
...Jangan sampai air matamu menghentikan kepergian seseorang yang telah tiada. Relakanlah dan bahagialah....
...~Satya Dimas Adriansyah ~...
______________________
Kalian tau aku dimana? Kalian pasti berfikir aku telah pergi meninggalkan Fiya yang sedang menangisiku.
Kalian salah....
Aku masih setia berada di samping Fiya. Dari malam itu hingga sekarang. Namun, aku bersembunyi dari pandangannya dan area yang terlalu dekat dengannya.
FLASHBACK ON
"Apa yang harus aku lakukan?"
Aku bingung melihat Fiya terkapar di tengah jalan. Sedangkan diriku sekarang bukanlah manusia lagi, aku hanya arwah yang tidak tenang karena tidak tega harus meninggalkan sahabatku sendiri yang terus menerus menangis karena diriku.
Fiya jatuh tepat di depan mobil seseorang, untungnya orang itu berhenti dan lekas keluar dari mobilnya. Dan ternyata yang mengendarai mobil tersebut adalah Farhan.
Aku memperhatikannya dan bersyukurnya aku, kalau Fiya di bawanya. Aku tak tinggal diam, aku juga masuk ke mobilnya untuk memastikan kemana Farhan membawa Fiya pergi.
"Dimas... Aku.. Aku.. Benci... Padamu... Ku harap kau tidak tenang... Karena.. Kau meninggalkanku..."
Kata kata Fiya yang mengigau, seperti umpatan untukku walaupun dia dalam keadaan tertidur. Aku benar-benar tidak tenang dan tidak fokus dengan diriku sendiri. Namun, apa dayaku yang sekarang sudah menjadi arwah sekarang.
Farhan membawa Fiya ke sebuah tempat mewah nan tinggi. Farhan membopongnya dan membawanya ke kamarnya karena tak ada lagi ruangan yang tersisa di apartemen itu.
Farhan langsung menelepon resepsionisnya dan menyuruhnya untuk membawakan baju untuk Fiya dan menggantinya. Otomatis aku pun keluar dari kamar tersebut setelah orang yang di suruh Farhan datang.
"Farhan, apa dia pemilik apartemen ini? Kenapa dia menyuruhnya dan semua perkataannya pun di turuti olehnya. Aku juga akan cari tau semua ini." ucapku.
Setelah resepsionis itu keluar, aku kembali masuk dan melihat Fiya di baringkan di ranjang besar milik Farhan, dan Farhan sendiri tidur di sofa yang panjang.
Aku mendekati ranjang Fiya dan mengelus rambutnya. Hangat seperti biasanya. Dia sedikit bergerak kedinginan kala aku mengelus rambutnya.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Aku tidak bisa memberinya kehangatan yang selalu aku berikan kepadanya seperti sebelumnya.
Aku pun akhirnya duduk di sampingnya dan tertidur di tempat yang sedikit longgar di ranjang yang di tempatinya.
Hingga keesokan harinya..
Aku bangun ketika mencium bau harum dari dapur. Aku menembus pintu dan melihat Farhan sedang memasak dengan geniusnya. Aku berdecak kagum, karena dia memasak seperti orang yang profesional.
Aku melihat dari sampingnya, setelah dia selesai, dia berjalan ke luar pintu dan mengambil paper bag yang tergeletak di depan pintu. Dia membawanya ke kamar dan aku kembali mengikutinya. Dia masuk ke kamar mandi setelah meletakkan makanannya di meja.
Tak lama, dia keluar lagi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Mataku melotot saat melihat lekukan badannya yang begitu menonjol. Aku juga melihat diriku sendiri dan meraba perut dan dadaku.
"Waah... Aku kalah ternyata.."
Aku melihatnya mengambil baju di lemari pakaian dan kembali masuk ke kamar. Pandanganku teralihkan kepada Fiya yang bangun dari tidurnya, aku segera berlari bersembunyi di balik lemari tadi.
Aku mengintip dari celah celah dan melihat Fiya tengah memakan makanan yang Farhan masak. Aku sedikit tersenyum ke arahnya.
"Dasar bocah." ucapku dalam hati
Kemudian, Farhan keluar dari kamar mandi dan langsung menghampirinya dengan ekspresi wajah yang marah.
Fiya kaget dan tersedak, aku sedikit geram. Dan aku khawatir jika Farhan akan lebih kejam kepada Fiya.
"Loh, setan Farhan. Kok lo di sini. Lo di syurga ?juga." ucap Fiya yang mendapat selentikan di kepalanya.
Entah kenapa aku tersenyum melihatnya. Aku pikir dia akan menjambaknya seperti dulu, namun.. Sekarang responnya berbeda.
"Ah aduhhh.." rintih Fiya.
"Surga.. Surga... Gue belum mati ya, ini apartemen gue. Udah numpang, makan makanan orang segala, sana lo masakin buat gue." ucap Farhan sambil membentak Fiya.
Aku melihatnya tiba-tiba menunduk dan menangis, aku sangat ingin menyeka air matanya, namun pasti Fiya bisa melihatku.
"Eh.. Pake drama nangis segala. Sana masak sendiri." ucap Farhan tidak suka.
"Lo kenapa mesti selamatin gue? Kenapa lo nggak ngebiarin gue di jalanan dan kedinginan biar gue mati. Hiks.. Kenapaaaaa... Hiks.. Kenapaaaa..." ucap Fiya sambil menangis.
__ADS_1
"Gue udah nggak kuat lagi idup di dunia ini. Hiks.. Gue... Hiks.. menjadi merasa serba salah terus di sini.. Hiks... . Lo malah selamatin gue.. Hiks... Gue nggak mau idup... Lagiiiiii...." lanjutnya.
"Lo aja nggak mau gue di sini... Hiks... Gue memang merepotkan..hiks.. , gue nggak ada tempat... Hiks.. yang tepat di dunia ini....hiks...Nggak ada temen, nggak punya saudara....hikss...di jauhi keluarga gue sendiri. Di benci temen-temen gue...hiks.. , terus gue idup buat apa..hikss... Mending gue mati..." ucap Fiya dengan serius karena berputus asa.
Fiya keluar menuju balkon. Farhan pun tak tinggal diam dan mencengkeram tangan Fiya dengan kuat.
"Lo nggak boleh nekat.. Dasar gila.." umpatnya.
Aku yang melihat respon Fiya yang seperti itu, membuatku sangat ngilu. Aku khawatir dia nekat, beruntunglah Farhan mencegahnya dan berhasil menenangkannya.
Farhan meninggalkannya di apartemen. Aku was was dia akan nekat, namun yang dia lakukan adalah membersihkan dirinya dan ruangan kamar tersebut.
Dia sangat rajin, seperti wanita yang ku kenal. Bisa memasak juga keahliannya. Dan siapapun yang memilikinya, pasti akan sangat beruntung. Sayangnya diriku sudah tiada dan sudah tak bernyawa. Hingga apa dayalah diriku yang sudah menjadi arwah bergentayangan.
Dan, aku tak sadar Farhan pulang sekolah dan langsung memakan makanan yang Fiya masak. Aku sungguh iri melihatnya.
Farhan masuk ke kamarnya dan Fiya duduk sambil memakan camilan. Tiba-tiba, berita tentang kecelakaan ku kembali di beritakan. Bersamaan dengan itu, Farhan keluar dari kamarnya dan langsung mematikan televisi
Aku melihat ke arah Fiya dan dia langsung meletakkan makanannya dan kembali menangis sambil menekuk kakinya di atas sofa. Aku tak tinggal diam, dan mengambil kesempatan saat Farhan bingung dan pikirannya kosong.
Aku masuk ke tubuhnya dan langsung memeluk Fiya. Perasaan yang sangat membuatku tidak tega untuk meninggalkannya masuk ke raga yang bukan tubuhku. Aku mengelus rambutnya dan menangis karena tak tahan.
"Maaf kan aku, maafkan aku..." ucapku.
"Kenapa kau memelukku?..hiks.. Kau seperti Dimas... Hiks.. Lepaskan..." ucap Fiya sambil menepuk dada raga yang ku masuki.
"Kau harus tenang, ada aku di sini... Kau tidak boleh membuat Dimas sedih... Emm... Maksudku Satya..." ucapku sambil mengelap air mataku.
"Jika kau terus menangis seperti ini, kau akan membuat Satya tidak tenang di alamnya." ucapku.
"Jadi kau harus tenang.. " ucapku lagi.
Dia mengangguk dan terus aku peluk. Aku sadar, ini bukan tubuhku dan aku pun keluar dari tubuh Farhan di sisi belakang Fiya.
Aku terus memegangi tangannya agar tidak melepaskan pelukannya. Hingga setelah merasa Fiya tenang aku melepaskan tangan Farhan di punggungnya.
Aku membiarkan mereka berdua dan memberikan kesempatan untuk Farhan berbicara kepada Fiya. Namun, semua itu membuatnya mereka canggung.
__ADS_1
Aku bingung dengan apa yang aku lakukan, sehingga aku diam berdiri di belakang mereka berdua yang sedang menonton film kartun.
//**//