
Hana segera kembali masuk ke dalam aula ia menyadari sesuatu, ia telah lupa tujuan awalnya mau ikut dalam acara Penobatan ini. Bertemu dengan makhluk seribu wajah atau lebih tepatnya Nenek Kandungnya. Jika Ibu Suri Shuwan adalah Nenek Hana itu berarti Pangeran Zhang adalah Pamannya. Tapi jika ia benar-benar Ibu Suri Shuwan yang asli maka Pangeran Zhang adalah sepupu Hana. Ah memang takdir yang luar biasa!
Hana masuk kembali ke dalam aula yang sangat sangat besar itu. Dimana kira-kira orang tua Hana saat ini? Hana mencari mereka berkeliling beberapa kali sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu pandang dengan mata Kaisar yang duduk di singgasana. Merasa gugup Hana memanfaatkan banyak orang kala itu untuk langsung berbalik, bergerak cepat dan duduk di sudut aula untuk menenangkan hatinya.
"Apa kamu baik-baik saja. Sudah merasa tidak nyamankah?"
"Ibu....anda mengejutkanku. Aku tadi mencari kalian." Ucap Hana menepuk perlahan dadanya.
"Apa sebaiknya kita pulang?" tanya Tabib Ji, ia melihat Hana yang sudah tidak nyaman berada disana. Tabib Ji paham akan hal itu bagaimanapun Hana dulunya adalah istri sang Kaisar, melihat suaminya yang kini berbahagia pasti melukai hati Hana.
Hemm
Hana menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjalan akan meninggalkan aula itu namun saat di tengah aula mereka malah bertemu dengan Ibu Suri. Mereka akhirnya mau tidak mau memberikan salam.
"Salam untuk Ibu Suri yang Agung."
Hana heran kenapa tidak ada aura gelap yang kuat menyelimuti Ibu Suri. Tubuh Ibu Suri hanya sedikit memiliki aura gelap itu. Ada apa sebenarnya? Apa ia berhasil menyembunyikan auranya tapi itu mustahil. Tunggu dulu dimana keberadaan 2 pelayan tadi yang mengikuti Ibu Suri saat upacara penobatan?
Ibu Suri tersenyum menanggapi salam mereka. "Bagaimana kabar Anda tabib? Yang kudengar setelah keluar dari istana kamu merintis usaha toko obat dan pengobatan gratis. Itu sungguh mulia."
"Saya dan keluarga sangat baik, terimakasih perhatian Ibu Suri. Kemuliaan hati sepertinya tidak pantas untuk kami. Anda terlalu memuji kami yang Mulia, kami hanya bersyukur dengan sedikit ilmu yang kami miliki." ucap Tabib Ji
"Merendah, sifat yang bagus sekali. Putrimu juga seorang tabib?" ucap sambil matanya memperhatikan Hana dari bawah sampai ke atas seolah sedang menilai suatu benda.
"Ya dia belajar dari kami orangtuanya." ucap Tabib Ji
"Wah istrimu juga tabib, aku mendengar istrimu berasal dari benua barat itu berarti kita berasal dari kerajaan yang sama." tanya Ibu Suri dengan tatapan menyelidik.
"Sungguh keberuntungan bertemu anda ibu suri dan kebetulan yang seolah diatur takdir. Ya anda benar kita berasal dari kerajaan yang sama namun tetap tak bisa disamakan. Anda dan saya bagai langit dan bumi. Saya hanya berasal dari keluarga sederhana yang tinggal jauh di pelosok."
__ADS_1
He..he..he...
"Aih waktuku tidak cukup mengobrol dengan kalian. Luangkan waktu, kapan-kapan kita bisa minum teh bersama tentunya sesama wanita dan kamu bisa mengajak anakmu itu." ucap Ibu Suri sambil berlalu.
Dan mereka mengantar kepergian Ibu suri dengan menunduk hormat. "Tampaknya ini akan semakin rumit Hana."
"Anda benar ibu."
.
Di sebuah kamar yang sangat besar, tampak ibu suri duduk didepan meja rias. Rambutnya yang panjang disisir oleh seorang pelayan.
"Nyonya sudah mengundangnya?"
"Ya. Bukankah itu keinginanmu. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya ingin kamu ketahui?"
Tangan pelayan itu terhenti menyisir rambut Ibu Suri kemudian dia tersenyum mengerikan dan menatap ke arah cermin lebih tepatnya menatap wajah Ibu Suri.
Melihat wajah pelayannya itu Ibu Suri bergidik ngeri "Katakan pada Sizu untuk menyisir rambutku. Kamu lelah sebaiknya dia saja yang menyisir rambutku."
He..he...he...
"Baiklah. Sesuai keinginanmu Yang Mulia." ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
Blam
Begitu pintu tertutup dan pelayan mengerikannya keluar, ia memaki dengan penuh amarah.
"Sialan. Kalau bukan karena waktu itu." tangannya mengepal wajahnya merah padam menahan emosi.
__ADS_1
.
Di luar istana pesta rakyat masih berlangsung meskipun hari sudah sangat larut.
Hana menatap langit yang berlukiskan bintang 'Kamupun mengingkari janjimu' batin Hana
"Hana udara malam tidak baik untuk kesehatan. Bukankah itu yang kamu katakan. Lihat kini?" ucap Fangyin menegur Hana yang sampai sekarang masih berdiri di balkon luar kamar sepulang dari istana.
"Baiklah. Kakakku yang cantik, aku akan tidur. Tapi aku juga melihat gurat kesedihan terlukis di wajahmu. Apa yang sedang kakak pikirkan?"
"Tidak ada. Mmm..sebaiknya kita tidur, ayo." ucap Fangyin sambil menarik tangan Hana untuk masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Ia tidak mungkin menceritakan masalahnya sekarang pada Hana, ia tidak tega melihat Hana yang bersusah payah menata hatinya setelah bertemu mantan suaminya. Masalah Fangyin juga masalah hati, Qiang sekarang terlihat menghindarinya setelah beberapa hari yang lalu Fangyin mengatakan 'akan mencari pasangannya sendiri'. Memang persoalan hati selalu rumit.
Hana merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang besar. Ia mengingat bagaimana Taiyang menatap sepupunya Mei Lan dengan penuh cinta. Bahkan sangking cintanya Taiyang tak mengijinkan anak kesayangan mereka untuk ikut hadir dalam acara penobatan itu demi keselamatan dan kesehatan anak semata wayangnya itu. Sangat berlebihan.
Hana pun mengingat bagaimana tak sengaja mereka saling pandang hingga Hana memalingkan wajahnya, kenangan demi kenangan berputar dalam pikiran Hana hingga air matanya mengalir membasahi bantalnya. Air matanya seolah tak mau berhenti mengalir. 'Hentikan..hentikan berpikir tentangnya' batin Hana memarahi dirinya sendiri.
Hiks...hiks..hiks
Ia menangis sesenggukan dan sebuah tangan menepuk-nepuk punggung Hana.
"Tenanglah...lupakan masa lalu jika itu menyakitkan. Jangan terlalu memendamnya sendiri." ucap seseorang yang suaranya seperti Hana kenal.
Ia berbalik dan betapa terkejutnya, ia melihat Taiyang duduk di tepi ranjangnya. "Suamiku ini benar kamu?"
Taiyang hanya diam dan ia hanya tersenyum. Hana duduk dan memeluk sosok Taiyang. "Apa ini mimpi? meskipun hanya sebentar aku rela." gumam Hana sambil menangis sesenggukan.
"Jangan tinggalkan aku. Aku..." Kesadaran Hana seketika kembali dan ia menyadari sesuatu. 'Tidak ini tidak benar pria ini terlihat nyata dan pelukan ini benar-benar hangat. Apakah dia bukan Taiyang melainkan.....' Hana melepaskan pelukannya tapi tertahan, seolah pria yang dipeluknya menahan tubuhnya. "Biarkan seperti ini sebentar saja. Meskipun kamu melihatku sebagai Taiyang, aku rela asalkan kamu tenang dan nyaman berada di sisiku."
Ya ini adalah Chen long, suaminya yang sekarang. Tapi mendengar ucapan Chen long membuat hati Hana bersalah. "Maaf...maafkan aku." ucap Hana kembali menangis di pelukan Chen long.
__ADS_1
........................
Hiks...hiks...author mewek. Readers terlalu mencintai seseorang di masa lalu akan membuat seseorang tanpa sadar sering membandingkan pasangannya yang sekarang dgn yang lalu. Ya lagi-lagi persoalan hati yg rumit. Tapi percayalah seseorang yang baik akan mendapat jodoh yang baik pula.