
Hal yang terlewati memang hanya akan menjadi sebuah kenangan. Begitu pula dengan yang Fiya rasakan saat ini. Tak ada sapaan atau gandeng tangan yang selalu di jumpainya setiap hari bersama dengan Farhan walaupun itu bukan raganya, melainkan hanya sebuah arwah.
Di perpustakaan merupakan tempat Fiya untuk bersantai. Hari ini Fiya sendirian dan tak ada yang menemaninya karena Feni ijin mengunjungi kerabatnya yang meninggal di luar kota. Dan akhirnya dia memilih untuk beristirahat di perpustakaan sendirian saat jam istirahat dan di temani setia oleh Dimas.
Dari kejauhan, Fiya melihat Farhan membawa buku begitu banyak sehingga menutupi wajahnya. Fiya yang melihatnya kesulitan langsung meletakkan bukun novel yang sedang di pegangnya dan beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Farhan.
"Ahh.. Sial banget, kenapa juga mesti gue yang kalah taruhan dan harus bawa buku-buku ini, berat lagi." gerutu Farhan kesal.
Tiba-tiba Fiya langsung mengambil buku itu hingga setengah. Farhan kaget dan mengerutkan dahinya bingung saat ke arahnya.
"Dia kenapa? Paling cuma caper... " batin.
Farhan langsung melauinya tanpa berbicara kepada Fiya. Mereka berdua meletakkan buku tersebut di raknya kembali. Tiba-tiba, sebuah buku hendak menjatuhi Fiya. Farhan yang tepat sudah selesai pun langsung menariknya hingga ke pelukannya.
Fiya otomatis mendongak ke atas, dan Farhan menunduk melihat Fiya. Dan tepat pada saat itu pula, Jennie melihatnya dan langsung memisahkan mereka berdua.
"Heh... Keterlaluan banget lo ya... Pake peluk-peluk tunangan gue segala lagi. Sadar diri dong..." bentak Jennie sambil mendorongnya.
"Gue cuma bantu dia doang, dia tuh narik gue karena buku di atas jatuh, liat itu."
Jennie melihat ke arah yang di tunjuk oleh Fiya dan Jennie yang sudah terlanjur kesal langsung menarik Farhan dari perpustakaan tersebut. Farhan yang merasa tak nyaman langsung melepaskan tangannya di depan perpustakaan.
"Lo siapa gue... Berani-beraninya lo narik tangan gue, lagian dia juga udah bantuin gue."
"Sejak kapan lo jadi bela dia? Oohh... Atau jangan-jangan lo udah terkena pelet si dukun itu." fitnah Jennie.
"Diem lo... Ngoceh mulu kaya burung beo, beruntung burung beo suaranya bagus, lah lo teriak-teriak kaya orang kesurupan."
"Whaatt..!!"
Farhan langsung meninggalkan Jennie di tempat dan memilih pergi ke atap sendirian. Dia memandang pemandangan dari atas sambil memasukan kedua tangannya ke dalam sakunya. Dia mengingat hal yang baru saja terjadi bersama dengan Fiya.
__ADS_1
"Kenapa di mataku dia lain. Matanya seperti pernah ku lihat sebelumnya, perasaan pun juga merasakan tak jauh dari dirinya, aku... Aku merindukannya... Tetapi bagaimana mungkin aku merindukan seseorang yang aku benci. Dan.. Kenapa aku memikirkan dia." batin.
Dia melihat ke bawah dan melihat gelang yang ada di pergelangan tangannya. Dia melihatnya dengan seksama. Tak sengaja Fiya juga mengunjungi atap. Fiya langsung mendapati Farhan di tempat tersebut dan mendatanginya.
"Kenapa kamu ke sini? Kamu ingat sesuatu?" tanya Fiya yang membuat Farhan menengok ke arahnya.
"Ngapain lo ke sini?"
"Lo pikir ini cuma sekolah lo, gue ke sini karena gue tuh bingung mau kemana. Dan gue ke sini juga karena merindukan seseorang."
"Lo curhat? Lebih baik jangan sama gue."
Farhan langsung meninggalkannya begitu saja dan Fiya langsung menunduk.
"Liam..." panggil Fiya.
Farhan berhenti dan tiba-tiba ada beberapa bayangan buram yang tergambar di pikirkannya dan membuatnya tiba-tiba merasa pusing. Fiya yang melihat Farhan memegangi kepalanya langsung mendekatinya.
Farhan langsung menyingkirkan tangan Fiya yang memegangi dirinya dan langsung meninggalkannya begitu saja. Fiya yang paham akan maksudnya hanya diam di tempat dan duduk di kursi yang ada. Dimas yang masih setia menemaninya juga bingung harus berbuat apa kepadanya.
"Kamu merindukan dia bukan?" tanya Dimas.
"Hmm.. Mengapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Fiya balik.
"Jelas terlihat dari mata kamu. Kamu ibaratkan bintang yang kehilangan bulan pada malam hari. Gelap dan suram. Dan karena saat aku melihatmu tersenyum bersama dengan Farhan kalian seperti bulan dan bintang pada saat malam yang menghiasi malam yang suram. Dan pada intinya kalian saling membutuhkan."
"Kami saling membutuhkan pun kami tidak bisa bersama bukan? Lagipula dia juga sudah melupakan aku."
Fiya pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi dari atap sekolah tersebut ke kelasnya.
Pulang sekolah, Fiya mendapatkan pesan dari supirnya dan kedua orang tuanya bahwa mereka tidak bisa menjemputnya.
__ADS_1
..."Khanza, ini mamah. Mama sama pada mungkin pulang agak malam, soalnya mama dan papa masih ada urusan di luar. Kamu pulang panggil supir taksi aja ya.."...
Mungkin sepertinya itu pesan singkatnya dan Fiya memutar bola matanya dan hanya menjawab "Iya." saja.
Cuaca yang kebetulan tidak mendukung, tiba-tiba saja hujan. Dia mentupi kepalanya dengan tasnya dan langsung berlari ke halte bus yang ada di depan sekolah. Anehnya, tidak ada seorang pun yang ke sana, hanya ada dia yang membuatnya hanya bingung, namun bersikap bodo amat.
Dia memesan taksi online, namun tiada driver yang kosong. Dia mencoba beberapa kali, namun tetap tidak bisa ia temukan. Sungguh berasa seperti hari kesialan untuk Fiya karena tidak ada keberuntungan yang berpihak kepada dirinya.
Gerimis masih melanda sekolahnya, terlihat dari jauh Farhan keluar dari gerbang sekolah. Farhan yang juga melihat Fiya duduk di halte bus sambil bersandar tiang penyangga halte tersebut.
Entah apa yang terjadi dengan Farhan ia pun berhenti tepat di depannya. Farhan membuka helmnya dan membuat Fiya bingung dengan Farhan yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Lo nggak pulang? Lo harus ngajarin adik gue kantor?" tanya Farhan.
"Nggak, gue libur. Dan sekarang gue lagi nunggu bus sekolah."
Fiya berusaha menghindari tatapan matanya sambil melihat ke kanan dan kirinya berharap akan ada orang lain yang menjemputnya.
"Lo nggak tau, supir busnya sakit dari kemarin dan dia tidak berangkat hari ini." jelas Farhan.
"Loh... Kok bisa. Terus gue pulangnya gimana dong ... " keluh Fiya khawatir.
"Lo bareng gue aja, kasian gue liat lo kaya monyet hilang. Cepetan naik sebelum hujan datang lagi." perintah Dimas.
"Nggak, nggak perlu." tolak Fiya.
Akhirnya Farhan pun turun dari motornya dan melepaskan jaketnya lalu tiba-tiba memakaikannya kepada Fiya. Dimas menarik tangannya hingga ke samping motornya.
"Udah cepetan naik, nanti hujannya tambah deras. Kaga ada penolakan dan sekarang lo naik ke motor gue."
Fiya yang merasa kaku melihat Farhan hanya bisa menelan salivanya kasar dan naik ke motornya secara terpaksa dan mengikuti apa kemauannya.
__ADS_1