
Hana memasuki rumahnya dan ia tahu saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang makan. Jadi ia akan langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, jika bertemu dengan mereka sekarang akan membuat hati Hana merasa tidak nyaman. Hana hanya tidak ingin menunjukkan wajah kecewa apalagi bersikap acuh atau bahkan marah pada kedua orang tuanya. Hana hanya tidak ingin menyakiti keluarganya dengan sikapnya. Karena memang status barunya itu begitu mengguncang hatinya.
Fangyin yang melihat siluet tubuh Hana segera keluar dari ruang makan dan menghampirinya. Melihat kecemasan di wajah Fangyin membuat Hana berbicara lebih dulu "Kak, jangan katakan apapun sekarang. Aku ingin beristirahat aku lelah tolong jangan ganggu aku dulu. Tolong katakan pada semuanya untuk tidak berpikir macam-macam dan jangan khawatir aku akan berusaha untuk mengatasinya." setelah mengatakan itu Hana segera menaiki tangga masuk dalam kamarnya dan menguncinya.
Fangyin murung ia merasa bersalah karena ikut menyembunyikan kebenaran itu dari Hana. Fangyin memasuki ruang makan dan menceritakan pada semuanya perkataan Hana tadi.
"Ia hanya tidak ingin memperlihatkan amarahnya. Itu wajar saja. Chen long berikan dia waktu, perlahan ia akan menerimamu. Jangan salahkan dirimu dan tidak ada satupun keluarga disini yang salah. Semua ini adalah untuk kebaikan Hana." ucap Audrey meyakinkan.
Tapi tetap saja perkataan Audrey tidak mampu membendung air mata Fangyin yang mengalir keluar.
Hiks...hiks..
Qiangda begitu perhatian menyodorkan sapu tangan untuk Fangyin, ia juga mengerti saat ini Fangyin pasti sedih melihat kondisi adiknya yang tertekan. Dan itu semua tak luput dari pandangan Audrey.
"Qiang" panggil Audrey
__ADS_1
"Ya...Nyonya" ujar Qiang yang terkesiap
"Kamu sudah bercerai dengan istrimu pasti sudah lama bukan?"
"Benar Nyonya, saya rasa sudah 5 tahun lebih entahlah saya tidak ingin mengingatnya. Saya hanya ingin bertemu anak tunggal saya." ucap Qiang dengan wajah murung.
"Qiang kamu telah sendiri untuk waktu yang lama. Putriku Fangyin juga belum menikah. Dengan melihat perhatiannya dirimu pada Fangyin aku rasa kalian bisa saling melengkapi. Bagaimana kalau kalian berdua menikah?"
Uhuk
Tabib Ji menepuk dahinya kemudian berkata "Istriku tidak bisakah kamu menunda keinginanmu, setelah kita selesaikan semuanya satu-persatu." Tabib Ji berdiri meninggalkan ruang makan, ia tidak berselera lagi untuk makan. Belum juga selesai persoalan Hana dan Chen long kini ditambah istrinya berbuat ulah lagi dengan menjodohkan Fangyin dan Qiang.
"Suamiku..suamiku apa salahku. Niatku baik." ucap Audrey yang juga beranjak dari ruangan itu untuk mengejar suaminya.
Kini di meja makan hanya ada Ying, Chen long, Qiang, Li dan Jun. Ke empat pria ini membuka mulut lebar karena melihat Ying makan dengan begitu lahap seolah tak terpengaruh dengan situasi saat ini. Merasa semua pria di sana memperhatikannya dan melihat nasi di mangkuknya telah habis, ying membalas pandangan semua pria disana. "Apa kalian tidak pernah melihat orang makan?"
__ADS_1
Hmmp...wahaha...ha..ha
Jun dan Li tak kuasa lagi menahan tawanya hingga tawa mereka meledak di meja makan.
Chen long mengusap tengkuknya "Aih aku merasa kenyang. Aku permisi dulu" saat Chen long berdiri, tiba-tiba ia dihentikan oleh ying. Ying memegang pergelangan tangan pemuda itu. "Duduklah. Aku akan memberitahukan kalian sesuatu." ucap Ying.
Semu pria disana mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh ying. "Mungkin kalian berpikir Nyonya Audrey adalah Ibu yang suka memaksakan kehendak. Berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan siapapun." ucap ying dengan melihat semua mata pria disana satu persatu.
"Kalian salah. Aku mengikuti Nyonya semenjak aku masih muda. Aku memahaminya. Pemikiran Nyonya lebih tajam dari siapapun, ia bisa memperkirakan sesuatu bahkan hanya dalam sekali melihat. Ia tidak akan berkata sesuatu yang ia tidak yakini kebenarannya."
"Ia adalah Ibu yang begitu mencintai keluarganya. Ia bahkan rela berpisah belasan tahun dengan mereka dan mengorbankan dirinya untuk mereka yang ia sebut keluarga." ucap ying dengan mata berkaca-kaca.
Ia masih ingat bagaimana perjuangan Audrey di tengah kobaran api kala itu yang berusaha menyelamatkan dirinya.
.........................
__ADS_1