
"Semua bersiap, seraaanggg!!!" perintah Kaisar
Semua pasukan keluar dari semua kapal dan langsung menyerbu benteng kerajaan Qin, ada diantara mereka yang berkuda dan barisan terdepan menggunakan gajah untuk mendobrak benteng pertahanan kerajaan Qin tersebut.
Braakk!
Seketika pintu benteng yang begitu kokoh hancur oleh terjangan beberapa ekor gajah.
Semua prajurit masuk tanpa kesulitan dan mereka langsung berhadapan dengan prajurit kerajaan Qin yang telah bersiap di depan mata.
"Seraanggg!!" teriak Anming memberi komando dengan penuh semangat. Mereka pun saling bertarung menggunakan senjata yang mereka bawa.
Panah beterbangan dari kedua belah pihak, terjangan para kuda dan dentingan bunyi pedang beradu dengan cepat dan kuat begitu memekakkan telinga. Kekuatan benar-benar imbang, meskipun jumlah tentara Qin hanya sepertiga tentara Matahari namun mereka mampu mengimbangi kekuatan mereka.
Anming menggunakan dua pedangnya untuk menebas prajurit musuh. Pedang itu tidaklah besar dan panjang tapi ketajamannya begitu sempurna hingga kecepatan tebasannya mampu memotong apapun yang mengenainya. Memang benar saran Hana pada Anming, senjata yang tepat adalah bukan dari besar kecil ukurannya. Tapi kenyamanan dan teknik penguasaan yang tepat akan membuat si pengguna senjata akan sangat diperhitungkan. Keluwesan Anming sangat menyulitkan pergerakan musuh-musuhnya sehingga banyak prajurit kerajaan Matahari mati dengan mudah di tangan Anming.
Pemandangan peperangan yang lain memperlihatkan dua orang pria yang bertarung sengit mereka adalah Tian Zhang dan pangeran Zhang, kekuatan mereka benar-benar sepadan. Sementara amarah Kaisar meluap melihat banyaknya prajurit pilihannya yang gugur begitu mudahnya dengan segera menarik pelana kudanya mendekati arena peperangan.
"Taiyang, biar Ibu yang mengurus untukmu." ucap Ibu Suri yang ikut berkuda mendekati Taiyang.
Kaisar begitu terkejut dengan puluhan prajurit bermuka pucat yang berada tepat di belakang Ibu Suri. 'Siapa mereka?' batin Taiyang. Ia tidak mengira Ibunya memiliki pasukan khusus dan mengapa rata-rata dari mereka berwajah pucat.
__ADS_1
"Cepat bereskan orang-orang itu." perintah Ibu Suri
Seketika pasukan berwajah pucat itu merangsek masuk dan menghabisi prajurit Qin dengan mudahnya. Mereka tak hanya memakai pedang tapi juga gigi dan kuku mereka. Mereka sangat buas melebihi singa-singa yang kelaparan. Salah satu dari mereka menyerang Anming hendak menggigit pundaknya, dengan cepat Anming berbalik dan menebas lengan prajurit itu sampai putus tapi sayangnya prajurit pucat itu tak menunjukkan wajah kesakitan. Ia terlihat marah dan hendak menyerang Anming kembali.
"Mundur!" perintah Hana sambil membantu menyerang prajurit pucat agar anak buahnya terbebas dari serangan para monster itu.
Sementara beberapa prajurit kerajaan Qin yang lain belum sempat menyelamatkan diri. Mereka bernasib naas, walaupun mereka sudah berupaya mundur dan melawan dengan menusuk prajurit pucat itu berkali-kali tetap saja prajurit itu tak terpengaruh. Mereka dengan mudah mengoyak tubuh prajurit lawannya itu dengan mencabik perut mereka menggunakan kuku-kukunya yang tajam hingga isi perut mereka keluar secara paksa menyebabkan tanah rerumputan banjir oleh darah. Sungguh mengerikan!!
Para prajurit pucat itu dengan pandainya dapat mengenali kelompoknya sendiri. Pasti Ibu Suri menyuruh seluruh prajuritnya menggunakan aroma khusus yang dapat dikenali sebagai kelompoknya sehingga hanya prajurit yang tidak memiliki aroma yang diserangnya.
Prajurit yang dipimpin Anming terjebak oleh sekumpulan prajurit pucat.
"Cepat lari!!!" teriak Hana lagi pada prajuritnya dan dengan cepat menembakkan kembang api ke atas langit kemudian berlari meninggalkan tempat itu.
Kembang api itu Hana nyalakan untuk membuat zat di dalamnya beterbangan ke udara.
Rrrrr gumam prajurit pucat itu mengendus-endus dan seakan terhipnotis mendengar suara ledakan di langit.
Itu adalah zat yang membuat kesadaran seseorang pulih. Hana memiliki harapan dengan tersebarnya zat itu para singa akan bangun dan memangsa siapa pun yang ada disana karena kelaparan. Namun bonusnya adalah jika para prajurit pucat itu kemudian sadar dan tak terpengaruh lagi oleh aroma itu maka ia akan membunuh siapapun yang berada di dekatnya. Hanya itulah perkiraan Hana meskipun ia tidak yakin tapi ia akan berusaha melindungi para prajurit kerajaan Qin yang tersisa.
"Dasar bodoh!" maki Ibu Suri melihat kebodohan para prajurit buatannya itu.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian...
Para prajurit pucat itu rupanya terpengaruh, mereka mengendus-endus kemudian memangsa prajurit Matahari dengan kejam tanpa ampun.
Kaisar bergidik ngeri melihatnya, ia pun memundurkan kudanya.
"Ibu, monster apa yang Anda ciptakan." ucapnya pada Ibu Suri
Rupanya dari arah belakang Kaisar terdengar suara auman singa yang keras. Tampaknya mereka bangun dari tidurnya dan kini sangat kelaparan.
Haum...haum..haum
Merasa seolah terkepung dengan sekumpulan monster dan binatang buas, kaisar segera melompat dari atas kudanya dan menaiki tembok benteng kerajaan Qin. Kuda yang ia naiki segera berlari kencang karena ketakutan sama persis dengan pemiliknya.
Terdengar auman singa-singa itu mendekat dan memasuki benteng itu karena mencium bau darah yang menggugah selera makan makannya. Mereka berlari cepat dan memangsa siapapun termasuk prajurit pucat yang saat itu menyerang prajurit Kerajaan Matahari. Genangan darah segar tampak dimana-mana. Jumlah tentara Matahari hanya tinggal puluhan saja bahkan prajurit pucat kebanggaan Ibu Suri telah lenyap dimangsa para singa yang kini kekenyangan. Para Singa itu pun pergi setelah menyantap mangsanya.
Taiyang memandang dari kejauhan "Dimana Ibu?" tanyanya yang keheranan melihat Ibunya dengan cepat menghilang. Tentara kerajaan Qin pun sudah tak terlihat, kini hanya menyisakan pemandangan mengerikan dimana-mana potongan-potongan tubuh bahkan organ dalam tercecer tak bertuan.
Melihat kondisi yang telah aman, Kaisar segera turun dan berjalan menyusuri tanah lapang untuk menemui para prajuritnya.
"Lapor Kaisar. Apa tindakan kita selanjutnya?" tanya Pangeran Zhang yang berhasil selamat
__ADS_1
...........................