
Seorang pria berkulit putih duduk di sebuah kursi berwarna emas di hadapannya kini ada seorang pria yang berlutut dalam keadaan gemetar dari kemaren pria ini tidak mau ditemui olehnya.
Pria itu berlutut karena dianggap bersalah oleh tuannya, tapi ia benar-benar tidak tahu apa kesalahannya sampai detik itu "Coba sekarang katakan apa kesalahanmu?" pertanyaan yang sama yang selalu diulang-ulang oleh tuan yang juga sahabatnya itu dari pagi tadi. Tapi melihat kemarahannya yang sekarang akan sulit dikatakan bahwa mereka adalah sahabat.
"Yang Mulia Pangeran Zhang Junda, aku hanyalah orang biasa yang mendapatkan berkah ketika bisa dekat dengan Anda. Tentulah pemikiran saya yang sederhana ini sangat jauh dibandingkan Anda. Apa yang menjadi kesalahan saya mungkin tuan mau berbaik hati menuturkannya agar saya bisa menjadi lebih baik ke depannya." ucap sambil menundukkan kepalanya, ia tak berani melihat wajah tuannya yang menurutnya menyeramkan jika marah.
"Ah memang sulit untuk membuatmu paham dan menyadari kesalahanmu . Kamu hanya paham soal pertarungan." ucap Pangeran Zhang sambil menepuk dahinya. Memang Hang payah dalam hubungan pria dan wanita. Untuk kedepannya Pangeran Zhang akan sulit mengejar wanita yang disukainya.
Beberapa hari yang lalu Hang memberitahunya bahwa Hana adalah anak kedua dari Tabib Ji Hua, tabib yang dulunya bekerja di Istana namun setelah wafatnya Permaisuri He Hua ia memilih mengundurkan diri dari posisi yang diinginkan oleh banyak tabib. Status Hana pun telah menikah namun hanya sebatas Pernikahan Adat. Pertemuannya pertama kali dengan Hana membuat rasa penasaran yang besar dengan sosok gadis itu. Seorang gadis yang tergesa-gesa masuk ke Kantor Pengurusan Administrasi dan membawa tokennya, untuk keperluan apalagi jika dia memang ingin tahu statusnya sendiri. Itu membuat praduga di benak Zhang bahwa gadis itu dinikahkan tanpa sepengetahuan gadis itu sendiri. Apalagi reaksi Hana setelah keluar dari kantor itu seperti seseorang yang mendapatkan berita yang mengejutkan semua itu tak lepas dari pandangan Zhang yang saat itu berada di lantai atas kedai itu yang memungkinkan dirinya bisa melihat kondisi sekitar.
__ADS_1
Diperkuat dengan temuan Hang bahwa Hana memang mengalami pernikahan adat saat ia sakit dan tidak sadarkan diri. Ini membuka peluang Zhang bahwa masih ada kesempatan untuk mendekati gadis itu. Gadis yang ia tidak ketahui bagaimana rupanya. Setelah mengetahui itu Zhang malah minum-minum dan tidak ingin keluar dari kediamannya. Inilah yang membuat Hang salah menilai, mengira bahwa tuan yang juga sahabatnya itu pasti patah hati. Cintanya pupus sebelum berkembang.
Zhang menyusun rencana, ia tahu hanya dengan sakitlah ia bisa mendekati Hana yang juga adalah seorang tabib. Maka kemaren setelah banyak minum ia menghitamkan seluruh tubuhnya dan memakai penyamaran agar Hana tidak menyadari bahwa mereka pernah bertemu beberapa hari yang lalu. Ia ingin berdekatan dengan gadis itu dan ingin mengetahui seperti apa sosok Hana yang sebenarnya.
Namun Hang yang sudah di ikutkan dalam rencana Pangeran Zhang malah membuat berantakan rencananya.... pikirnya. Tapi yang terjadi kemaren bukanlah salah Hang semata. Zhang yang begitu gugup saat bertemu Hana membuatnya tergagap saat bertemu Hana.
Mmmm...mmm
Karena cuaca terik saat itu membuat telapak tangan Hana sedikit berkeringat sehingga tepukan lembut tangan Hana pada lengan pria itu membuat warna kulitnya memudar dan menampilkan sedikit kulit putihnya. Apalagi wajah Hang yang membuat Hana ingat bahwa mereka pernah bertemu. Dan sedikit godaan Hana dengan ucapan "Apa sebelumnya tuan Anda mengkonsumsi alkohol dengan jumlah banyak?" ucap Hana sambil menatap wajah pemuda itu.
__ADS_1
Dan Hang malah menjawab dengan polos "Ya tuan sudah berhari-hari minum alkohol seperti orang yang putus cinta." jelasnya
Jawaban yang meyakinkan Hana bahwa mereka memang bukanlah kakak beradik dan juga inilah jawaban yang membuat Zhang kesal. Seolah Hang terjebak dengan pertanyaan Hana. Apalagi Hang membuat pernyataan seperti orang 'putus cinta' seolah menggambarkan ia pernah menjalin kisah asmara dengan seseorang namun akhirnya ia ditinggalkan itu melukai harga dirinya.
Dia adalah Pangeran Zhang Junda anak dari Ibu Suri Shuwan dan saudara kandung beda Ibu dengan Sang Kaisar siapa yang akan berani menolak pesonanya. Tidak ada gadis satupun di dunia ini yang akan menolaknya bahkan mereka yang akan melakukan apapun untuk menarik perhatiannya. Seperti gadis-gadis anak pejabat maupun putri dari kerajaan lain pun banyak yang menunjukkan ketertarikannya dengan Zhang.
Meskipun Zhang berpakaian biasa saja itu tetap tak mengurangi pesonanya. Banyak gadis yang ditemuinya secara tak sengaja saat melakukan penyamaran, langsung terpesona oleh ketampanannya. Tapi tidak dengan Hana, melihat bagaimana Hana menatapnya, bagaimana Hana bersikap padanya sama sekali tidak terlihat seperti gadis kebanyakan yang ia temui. Ia seperti tidak terpengaruh oleh pesonanya. Dan ia juga gadis misterius menggunakan penutup wajah padahal gadis biasa menggunakan wajah untuk membuat lawan jenis tertarik padanya. Tapi tidak di keluarga Tabib Ji istri dan anak perempuannya menggunakan penutup wajah namun tidak dengan anak angkatnya, Fangyin.
Apakah istri dan anak gadis tabib Ji begitu cantik hingga mereka menutupi sebagian wajah mereka ataukah mereka sebenarnya berwajah buruk hingga mereka malu, entahlah. Yang jelas berdekatan dengan Hana ada perasaan hangat dan nyaman yang menyusup dihatinya, itulah yang dirasakan Pangeran Zhang.
__ADS_1
..................,....