Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
105. Rumah kematian


__ADS_3

Dua hari menjelang ulang tahun Farhan, Fiya dan Feni sibuk di mall untuk membeli gaun yang akan dikenakan mereka saat ulang tahunnya.


"Eh Khanza, lo mau bawa kado dia apa?" tanya Feni.


"Adadeh... Udah yuk cepetan."


Feni terpaksa menurutinya tanpa bertanya lagi kepada Fiya. Setelah mereka memilah beberapa gaun dan baju, mereka pun berbelanja untuk diri mereka sendiri.


"Yang couple yuk biar cantik." pinta Feni.


Fiya berpikir sejenak dan langsung menyetujuinya. Mereka membeli beberapa fashion yang sama. Setelah mereka selesai, mereka pun memutuskan untuk pulang. Fiya mengantarkannya hingga ke rumah Feni.


Sebelum ia sampai di rumahnya, ia membeli beberapa bahan yang akan dijadikannya sebagai kado untuk Farhan. Begitu Fiya sampai di rumahnya, ia langsung menyusun sebuah kado untuk Farhan.


Di tengah ia menyusun, ia bingung harus bagaimana cara menatanya. Fiya memanggil nama Dimas beberapa kali, namun Dimas tidak muncul dan membuatnya bingung sekaligus cemas.


"Dimas dimana si? Kok dia nggak ke sini."


Di tengah ia berfikir, mamanya datang ke kamarnya dengan sebuah kotak yang di pegang di tangannya dan meletakkannya di meja kamar Fiya.


"Ada paket buat kamu."


Fiya mengerutkan dahinya bingung, karena ia tidak memesan apapun. Dia pun langsung mengambil kotak tersebut dan membukanya. Sedangkan mamanya sendiri langsung turun dari kamarnya.


Ada secarik surat di dalamnya yang berlumuran dengan darah. Fiya sedikit bingung dan kaget ketika melihatnya. Dan karena ia penasaran, ia pun membuka surat tersebut.


..."Blok 13B Pinggir sungai Nawai"...


...Silahkan kunjungi tempat ini, apabila kamu menginginkan Dimas untuk selamat....


Fiya kaget dan juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia pun langsung menelepon Arya.


"Hallo Arya, ke rumahku sekarang. Aku butuh bantuanmu. Ini sungguh sangat penting."


Arya yang mendengar suara Fiya seperti seseorang ketakutan dan panik, juga ikut panik. Dan dia pun lekas mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumahnya dan langsung menuju ke rumah Fiya.


Fiya sendiri langsung bersiap dan keluar dari rumahnya tanpa berpamitan. Fiya langsung berlari hingga ke depan gerbang rumahnya. Sang satpam rumahnya pun mencegatnya keluar.


"Eh non... Non mau kemana? Kayaknya terburu-buru."


"Maaf pak, bilang sama mama. Aku pergi sama Arya. Ada urusan mendadak dan penting. Tolong ya pak... Saya permisi. Assalamualaikum."


"Eh..iya non, Wa'alaikumsalam."


Fiya pun langsung keluar dari gerbang dan berlari sampai keluar pinggir jalan. Tak lama, Arya sampai dan Fiya pun langsung membuka pintu mobil Arya.


"Kenapa kamu harus menunggu di sini? Memangnya ada apa?" tanya Arya cemas.


"Bawa aku ke alamat ini."


Fiya menunjukkan secarik kertas yang di teeimanya. Arya sedikit kaget dan bingung karena di kertas tersebut ada noda merah.


"Kenapa ada noda merah? Maksudnya apa ini?" tanya Arya semakin bingung.

__ADS_1


"Fokus saja pada tulisannya."


Arya melihat tulisan tersebut dan membacanya secara detail. "Blok 13B, pinggir sungai Nawai. Silahkan kunjungi tempat ini, apabila kamu menginginkan Dimas untuk selamat."


Arya mencoba mencerna isi pesan singkat tersebut. "Maksud kamu.. Dimas di culik?" tanya Arya memastikan.


"Selain itu apalagi. Surat ini datang dalam bentuk paket. Sekarang jangan banyak berfikir lagi, ayo ke tempat ini sekarang."


Arya mengangguk dan menyalakan mobilnya. Dan mereka langsung mencari alamat yang tertera pada kertas tersebut.


Sekitar 20 menit mencari alamat tersebut, akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah tua dan letaknya jauh dari jalan raya yang membuat mereka berdua memilih untuk jalan kaki. Rumah tersebut juga terletak di samping sungai dan tepatnya seperti di tengah sebuah hutan kecil.


"Di sini?" tanya Fiya kepada Arya.


"Khanza, aku tidak yakin hari ini. Kata penduduk sekitar, kita tidak boleh ke sini bukan?"


"Entahlah, auranya sangat tidak enak di sini. Aku tidak yakin pula."


Fiya pun berjalan lurus ke depan, namun tiba-tiba seorang anak kecil. Fiya sedikit tersentak dan kaget karena anak itu kelihatan sangat pucat dan juga memiliki tatapan kosong. Anak itu menggeleng dan membuat Fiya bingung.


Arya yang baru sadar Fiya hanya diam di tempat sambil melihat ke arah depannya seakan sedang bertanya dengan seseorang.


"Apa ada seseorang Khanza?" tanya Arya kemudian.


Fiya mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat kepada Arya untuk diam terlebih dahulu.


"Maksud kamu, kami tidak boleh masuk?" anak itu mengangguk dan membuat Fiya semakin bingung.


"Kenapa? Kakak harus menyelamatkan teman kakak di dalam sana. Jadi, kakak harus masuk. Maaf ya..."


"Ada apa lagi Khanza?" tanya Arya.


"Mereka menghalangi kita masuk. Sebenarnya ada apa ini. Apakah mungkin mereka melarang kita untuk masuk karena berbahaya atau karena perintah dari pengirim surat ini yang menghalanginya kita masuk?" tanya Fiya.


"Aku tidak bisa melihat apa-apa di sini."


"Sudahlah... Biarkan aku saja yang melihatnya. Kamu diam saja."


Fiya pun berjongkok dan memegang pundak seorang anak perempuan yang ada di depannya tersebut.


"Maaf ya dek, kakak harus masuk. Kakak harus menyelamatkan teman kakak di dalam."


"Selamatkan orang tua kami..." pinta anak kecil tersebut.


Fiya menoleh ke arah Arya yang sedang berdiri, dan Arya hanya menggidikkan bahunya tidak tau.


"Orang tua kalian?" mereka semua mengangguk. Fiya mengelus kepala anak tersebut dan tersenyum.


"Baiklah, kakak akan menyelamatkan orang tua kalian, tapi kalian juga bisa kan bantu kakak nanti."


Mereka mengangguk dan mempersilahkan Fiya masuk. Fiya membuka pintu utama rumah tersebut. Begitu pintu di buka, semua keadaannya gelap. Mereka sengaja membuka lebar pintu tersebut, namun begitu mereka masuk pintu langsung tertutup dengan sendirinya.


"Bbbrruukk..."

__ADS_1


Mereka berdua kaget terutama untuk Fiya. Fiya menggenggam tangan Arya dengan erat dan merasa tenaganya berkurang. Arya memahaminya dan ia pun mengelus punggungnya.


"Kuat Khanza... Khanza, buatlah aku bisa melihat makhluk lagi." ucapnya.


"Jika aku membuatmu melihat makhluk, itu juga akan membuat tenaga ku lebih berkurang nanti."


Arya mengangguk paham dan mengikuti Fiya berjalan tanpa melepaskan tangan Fiya yang mulai mendingin. Ketika mereka masuk ke ruang utama yang begitu tua dan seperti rumah setengah jadi, mereka mendapati Dimas yang diikat di tiang dan dikelilingi oleh lilin yang menyala.


"Dimas..." panggil Fiya lirih.


Arya juga melihat ke arah dimana Dimas diikat.


"Arwah bisa di ikat?" batin nya heran.


Fiya hendak berlari ke arah Dimas yang mulai bangun namun, Arya langsung memegang tangannya.


"Jangan dulu... Kita belum tau ada apa lagi selanjutnya. Aku yang di depan, kamu harus sabar."


Fiya mengangguk paham dan mengikuti langkah Arya. Mereka berjalan ke arah Dimas, namun Dimas menggeleng memerintahkan untuk tidak mendekatinya. Namun, tidak dipedulikan oleh mereka berdua.


Begitu mereka sampai di tengah tempat tersebut, seseorang menepuk nepuk tangannya dan membuat Arya dan Fiya menoleh ke arahnya. Mereka yang berjalan sambil mengendap-endap kaget ketika melihat orang tidak asing duduk di sebuah kursi.


"Aldi..." ucap Arya dan Fiya bersamaan.


"Waah... Selamat selamat datang kalian di rumah kematian."


Ucapannya yang begitu menyeramkan membuat jantung Fiya bergetar dan merinding.


"Lepaskan Dimas sekarang!!" teriak Fiya.


"Lepaskan? Tidak semudah itu Khanza... Cara melepaskannya pun butuh kunci untuk membukanya. Dan kau tak akan pernah tau bagaimana cara untuk membuka kuncinya."


"Jangan berbuat seperti ini lagi. Aku mohon, jangan membuat orang lain pergi lagi. Aku tidak mau kehilangan mereka. Kalau kau mau, ambilah nyawaku saja." pinta Fiya yang memohon sambil berlutut menghadap Aldi.


"Khanza, sebaiknya kamu bangun. Jangan bertekuk lutut begini."


Fiya menggeleng dan menangis dengan keras. "Aldi, aku mohon lepasin Dimas. Aku tau kamu sakit hati. Tapi jangan sakiti Dimas, dia nggak salah. Aku yang salah karena tidak memahami perasaan kamu. Lepaskan dia Aldi.... Hiks.. Ku mohon..."


"Orang yang sudah mati, seharusnya tetap mati. Dan nggak berkeliaran bebas seperti dia. Dia itu menyusahkan..."


"Kamu tidak tau bagaimana seorang sahabat yang selalu disisiku selama ini. Dia sahabatku, soal cinta, tidak perlu dilibatkan dalam hal itu."


"Sangat mustahil diantara kedua seorang wanita dan Pria itu bersahabat. Kamu suka sama dia lebih dari sekedar sahabat bukan!!"


Fiya mengepalkan tangannya dengan erat dan mendongak. "IYA.. AKU MENCINTAINYA LEBIH DARI SEORANG SAHABAT. PUAS!!" teriak Fiya dengan keras.


"Sekarang, lepaskan dia, dan juga orang tua anak-anak yang ada di luar sana!" pinta Fiya tegas.


"Itu tidak semudah dengan apa yang kamu pikirkan Khanza. Jika kamu ingin orang tua anak-anak di luar sana bebas dari rumah ini, salah satu dari kalian berdua harus mengorbankan diri kalian.... Hihihi.."


"Bbraaakkk..." Terdengar suara dobrakan pintu dari luar. Fiya dan Arya menengok ke arah tersebut. Dan Aldi hanya tersenyum miring. Tak lama, seseorang muncul dan membuat mereka heran.


"Farhan!!"

__ADS_1


//**//


__ADS_2