tak apa pak. Tapi tolong orang yang di dalam."


Para guru pun lekas masuk dan membawa Jennie dan Bianka ke UKS. Semua siswa yang penasaran pun berpindah mengikuti pasien yang di bawa.


Dimas masih tertuju pada seseorang yang di sampingnya dengan khawatir. Lalu Dimas pun reflek memeluknya. Jantung Fiya juga sudah tak karuan sebenarnya. Namun, itu membuatnya terpaku dan tak bisa berbuat apapun.


"Khanza,.. Khanza kamu tak apa?" tanya Feni khawatir.


"Iya, aku tak apa."


"Benar tak apa Za?" tanya Aldi memastikan.


"Iya aku tak apa."


Aldi memegang jidatnya, Fiya terdiam, namun dengan cepat Dimas menyingkirkan tangannya.


"Fiya, siapa tadi yang di dalam."


"Jennie dan Bianka."


"Oohh.." ucap Feni singkat


"Sebaiknya kita ke kelas."


Dimas memegang tangan Fiya dan Fiya melepasnya kembali.


"Aku ingin melihat mereka."


"Apa yang kau pikirkan. Mereka pasti ingin mencelakaimu, tapi beruntung makhluk itu yang membantumu. Kalau tidak mereka tidak akan pingsan seperti itu."


"Sudah diam. Masih ada keganjalan di sana. Aku harus pergi. Yang mau ikut, aku persilahkan, dan yang tidak setuju, maka ku persilahkan untuk pergi."


Dia langsung pergi. Aldi tetap teguh menjaga Fiya, sedangkan Dimas mengacak rambutnya kasar dan terpaksa mengikutinya.


"Aku tak ingin kau terluka Fiya, kenapa kau selalu teguh untuk membantu orang lain." batin.

__ADS_1


//**//


__ADS_2