Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
65. Pembukaan toko dan rumah pengobatan gratis


__ADS_3

Pagi ini adalah pembukaan toko obat dan tempat pengobatan gratis dirumah Hana. Papan besar yang terpasang bertuliskan Rumah Obat Hua bersebelahan dengan Rumah Pengobatan Hua cukup menarik beberapa pasang mata yang melihatnya kemaren. Rupanya saat dibuka, tempat pengobatan ini langsung diserbu warga. Banyak warga yang mengantri untuk berobat gratis di rumah itu. Syaratnya hanya cukup memperlihatkan token identitas, mereka dengan token berwarna hijau bisa mendapatkan layanan pengobatan gratis beserta obatnya. Li mendata identitas mereka dan memberikan mereka no. urut agar mereka bisa tertib berobat secara berurutan. Kemudian 2 orang yang dipanggil akan masuk ke ruang pemeriksaan. Tabib Ji memeriksa di ruangan sebelah kanan sementara Audrey dan Hana memeriksa pasien disebelah kiri. Mereka terlihat sangat bersemangat membantu mereka yang membutuhkan.


Kesibukan juga terjadi di toko Obat Hua Qiang dan Fangyin melayani resep untuk pengobatan gratis sementara Jun dan Ying akan melayani orang-orang yang melakukan pembelian obat.


Saat hari menjelang siang mereka beristirahat sejenak untuk makan siang dan kemudian beraktifitas kembali. Saat sore hari ada dua orang wanita yang datang ke tempat pengobatan itu. Yang satu adalah wanita paruh baya dan yang satu lagi seorang gadis berusia remaja. Mereka tampak seperti ibu dan anak. Li melihat mereka dari jauh. Di saat mereka mendekat...


"Ayo cepatlah nanti mereka tutup." ucap Ibu itu


"Ibu aku tidak sakit. Ibu ayo kita pulang saja." ucap sang anak seperti enggan


"Ada apa Nyonya, apa anda ingin berobat? Sebentar lagi kami akan tutup " ucap Li


"Iya..iya..tuan saya ingin memeriksakan anak saya." jawab ibu itu dengan cepat


"Baiklah, kalau begitu tunjukkan token anda."


"I..ini tuan" Ibu itu mengeluarkan token berwarna perak dengan pinggiran berwarna merah.


Li sejenak memperhatikan Ibu itu kemudian ia berkata "Nyonya maafkan saya pengobatan disini gratis dan hanya diperuntukkan untuk masyarakat golongan 5." sambil menyerahkan kembali token milik Ibu itu.


"Tapi tuan saya mohon saya akan membayar berapapun yang diminta asalkan anak saya bisa diobati di tempat ini." ucap Ibu itu dengan nada memohon.


"Tolong Nyonya jangan mempersulit saya. Ini adalah peraturan dari tabib Ji Hua bahwa saya hanya bisa menerima masyarakat golongan 5 sedangkan anda golongan 4. Silahkan mencari tabib yang lain Nyonya. Disini adalah tempat pengobatan gratis untuk golongan 5." ucap Li dengan sabar.


"Tapi Tabib Ji adalah seorang tabib. Ia tidak bisa memilih pasien. Saya adalah pasien yang sangat butuh bantuannya." ucap Ibu itu setengah berteriak.

__ADS_1


Gadis itu sangat malu dengan sikap Ibunya. Ia berbisik "Ibu ayo pulang saja. Aku malu Ibu."


"Ada apa ribut - ribut Li?" tabib Ji keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan di luar.


Li pun menceritakan pada Tabib Ji jika wanita itu memaksa untuk berobat padahal ia adalah warga golongan 4 yang mana masih bisa berobat diluar.


"Sudah aku katakan, aku mau membayar berapapun. Apa telinga mu tidak dapat mendengar apa yang ku katakan tadi ha?"


"Sabar Nyonya. Ini bukan soal uang. Pegawai saya hanya menjalankan apa yang menjadi peraturan di tempat ini. Jika Saya menerima anda maka orang-orang lainnya yang sama seperti anda akan menggunakan hal ini sebagai alasan untuk menekan saya agar mau mengobati mereka dan akhirnya kesempatan warga yang kurang mampu untuk mendapat uluran tangan dari tempat saya ini menjadi kurang optimal."


Memang jika tabib Ji membantu Ibu itu, orang-orang disekitar akan tahu dan kalau berita ini sampai tersebar maka akan banyak orang kaya akan berobat di rumah pengobatan ini. Tabib Ji memang dikenal sebagai tabib kerajaan namanya dikenal banyak kalangan karena kemampuan medisnya. Orang-orang kaya seperti bangsawan dan pejabat penting lainnya jika berobat pasti akan minta di dahulukan dan diutamakan karena mereka beralasan mereka membayar, sementara orang-orang yang tak mampu ini sama sekali tidak membayar jasa tabib Ji.


"Saya mohon tuan. Ini demi putri saya. Ia sedang sakit." ucap wanita itu dengan menundukkan tubuhnya.


"Saya mohon..tuan." wanita itu kembali bersuara dengan mengiba.


"Ah..baiklah. Tulis identitasnya Li kemudian setelah itu anda bisa ke ruang pemeriksaan."


"Terima kasih..terima kasih Tuan dan Nyonya." ucap Ibu itu berulang-ulang.


.


Tabib Ji duduk dan menulis di sebuah buku besar "Keluhan anda apa Nona Anchi?


"Saya sering merasa sesak napas di malam hari, perut saya sakit dan kemudian...." ucap Anchi menatap ibunya seperti ia enggan bercerita

__ADS_1


"Kemudian apa Nona? Selama pemeriksaan anda harus jujur mengenai apa yang anda keluhkan, apa yang anda rasakan. Sehingga itu bisa membantu pemeriksaan dengan optimal."


"Ada bekas kemerahan di leher saya. Seperti bekas cekikan."


Mmm


"Baiklah, coba ulurkan tangan anda." tabib Ji memeriksa tekanan nadi, kondisi leher pasien. Namun ia heran tidak diketemukan sesuatu yang aneh. Pasien ini dalam kondisi sehat.


Dahi tabib Ji menyatu seolah tidak percaya dengan pemeriksaannya. Ia kembali memeriksa dan berdasar pengamatannya tidak ditemukan keanehan apapun hanya ia melihat kantung mata yang besar dan agak berwarna gelap menandakan gadis ini kurang tidur dan tubuhnya kurang berenergi. Hanya seperti gangguan tidur pada umumnya.


"Saya tidak menemukan suatu keanehan, semuanya normal. Nona Anchi hanya kurang tidur, saya akan meresepkan beberapa obat untuk dikonsumsi jika tidak ada perbaikan dalam 2 hari kedepan anda bisa kembali kemari untuk pemeriksaan lanjutan." ucap Tabib Ji


"Tapi tuan anak saya....." ucap Ibu itu seolah ingin memberitahu sesuatu.


"Tidak Ibu. Baik tabib saya akan meminum obat yang anda resepkan." ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Tapi nak.."


"Beliau tidak akan percaya Ibu sudahlah." ucap gadis itu berbisik.


"Bagaimana soal...." ucap Ibu itu bertanya pada Tabib Ji sambil membuka kantong uangnya.


"Tidak usah Nyonya, hari ini saya niat ingin membantu orang. Maka tolong jangan pikirkan soal itu. Saya doakan putri anda kembali pulih."


........................

__ADS_1


Wah sakit apa ya si gadis yang bernama Anchi?


__ADS_2