Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
62. Ke rumah Mbah Parjo


__ADS_3

...Jagalah dia yang membantumu dan meminta bantuanmu....


...~Satya Dimas Adriansyah~...


_____________________


Saat kedatangan Aldi dan Feni, Dimas merasakan kejanggalan di dalam diri Aldi. Dia bersembunyi di balik keranjang kosong di sebelah Fiya yang di batasi dengan tirai, sehingga Fiya tak bisa melihatnya, mungkin.


Di saat Fiya tertawa, Fiya tak sengaja melirik ke tirai di sebelah kanannya. Dia menyipitkan matanya dan ingin melihat di balik tirai tersebut.


"Eh.. Apakah di sana ada orang? Kalian jangan berisik.." perintah Fiya.


Aldi pun melihat di balik tirai dan reflek Dimas menghilang. Aldi tersenyum simpul dan kemudian membuka tirai tersebut.


"Nggak ada apa-apa kok." jawabnya sambil membuka tirai.


"Ya udah, di buka aja. Eh..."


"Kenapa?" tanya mama Ova.


Sepasang mata Fiya tidak pernah salah. Makhluk kecil sedang tertidur pulas di atas ranjang tersebut, namun Fiya menahannya agar teman-temannya tidak tau kelebihannya.


"Sebaiknya kalian pulanglah sebelum waktunya terlalu larut. Lagipula juga kalian pulang sekolah langsung ke sini." ucap Fiya yang dimengerti oleh Aldi.


Mereka pun pamit dan pulang. Seperti biasa, Aldi mengantarkan Feni pulang hingga ke rumahnya.


Aldi sampai di rumahnya dan langsung ke kamarnya. Dia melemparkan tas dan langsung menggebrak meja rias yang ada di kamarnya.


"Sial... Ternyata dia belum pergi sepenuhnya. Bagaimana caraku menghilangkannya sepenuhnya?" gerutunya.


...******...


Sementara itu..


Farhan sudah kembali ke apartemennya, dia langsung menghubungi Arya begitu dia sampai. Farhan duduk di sofa sambil mengutak atik laptopnya.


Sekitar 15 menit, orang yang di tunggu pun datang. Farhan melihat ke arahnya sekilas dan kembali menatap layar laptopnya.


"Buatin gue jus jeruk, ngga pake lama."


Belum duduk dan belum menutup pintu kamar bahkan belum memberi salam, Arya harus kembali keluar dan membuatnya jus. Namun, bagi Arya itu sudah menjadi kebiasaannya.


Setelah Arya selesai membuat jus, dia pun langsung masuk ke kamarnya dan menaruhnya di meja di depan tempat duduk Farhan. Arya juga ikut duduk setelah meletakkan jusnya.


"Kenapa bos nyuruh gue kesini?" tanyanya.


Farhan pun menutup laptopnya dan mengambil jus buatan Arya lalu meneguknya dan meletakkannya kembali. Farhan menghela nafas panjang dan menepuk bahu Arya.


"Kejadian itu terjadi lagi bro." ucapnya tanpa basa basi.


"Maksudnya, lo ngelakuin hal nggak sadar lagi?" tanyanya.


"Iya, gue lagi jalan sama Jennie, terus liat Khanza jatuh, gue bengong bentar dan tau tau udah di rumah sakit. Tangan gue pegang tangan dia lagi.."


"Kayaknya bener sama yang gue pikirin, Dimas yang merasuki tubuh gue ketika gue lengah. Karena, gue nggak suka sama dia, tiba-tiba gue jadi deket sama dia. Terus mama Khanza cerita ke gue kalau sikapku dan sifatku mirip sama Dimas." jelas Farhan yang di jawab anggukan oleh Arya.


Kini Dimas tidak sedang bersama Fiya, namun tepat di depannya, namun ia tak memperlihatkan dirinya kepada Farhan dan Arya. Dimas hanya tersenyum mendengar perkataan mereka.


"Emang bener gue pinjam raga lo."


Perkataan itu terdengar oleh Farhan, sehingga ia celingak celinguk ke sana kemari mencari sumber suara yang ia dengar.


"Lo nyari apa bos?" tanya Arya bingung.

__ADS_1


"Lo nggak denger tadi ada yang ngomong? Jelas banget lagi.." jawabnya yang masih sibuk melihat penjuru ruangannya.


"Nggak bos."


"Gue di sini."


Dimas memperlihatkan dirinya dan Farhan pun menengok ke arahnya. Sontak Farhan ketakutan dan langsung berteriak.


"Setttaaannnnnnnn......"


...*****...


Di rumah kediaman orang tua Farhan.


Jennie tengah mengadu pada orang tua Farhan. Dia menangis dengan air mata buayanya di pelukan mama Farhan. Keluarga mereka tengah berkumpul bersama untuk merundingkan masalah yang diadukan oleh Jennie.


"Tante... Farhan menyukai orang lain.. Hiks.. Hiks.."


"Memangnya dengan siapa Jennie?" tanya Juan geram.


"Dengan dukun... Hiks.. Hiks.."


"Dukun? Maksud kamu Khanza." tanya papa Wendi ayah dari Farhan.


"Iya, orang yang di kabarkan membuat orang di sekitarnya tertimpa masalah dan musibah. Itu si dukun, makanya nggak ada yang mau berteman dan deket-deket sama dia kecuali dua temannya itu."


Mereka memandang satu sama lain. Bingung dengan pernyataan Jennie.


"Emang bener?" tanya mama Ifa, mama dari Farhan.


"Iya tante, duh.. Parah deh tuh anak. Dan dia pasti pake pelet karena udah membuat Farhan suka sama dia. Buktinya dia deket-deket sama dia, terus aku gimana.... Huuhuuhuu..."


"Dasar Farhan..." Juan kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


"Memang jaman sekarang ada yang namanya dukun beneran? Pasti bohong lah.." jawab papa Yuda, papa Jennie.


"Ih papa, ada lah... Kita tanya aja sekarang, kebanyakan dukun di pelosok desa, yuk pah.. Mah.. Aku juga takut Farhan kenapa-napa." pintanya manja.


Mereka pun mengangguk setuju dan lekas membawa barang mereka masing-masing untuk mencari seorang dukun.


Pertama yang mereka lakukan adalah bertanya dengan warga sekitar di desa yang tersedia. Hingga akhirnya, mereka menemukan rumahnya.


Mereka menemukan sebuah rumah tua milik Mbah Parjo yang terletak di desa Sua (Sumur tua). Berdinding gedeg¹ dengan luas tanah yang sekitar hanya dua petak dan tentunya sedikit angker.


Papa Wendi sebagai perwakilan memasuki rumah tua tersebut. Yang lainnya hanya mengikuti sambil celingak celinguk ketakutan.


"Permisi..." Papa Wendi mengucapkan permisi, tiba-tiba kemudian pintunya terbuka dengan sendirinya.


Tampilannya berjenggot panjang dan tebal, kumis yang juga panjang dan lebar, terdapat pula beberapa sesajen yang tersedia di depannya, membuat siapapun gemetaran. Aura yang sudah tidak sedap dari aroma menyan² yang di bakar.


"Duduk.." perintah sang dukun saat keluarga Farhan dan Jennie sudah berada di depan sang dukun itu persis.


Mereka semua menurut dan duduk. Mbah Parjo melirik ke arah mereka dan mengelus janggut panjangnya dengan tangan kanannya. Dia duduk tegap dengan kaki sila dan tangan kanannya sambil menyipratkan air di depan kendi yang tersedia.


"Pasti kalian membutuhkan bantuan.." ucap sang dukun.


Keluarga tersebut saling memandang kagum karena mereka belum mengatakan sepatah katapun.


"I-iya mbah, kami meminta bantuan untuk.."


"Di jauhkan dari seseorang bukan?" lanjutnya.


Mereka yang mendengarnya begitu kagum saat dukun itu langsung mengetahuinya.

__ADS_1


"I-iya Mbah, saya ingin putra saya terhindar dari Khanza temannya dan untuk kembali dengan Putri saya Jennie." ucap papa Yuda.


Mbah dukun tersebut manggut manggut dan mengaduk-aduk kendi yang berisi air tersebut.


"Ini mantranya sangat kuat dan kalian harus membayarnya mahal agar itu terjadi dalam satu hari." pintanya.


Papa Wendi mengerti dan langsung mengeluarkan uang senilai 10 juta Cash. Mata sang dukun tersebut berbinar dan langsung mengejapkan matanya sambil berkomat-kamit dan mengaduk-aduk kendi tersebut hingga mengeluarkan asap. Tangannya bergetar dan kemudian dia langsung membuka matanya.


"Mantranya sangat kuat, sepertinya saya tidak sanggup untuk melanjutkannya." pasrah sangat dukun.


Akhirnya, papa Yuda mengeluarkan ATM nya yang berisi sekitar 100 juta dan memberikannya kepada sang dukun.


"Lakukan apa saja mbah, yang terpenting anak itu bisa kembali kepada kami dan tidak terpengaruh oleh mantra kuatnya lagi." ucap papa Yuda.


"Baik.."


Sang dukun tersebut melakukan hal yang sama dan kemudian asap tersebut semakin keluar dari kendi. Sang dukun tersebut merasa kelelahan dan kemudian terjungkal ke belakang. Papa Wendi dan papa Yuda hendak beranjak dari tempat duduknya, namun sang dukun tersebut memberikan isyarat bahwa dia baik-baik saja.


"Tunggulah hingga esok hari, dia akan kembali dengan anak kalian."


"Sekarang apa lagi Mbah?" tanya mama Ulfa.


"Sekarang kalian pulanglah, semua sudah selesai." jawabnya.


"Emm.. Mbah..." ucap mama Ulfa yang membuat semua orang teralihkan kepadanya.


"Mbah, saya mau gadaikan emas bisa?" tanya mama Ulfa.


"Oohh... Tentu saja bisa..." jawab sang dukun dengan senang hati.


Mama Ulfa yang mendengarnya langsung mengeluarkan isi emas yang ada di dalam tas nya, kemudian memberikannya kepada sang dukun.


"Tolong gadaikan 10 kali lipat ya Mbah, 10%nya nanti buat mbah. Em.. Ngomong-ngomong, kapan saya bisa ambil mbah?" tanya mama Ulfa semangat.


"Saya akan kirimkan besok sore dalam 24 jam emas itu akan datang ke rumah anda. Bisa tolong tulis alamatnya?" tanya sang dukun sambil memberikan secarik kertas.


Mama Ulfa dengan senang dan gembira menuliskan alamat rumahnya dan kemudian memberikannya kepada sang dukun.


"Ini mbah."


"Baiklah, semua sudah selesai, kalian silahkan kembali pulang."


Mereka mengangguk dan langsung keluar dari rumah tua tersebut lalu kembali ke kediaman orang tua Farhan.


__________




Gedeg adalah anyaman dari bambu yang di buat untuk pagar rumah.




Menyan / Kemenyan adalah getah (eksudat) kering, yang dihasilkan dengan menoreh batang pohon kemenyan ; terutama S. benzoin Dryand. dan S. paralelloneurus Perkins). Resin yang kering berupa keping-keping putih atau keputihan, yang terbenam dalam massa coklat bening keabuan atau kemerahan, keras namun rapuh, dan berbau ( sumber : Wikipedia. Com)




//**//

__ADS_1


__ADS_2