
"Aih...segera urus dia." ucap Audrey berbisik untuk menggoda Hana
"Ibu. Ini tidak lucu." ucap Hana. Setelah itu ia menuliskan resep ramuan untuk sang Kaisar belum juga selesai tulisannya itu, tiba-tiba Hana melihat ada kabut hitam yang samar menyebar di lantai tak lama Kasim memberitahukan kedatangan Permaisuri dan Ibu Suri.
Ibu Suri masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh kedua pelayannya demikian pula dengan Permaisuri berjalan dengan anggun di ikuti oleh dua orang pelayannya.
"Hormat kepada Yang Mulia Ibu Suri dan Permaisuri." ucap Audrey dan Hana serentak sambil menunduk memberi hormat.
Hana melihat darimana kabut hitam itu berasal 'Itu dia' batin Hana. Kabut hitam itu menyelimuti kaki salah satu pelayan Ibu Suri. Seorang pelayan berwajah lembut dengan tubuh yang mungil. Hana sangat yakin bahwa dia adalah 'Sesuatu yang lain' dia bukan manusia. Tapi Hana menutupi ekspresi terkejutnya dengan bersikap biasa karena dia tahu, hanya makhluk dengan kejahatan yang luar biasa yang bisa berwujud manusia dan bersikap layaknya manusia.
"Apakah Anda sudah memeriksa keadaan putraku tabib? Bagaimana kondisinya?" tanya Ibu Suri
"Hamba dan putri hamba tadi telah memeriksanya Yang Mulia, Yang Mulia Kaisar hanya kelelahan dan kurang tidur sehingga aliran darahnya menjadi tidak lancar." jawab Audrey
"Lalu? Apa obat telah diresepkan?" tanya Ibu Suri kembali
"Saya sedang menuliskan resepnya Yang Mulia." ucap Hana
__ADS_1
"Jam berapa kamu datang tadi? kenapa sekarang baru akan menuliskan resepnya dan itupun belum selesai?" tanya Permaisuri dengan sinis pada Hana
"Apa kamu tahu Kaisar adalah orang penting di kerajaan ini bagaimana bisa kamu tak segera mengobatinya dan malah sekarang masih menuliskan resepnya?" ucapnya lagi mencerca Hana. Belum juga Hana menjawabnya ia berkata kembali "Padahal ada banyak tabib hebat di istana yang begitu cekatan mengapa malah menyerahkan kesehatan Yang Mulia pada tabib seperti mereka." ucapnya sedih sambil mendekati suaminya
"Maafkan kami Yang Mulia." ucap Audrey dan Hana bersamaan. Sebenarnya ingin rasanya Hana menyumpal mulut sepupunya itu, dia sangat cerewet. Siapa yang meminta siapa untuk mengobatinya? 'Heh dia sedang melampiaskan kekesalannya. Benar-benar pasangan yang suka membuat orang kesal. Serasi sekali!' batin Hana
"Sudahlah mengapa kamu berkata seperti itu istriku. Akulah yang meminta Kasim untuk memanggil mereka. Mereka sangat cepat menemukan penyakit yang aku derita daripada tabib istana. Sungguh kemampuan Tabib Ji, Istri dan anaknya setara." puji Kaisar kembali
"Ampun Yang Mulia, tapi obat yang anakku resepkan nantinya tidak akan berefek langsung pada tubuh Yang Mulia, itu akan membutuhkan waktu bertahap untuk sembuh tapi...." ucap Audrey sambil melirik Hana
"Tapi apa?" tanya Permaisuri
"Lakukan apapun yang terbaik, yang penting suamiku segera sembuh. Aku sangat mengkhawatirkannya. Tapi aku tidak ingin kalian mengecewakanku." ucap Permaisuri dengan nada sedikit mengancam
"Baiklah Yang Mulia, mohon ijin untuk membuka baju Yang Mulia karena teknik pengobatan ini akan dilakukan oleh Hana. Karena anak saya Hana menguasai teknik akupuntur ini." ucap Audrey kembali. Ia sangat kesal dengan sikap wanita yang arogan ini, ia akan memberinya pelajaran berharga karena membuat putrinya menderita. Kini membalasnya sedikit dengan api cemburu, itu tak sebanding memang tapi cukup menghibur.
"Ibu!" bisik Hana dengan tatapannya seolah bertanya 'Kenapa Ibu melakukan hal gila itu?'. Ular ini benar-benar akan membuatnya dalam kesulitan, dan Hana malas meladeninya. Karena sebetulnya teknik memang diperlukan, tapi kondisi Kaisar tak sebegitu perlu untuk ditangani dengan teknik itu. Obat saja sudah cukup sebenarnya.
__ADS_1
Ibu Suri menatap keempat orang itu bergiliran. 'Menarik' batinnya. "Baiklah. Tabib sudah memberikan solusinya, aku akan mempersilahkannya. Ibu pergi anakku, ada yang harus Ibu kerjakan. Kuharap kalian bekerja seoptimal mungkin agar anakku bisa segera pulih." ucap Ibu Suri pada Audrey dan Hana. Dan ia segera keluar dari kamar anaknya itu diikuti oleh kedua pelayannya.
Permaisuri menahan kekesalannya. 'Sial' batinnya padahal tadinya ia ingin merendahkan kemampuan Hana dan Audrey malah kini berakhir seperti ini, ia sungguh-sungguh kesal. Wanita itu malah akan bisa menyentuh suaminya dengan sesuka hati. 'Dasar wanita penggoda, apa dia tidak ingat memiliki suami.' batinnya
"Yang Mulia, kami akan memulai pengobatannya. Anda bisa melihatnya jika anda berkenan, namun jika tidak anda bisa mempercayakan kesehatan Yang Mulia. Kami tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Yang Mulia." ucap Audrey
"Baik Aku pergi, segera beritahu Kasim jika kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu." ucap kesal dengan sedikit menghentakkan kakinya dan pergi dari kamar yang sangat luas itu.
"Maafkan istriku jika kalian tidak nyaman dengan tindakannya." ucap Kaisar
"Tidak apa-apa Yang Mulia sebagai seorang istri wajar saja beliau bersikap seperti itu karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Yang Mulia." ucap Hana
Kemudian Hana mempersiapkan dan mensterilkan jarum-jarum yang akan digunakannya dan dibantu oleh Ibunya. "Mohon ijin untuk membuka baju anda Yang Mulia." ucap Hana sambil berekspresi biasa.
"Ah..ya..ya..baiklah." ucap Kaisar gemetaran karena sebentar lagi akan disentuh oleh Hana
............................
__ADS_1
Hai readers semuanya..... Author ngucapin "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf lahir dan batin bagi yang merayakannya. Semoga kita semua diberikan keberkahan dan diperkuat tali silaturahim antar sesama" 🙏🙏🙏🙏🙏🎉🎉🎉