Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
92. Muka Rata


__ADS_3

Pagi itu Hana sangat terkejut dengan kondisinya. Ia terlalu terlelap tidur hingga tak bisa merasakan tubuhnya sendiri seperti orang mati. Ia pun mengedarkan pandangannya mencari Ibunya di ranjang, bahkan ruangan yang cukup luas itu tetap tak memperlihatkan keberadaannya. 'Dimana Ibu?' batinnya sambil berkeliling di sekitar halaman namun ia tetap tak menemukannya. Ia juga tidak bisa menemukan dua pelayan yang membantunya di kediaman kecil itu. Dan kediaman ini sangat sepi 'Apakah terjadi sesuatu?' tanyanya dalam hati. Ia pun berusaha mengingat apa yang terjadi pada malam itu.


Saat itu..........


"Tidak Hana itu terlalu lama. Tahukah kamu apa yang Ibu temukan saat memata-matainya?" ucap Audrey sambil menggenggam tangan Hana ia berkata kembali. "Ia memotong beberapa bagian tubuh korbannya dan menguburkannya di halaman belakang sebagai pupuk tanaman bunga mawar. Itu sangat kejam Hana. Jika kita menunggu sampai ia keluar dari istana berapa banyak nyawa yang akan mati di tangannya. Ibu akan bertindak dengan atau tanpamu." ucapnya sambil melepas genggamannya


Percakapan terakhir Ibunya dan dirinya saat itu, Audrey menggengam tangan Hana seolah menempelkan sesuatu pada tangannya tapi karena Hana tidak fokus maka ia tak menyadarinya. Itu berarti Ibunya menempelkan serbuk obat ke tangannya, sehingga saat ia makan dan mengusap wajahnya serbuk itu tak sengaja tertelan dan termakan oleh Hana. Serbuk obat itu membuatnya terlelap.


Kesadaran Hana kembali saat dua orang pelayan berteriak dan berlari menemuinya dengan wajah pucat. "Nona Tabib...nona tabib bencana...bencana......"


Dua pelayan itu menceritakan rumor yang dengan cepat beredar dan posisi Nyonya Hua yang saat ini berada dalam penjara.


"Aku ingin meminta bantuan kalian. Apakah kalian bersedia?" tanya Hana


"Nona jika anda meminta kami menjadi saksi, maafkan kami. Kami tidak bisa." ucap salah satu pelayan dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa alasan kalian?" tanya Hana kembali


"Karena kesaksian kami nanti justru akan memberatkan Nyonya Hua. Karena saat tengah malam kami kembali dan melihat seseorang berpakaian hitam dan bercadar keluar dari kamar anda setelah itu kami memberanikan diri untuk melihat ke dalam ternyata di dalam kamar hanya ada anda yang tertidur pulas." ucapnya dengan sedikit gemetar dan berlutut


Salah satu pelayan itu berlutut sambil berkata "Ampun...ampuni kami Nona tolong jangan laporkan kami pada Kaisar atas ketidaknyamanan anda."


Hana berusaha agar pelayan itu berdiri kembali dengan memegang pundaknya. "Sudahlah. Aku berterima kasih atas kejujuran kalian. Ini adalah cobaan untuk keluargaku. Aku akan membantu Ibuku dengan jalan lain. Kalian bisa kembali." ucap Hana. Melihat dua pelayan itu menundukkan tubuhnya kemudian pamit undur diri, membuat Hana teringat sesuatu.


"Tunggu!" ucap Hana dan membuat dua pelayan itu berbalik dan kembali menemui Hana.


"Ada yang bisa kami bantu Nona Tabib?" tanya mereka.


Mendengar perkataan Hana mereka berdua saling menatap seolah terkejut dengan apa yang mereka dengar bahwa Nona Tabib tahu bahwa Permaisuri Mei Lan menyuruh mereka untuk memata-matainya.


Bagaimana Hana tidak tahu, itu semua dari perkataan yang tak sengaja mereka ucapkan sendiri. Untuk apa dua orang pelayan di tengah malam kembali menuju kamar Hana, seolah ingin menangkap basah pencuri yang akan mengambil ranjang Kaisar. Ini pasti adalah perintah tuan keduanya, siapa lagi jika bukan Permaisuri. Menjinjikkan, pemikiran yang kotor.

__ADS_1


Hana masuk kembali ke dalam kamar besar itu, ia akan memikirkan cara untuk melepaskan Ibunya. Ia pasti tidak akan bisa menjenguk Ibunya. Hana tahu tahanan dengan kasus seperti itu tak bisa dikunjungi seperti tahanan dengan kasus ringan lainnya. Kasus seperti ini hukumannya adalah hukuman mati. Ia secepatnya harus menolong Ibunya dan ia sangat yakin pasti ada sesuatu yang memaksa Ibunya untuk keluar kamar dan mengendap-endap menuju kediaman Ibu Suri malam itu. Hana butuh bukti dan saksi. Hana berkeliling kamar mencari sesuatu yang bisa ia jadikan bukti.


Tak sengaja saat mengedarkan pandangannya Hana melihat kepala berambut panjang menyembul di dinding kamar. Wajahnya putih rata tak memiliki mata maupun hidung, ia sedang tertawa keras mengejek Hana. Ia tak menyadari bahwa manusia yang ia tertawakan bisa melihatnya.


"Ha..ha..ha.. manusia bodoh yang kebingungan... lucu sekali.." ucapnya


Hana kemudian berlari cepat lalu melompat menarik kepala itu dengan kuat.


"Aih senang sekali dirimu menertawakanku." ucap Hana


"Sa..sakit...sialan lepaskan kepalaku." Ia memutar mutar kepalanya agar terlepas dari pegangan Hana


"Aku akan melepaskanmu. Tapi ceritakan apa yang kamu lihat tadi malam." tanya Hana


"Manusia bodoh! Apa tidak bisa kamu melihatnya jika aku tak memiliki mata. Jadi bagaimana bisa aku tahu apa yang terjadi tadi malam."

__ADS_1


"Wah tidak punya mata ya, tapi kamu bisa melihatku. Sudah jangan banyak beralasan ceritakan padaku semuanya sekarang." ucap Hana dengan tegas.


..........................


__ADS_2