
He hua hari ini memakan sarapannya dengan lahap yang mencengangkan 3 mangkuk bekas sarapan paginya telah menghiasi meja makan mereka. Dua pasang mata lainnya melihat satu sama lain memperhatikan namun tak berani bertanya. Chen long membatin 'Ah apakah aku terlalu keras padanya?' Memang terakhir kali berlatih waktu itu He hua menjadi pendiam dan tidak mau bicara sampai 2 hari ini ia tetap tidak mau bicara setiap Chen long mendekatinya dan mengajaknya untuk 'membicarakannya' pada akhirnya He hua hanya menatapnya tanpa berbicara sedikitpun. 2 hari itu pula selera makan He hua meningkat, berbeda dengan wanita kebanyakan yang menjaga pola makan agar terlihat cantik dan langsing. He hua sebaliknya ia terus-menerus makan menghabiskan 3 sampai 4 mangkuk setiap kali mereka makan.
Bagaimana dengan Ling ling jelas ia tahu bagaimana sifat He hua 'Mei mei sedang kesal!' itu yang akan dijawab Ling ling jika Chen long mau bertanya padanya. Akhirnya makan pagi telah selesai dan mereka pun bergegas untuk sama-sama saling membantu untuk membersihkannya.
4 jam kemudian
Nampaklah seorang wanita berpakaian seperti laki-laki berlatih dengan sangat keras bersama seorang pria. Kulit putihnya sangat kontras dengan pakaian hitam yang dipakainya. Peluh di dahinya mewarnai wajah cantiknya dan membuat wajah gadis itu sedikit memerah. Tiba-tiba Chen long menurunkan pedangnya dan berkata "Cukup, istirahatlah dulu kita lanjutkan lagi nanti."
He hua menurut, ia duduk di bawah pohon rindang untuk beristirahat sebentar kemudian mengambil sapu tangan berwarna merah muda dari balik pakaiannya dan menghapus keringatnya.
Tak berapa lama Chen long datang duduk disampingnya dan memberikannya segelas air pada He hua. "Minumlah!"
He hua menatap Chen long kemudian ia mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas itu tak sengaja jemari tangan mereka sedikit bertemu.
"Maaf aku tak sengaja" ucap pria itu tulus.
Helaan nafas berat tak sengaja kabur dari bibir He hua saat mendengar ucapan laki-laki itu.
"Ya" ucap gadis itu singkat.
Setidaknya He hua mau menanggapi ucapan pria itu walaupun hanya sedikit.
Ling ling melihat dari kejauhan dan mengingat bagaimana sebelumnya ia memberitahukan Chen long semuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada He hua akhir-akhir ini.
Saat akan memulai kembali latihannya mereka mendengar suara kaki kuda mendekat ke arah mereka.
Tabib Ji terperangah melihat putrinya berpakaian seperti itu dan memegang pedang seperti seorang prajurit terlatih. Namun ia menghilangkan wajah keterkejutannya dan menggantinya dengan senyuman.
"Ayah" ucap He hua mendekati tabib Ji yang sedang mengikat kudanya.
Chen long menatap dengan penuh makna pada He hua 'Ia dengan cepat menerima tuan sebagai Ayah nya dan suara panggilannya itu begitu tulus terdengar.
"Ayah lama sekali." rengek He hua seperti anak kecil yang lama tidak bertemu Ayahnya.
"Aih senang rasanya mendengar panggilan itu" gurau tabib Ji namun sudut matanya malah menumpuk air mata yang ia tahan.
__ADS_1
He hua yang sadar akan hal itu berupaya menghilangkan aura kesedihan itu dengan segera menarik tangan Ayahnya dan menggandengnya masuk kedalam rumah.
.
Dan tepat tengah malam sesuai dugaan He hua.
Tok..tok..tok
Tok..tok..tok
He hua telah bertekad siapapun yang selalu mengganggunya setiap tengah malam akan menanggung akibatnya karena berani mengusiknya. Belati ia selipkan di lipatan pakaiannya. 'Pedang di tangannya akan menjadi senjata pertama yang akan penggangu itu rasakan' batin He hua.
Tok...tok..tok
"Siapa kamu?" tanya He hua lantang
Hening...ketukan itu tak lagi terdengar
Sebenarnya dengan senjata mematikan di tangannya ia bisa saja keluar dan menebas orang itu dengan mudahnya tapi ia harus waspada ditengah malam mengganggu orang. Jika orang biasa tidak mungkin memiliki keberanian untuk mengganggu seseorang yang berada di tengah hutan seperti ini. Atau mungkin dia adalah sesuatu yang lain? Atau mungkin ia ingin berkomunikasi tanpa diketahui oleh keluarganya yang lain..ah entahlah.
Hening
Tok..tok..tok suara ketukan itu kembali terdengar hingga suara yang lain mengagetkan He hua.
"He hua kamu berbicara dengan siapa nak?"
"Apa ayah mendengarnya juga?"
"Mendengar apa?"
"Suara ketukan pintu, seseorang selalu menggangguku tiap tengah malam."
"Sudahlah lebih baik kamu tidur anakku. Lagipula ini sudah tengah malam, jangan terlalu dipikirkan suara itu anggap saja kamu tidak mendengarkan."
"Tidak Ayah! Aku yakin ada seseorang dibalik pintu itu." ujar He hua bersikukuh.
__ADS_1
He hua menatap ayahnya dengan tatapan menyelidik merasa ada yang ganjil seperti ada yang disembunyikan mengapa tiga orang termasuk ayahnya menyuruhnya mengabaikan suara ketukan itu. Ada apa dengan mereka semua? Atau mereka memang merahasiakan sesuatu dari He hua namun apa?
Tabib Ji serasa tak kuasa melihat tatapan itu, merasa kalau rasa penasaran He hua tidak akan berhenti sampai ia menemukan jawaban.
Maka Tabib Ji pasrah 'Mungkin aku tak bisa menutupinya' ia mengajak He hua duduk dan menceritakan surat terakhir yang diterimanya sesaat sebelum ia pulang.
"Sebenarnya kami semua tidak mendengar suara ketukan itu." jawab tabib Ji lemas
'Mustahil. Suara ketukan itu sangat keras!'
"Ibumu... dialah yang memberitahukan Ayah bahwa kamu tidak boleh membuka pintu di tengah malam dan mempersilahkan tamu asing masuk ke dalam rumah. He hua harus menghindari bertemu dengan 'sesuatu yang lain'. Begitu pesan ibumu."
"Maksud Ayah yang berada dibalik pintu itu dan tiap malam menggangguku...dia bukan manusia begitu?"
"Ya. Hanya dirimu yang bisa melihat dan mendengarnya."
"Tapi kenapa Ayah?"
"Ibumu dia tak pernah berkomunikasi denganku selama bertahun-tahun namun semuanya berubah setelah aku memberikanmu bunga cahaya."
Tabib Ji menarik napas panjang dan menatap lemah anak kandungnya itu.
"Di surat itu ia mengatakan 'takdir yang tragis untuk anak kita akan datang. Anda tak berpikir panjang untuk memberikan bunga cahaya itu'. Di surat berikutnya ia berkata 'Sesuatu yang lain sebagai penyampai pesan akan segera datang. Upayakan He hua tak menemuinya'. Ayah merasa bahwa penyampai pesan itu adalah sesuatu yang berada di balik pintu itu sekarang. Itulah sebabnya Ayah bergegas pulang dan syukurlah kamu belum membuka pintu itu."
"Tidak Ayah ini semua membingungkanku. Untuk apa makhluk itu menemuiku, pesan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan dan lagi..selama ini berarti Ibu sangat tahu dengan semua yang terjadi pada kita namun kenapa sampai sekarang ia belum menemui kita?" Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otak He hua. Ia berpikir keras hingga ia menyadari sesuatu yang aneh mengenai identitas Ibunya.
"Katakan Ayah apa benar Ayah menemukan Ibu pasca 1 tahun Kerajaan Matahari memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Ming?"
"Iya kamu benar, saat itu Ayah sudah menceritakan semuanya padamu bukan? Ia adalah buronan....."
"Saat aku menjadi Permaisuri akulah yang menandatangani dokumen kasus-kasus khusus di tiga kerajaan salah satunya Kerajaan Ming."
Mata He hua lalu melebar dan melanjutkan kata-katanya "Buronan yang ia berikan cap bahwa kasusnya ditutup dari Kerajaan Ming adalah seorang wanita tak bernama mereka menyebutnya 'Penyihir dari Barat'."
.....................
__ADS_1
Sebelumnya Author minta maaf ππbaru bisa up karena ada trouble dengan hp author maklum ya hpnya bukan yang bermerek si oppa atau si itu lah wkwkwk. Namun author akan berusaha demi para readers setia author. Jangan bosan ya untuk mendukung Author. Makasih β€οΈβ€οΈππ