
..." Percayalah... Semua yang terjadi bersama dengan takdir yang kejam dan pahit, pasti akan berbunga indah dan manis. Jangan pernah mengeluh dengan takdirmu, karena masih banyak takdir yang lebih pahit yang dialami oleh orang lain daripada takdir yang dialami oleh dirimu. Yang sebenarnya, semua yang menjalani takdir di dunia, sama rata di mata Sang Maha Kuasa."...
...~Safiya Khanza Ayunindya & Satya Dimas Adriansyah ~...
_____________________________
Keesokan harinya, Fiya berangkat tak sendiri. Dia selalu diikuti oleh ketiga arwah bergentayangan yang tak lain adalah Dimas, Farhan dan Aldo yang tentu saja membuatnya risih. Fiya melihat ke belakang dan mereka bertiga sibuk sendiri. Fiya menghentakkan kakinya dan kemudian berlari menuju ke lift. Begitu dia sampai di atap, dia bernafas lega. Dan kemudian melihat ke belakang lagi untuk menuju ke kelas, namun mereka bertiga sudah berada tepat di depannya. Aldo berdiri di tengah-tengah Farhan dan Dimas dan paling pendek di antara keduanya.
"Hei... Sampai kapan kalian membuntuti ku seperti ini. Aku yang tidak nyaman! Dan kau Aldo, kenapa kamu juga ikutan mereka coba!!" gerutu Fiya dengan kesal.
Aldo melihat Farhan dan Dimas kemudian menunduk karena merasa bersalah sambil memainkan jari jemarinya.
"Kalau diikuti Aldo saja tak masalah. Dan kalian berdua!! Kenapa mengikutiku? Dasar hantu tidak punya pekerjaan." gerutu Fiya kembali.
"Hei.. Aku bukan hantu. Aku hanya jiwa yang raganya tergeletak di rumah sakit." jawab Farhan dengan ketus dan marah karena dihina hantu oleh Fiya.
Fiya memutar bola matanya malas. Dan memutar mutar kakinya lalu menghentakkannya.
"Makanya balik sana, jangan ikutin gue!!" jawab Fiya nambah ketus.
Fiya berbalik namun tangan Dimas memegang pergelangan tangan Fiya dengan erat untuk mencegahnya pergi.
"Lepasin tangan gue atau nggak.... " ucap Fiya secara halus, padahal dirinya sangat ingin berteriak.
"Bisa tinggalin kami sendiri." pinta Dimas sambil melihat ke arah Farhan dan Aldo. Mereka berdua yang mengerti pun menggangguk dan menghilang entah kemana.
__ADS_1
"Lepasin tangan gue!!" berontak Fiya yang sudah mulai emosi. Fiya melihat Dimas dengan penuh amarah dan meninggalkannya pergi.
"Kamu marah sama aku kan? Kamu tak perlu membenci mereka, kamu hanya perlu membenciku saja."
Perkataan Dimas membuat langkah kesal Fiya terhenti. Fiya sebenarnya sudah menahan air matanya, namun perkataan Dimas membuatnya menangis. Dia pun berbalik dan melihat Dimas yang menunduk.
"Lalu... Apa yang harus aku lakukan... Hah!!?? Kepergianmu membuatku lemah, tak berdaya dan risau. Kamu pergi tanpa pamit juga pergi tanpa kembali dengan raga. Apakah kamu tidak tau isi hatiku atau kau memang bodoh!! Atau aku yang bodoh!! JAWAB!!"
Fiya pun terduduk di lantai sambil menunduk dan menangis. Dimas juga tak tega melihatnya menangis, akhirnya dia mendekat dan memeluknya.
"Maafkan aku harus meninggalkanmu. Aku tau ini berat untukmu. Bukan hanya dirimu, tetapi juga untukku. Namun, takdir menentang kita untuk bersama. Aku tidak bodoh, begitu pula kamu. Aku tau isi hati kamu, karena aku yang lebih mengenalimu dari kecil, dari umur lima tahun hingga sebesar ini."
Dimaa menangis di pundak Fiya, dan segera mengusapnya. Dimas pun memegang pundak Fiya untuk melepaskan pelukannya. Dimas juga mengusap air mata Fiya.
Fiya yang tadinya menunduk, terpaksa mendongak dan menatap mata Dimas. Fiya merasakan berat di kepalanya yang rasanya tak mampu untuk melihat dan menatap mata Dimas, namun Dimas memegang kepalanya.
"Dengarkan aku. Kamu adalah Fiya ku yang kuat. Kamu adalah Fiya ku yang pintar dan cerdas, serta selalu berpikir positif. Ingatlah ini, jika aku terpisah darimu, berarti Tuhan akan memberimu sahabat yang lebih baik dari diriku. Pendamping yang baik lebih dari diriku dan tentunya bisa menguatkan kamu."
Dimas berucap dengan lembut dan membuat air mata Fiya tak berhenti untuk menetes.
"Tuhan memanggilku, karena aku harus istirahat, dan tentunya karena kamu bukan milikku. Perasaan kita sama, hati kita sama, dan kita juga satu tujuan yang sama. Namun, apalah daya kita yang hanya sebagai seorang manusia. Kita tidak dapat melawan takdir dan skenario yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa. Jika bisa pun, skenario yang dibuat akan di rubah dan berakibat lebih parah dari yang kita bayangkan."
"Ingat Fiya, ini bukan film layar lebar, bukan novel dan bukan skenario dari tangan orang yang bisa di ubah kapan saja dan semaunya. Dan satu hal lagi yang kamu harus ingat. Skenario yang Tuhan buat akan lebih indah dari apa yang kita inginkan dan kita harapkan. Lika-liku yang dibuat akan lebih panjang dan rumit. Jadi, jalanilah kehidupan kita masing-masing, karena beginilah takdir dan skenario yang dibuat untuk kita, jadi terimalah."
Fiya menatapnya penuh dengan pencernaan dan perenungan. Fiya kembali memeluk Dimas dan menangis sejadi-jadinya. Begitu banyak hal yang ingin dia lontarkan, namun semua terhapus bersamaan dengan air mata yang mengalir dari matanya.
__ADS_1
"Kamu takdirku atau bukan. Kamu tetaplah sahabat terbaikku yang sudah menjadi bintang. Terimakasih telah menemaniku hingga akhir waktu hidupmu. Bahkan, kamu masih setia menemaniku hingga kini. Dan mungkin, inilah takdirku karena memiliki kelebihan. Agar aku senantiasa bisa melihatmu walaupun tidak bisa aku gapai."
"Benar, kamu sudah paham sekarang. Namun, jika aku pergi tetap sebut namaku dalam doamu. Doamu menyelamatkanku dan membuat diriku ini sejuk."
"Itu pasti dan akan selalu aku ingat. Terimakasih banyak sahabat bintangku."
Dimas melepaskan pelukannya dan kemudian memegang kedua pipinya dan tak lupa mencium keningnya.
"Sekarang sudah lega bukan? Namun, kali ini carilah sahabat baru yang mau mendengarkanmu. Jangan cari aku lagi."
"Apa kamu akan pergi sekarang?"
"Aku tidak akan pergi sekarang. Aku akan pergi dengan pamit suatu saat nanti. Namun kali ini, kamu harus menemukan sahabat yang baru, walaupun tidak sebaik diriku. Dan dalam perjalanan ini, aku akan membantumu untuk menemukannya."
"Hemm.. terimakasih sudah selalu menemaniku dan membantuku. Aku tak ingin lagi merepotkan dirimu dan secepatnya aku akan menemukan sahabat baruku. Aku juga berpesan untukmu, mungkin jodohmu juga sudah di atas sana, dan aku tidak mau membuat jodohmu yang di langit menunggu lama."
"Hehehe... Bisa aja kamu. Udah... Sekarang, kamu masuk ke kelas. Cuci mukamu dulu.."
Dimas mengusap kedua pipinya dan membantunya berdiri. Dimas juga menyelipkan rambutnya yang masuk ke mulut karena tertimpa angin.
"Sekarang masuk ke kelas walaupun sudah terlambat. Aku yakin kamu tidak akan di hukum. Maka dari itu ayo cepat masuk."
Fiya tersenyum dan mengangguk lalu berlari menuju ke pintu keluar dari atap. Dimas yang melihatnya juga merasa lega karena Fiya tak begitu frustrasi dari sebelumnya.
//**//
__ADS_1