
"Apa, benarkah? Itu bagus." ucap Ibu Suri lalu mengangkat cangkirnya dan meminum tehnya 'Jadi aku tidak perlu repot mengundang seseorang yang tidak penting.' batinnya
"Ibu, ini sangat bagus. Jika balai pengobatan jadi terlaksana, bukankah kita membantu banyak rakyat miskin." ucap Pangeran Zhang bersemangat. Baru kali ini mereka bisa berbincang sedikit lama dari biasanya.
"Katakan pada ibu, kamu bersemangat karena bisa membantu rakyat miskin atau karena hal lainnya?"
"Maksud Ibu?" tanya Pangeran Zhang dengan mengalihkan pandangannya
"Berhentilah menyukai yang bukan milikmu. Kamu bisa memilih banyak diluar sana. Jaga martabat keluarga kita." ucap Ibu Suri meletakkan cangkir tehnya dan mengusap lembut bibirnya dengan sapu tangan miliknya.
"Apa Ibu tahu, rasa itu tidak bisa hilang dan tumbuh sesuai kehendak kita." jawab Pangeran Zhang dengan sendu mendengar teguran dari Ibunya.
"Bisa saja asalkan kamu memiliki niat untuk merubahnya." ucap Ibu Suri mengakhiri obrolan singkatnya dan meninggalkan Pangeran Zhang yang termenung menatap taman yang penuh dengan Bunga Mawar.
"Apakah seperti Ibu dan Ayah. Pada akhirnya aku menginginkan dicintai dan bisa mencintai agar tak ada Zhang lain yang hanya menjadi penghias dalam rumah tangga." ucap Pangeran Zhang dengan suara pelan.
__ADS_1
.
Beberapa hari kemudian
Tabib Ji, Audrey, Hana dan Chen long menaiki kereta kuda yang telah dipersiapkan untuk menjemput mereka. Mereka duduk berhadap-hadapan. Tabib Ji dan Audrey menatap Hana dan Chen long secara bergantian. Merasa tidak nyaman Hana pun bertanya "Ibu adakah yang aneh dengan penampilanku dan suamiku?"
"Tidak. Lumayan." ucap Audrey singkat. Tabib Ji hanya mendengarkan dan tak mau ikut menimpali
"Dan.....yang Ibu lihat, kalian dalam tahap perkembangan yang cukup bagus sebagai pasangan. Lalu..." Audrey terdiam sambil menatap anak dan menantunya bergantian.
Hana menatap Chen long sambil menyatukan dahinya seolah berkata aih kamu terjebak olehnya. Chen long membalas tatapan Hana dengan dahinya yang terangkat beberapa kali seolah berkata Memang ada apa
Melihat Hana dan menantunya saling berbicara lewat tatapan membuat Audrey segera berkata "Lalu kapan kalian akan memberi kami cucu."
"Ibunya Hana" ucap Tabib Ji memperingatkan istrinya agar tidak terlalu menekan anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Ah itu..." ucap Chen long dengan pipinya yang bersemu merah, ia bingung mau berkata apa. Matanya melirik Hana seolah meminta bantuan karena ia merasa seolah tak pantas jika ia menjawab pertanyaan mertuanya itu.
Melihat Chen long yang kesulitan, Hana membantunya menjawab "Kami belum sampai ke tahap itu Ibu. Kami masih saling memahami satu sama lain."
"Ya sudah. Aiya...Ibu cuman seorang wanita yang akan menua. Ah seandainya Tuhan mengabulkan keinginan baikku." ucap Audrey berpura-pura sedih
Mendengar kata-kata istrinya, Tabib Ji hanya geleng-geleng kepala. Sementara Chen long cuman bisa menghela nafas apalagi Hana, ia menanggapi kata-kata itu juga memutar bola matanya dengan malas.
Selang tak berapa lama kemudian kereta mereka telah sampai di gerbang utama istana, beberapa prajurit menjaga dengan gagahnya dengan simbol matahari terlihat dimana-mana.
"Persiapkan diri kalian, kemungkinan akan ada kejadian besar nantinya." ucap Tabib Ji
Kereta mereka berhenti tepat di sebuah gedung sebelah barat istana.
Pintu kereta terbuka, Tabib Ji turun terlebih dahulu dengan gagah dari kereta menggunakan pakaian berwarna biru cerah senada dengan ketiga anggota keluarganya. Seorang kasim tersenyum menyambut kedatangan mereka "Selamat datang Tabib Ji beserta keluarga, silahkan saya tunjukkan jalannya." ucap Kasim itu berjalan di depan Tabib Ji.
__ADS_1
........................