Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
54. Mengerlingkan Mata


__ADS_3

Sebuah pintu kayu yang besar, tinggi dan usang dibuka menampilkan ruangan besar di dalamnya yang sepertinya tak pernah dijamah manusia. Disana sini banyak terlihat sarang laba-laba bertebaran.


"Ibu tinggal disini selama ini?" tanya Hana penasaran.


"Tentu tidak. Aku sering berpindah tempat bukankah ini tempat yang tepat meskipun jauh dari kata layak."


Hana begitu miris dengan kehidupan ibunya padahal sudah beberapa tahun ini seharusnya ibunya sudah bisa bernafas lega. Karena dulu saat menjadi Permaisuri Hana sudah menyetujui penutupan dokumen hitamnya, bahwa kasus Penyihir dari Barat telah ditutup. Apalagi mengganti identitas di era ini sangatlah mudah. Tentu saja dengan mengenal 'orang dalam' dan memberinya imbalan yang pantas, tak ada yang sulit. Ditambah dengan kemampuan medis ibunya yang terkenal seharusnya wajah ibunya kini bisa kembali cantik dalam hitungan minggu membuatnya bisa memulai kehidupan baru. Tapi kenapa ia seperti mempersulit hidupnya sendiri, pindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Apa Ibu sudah tak menginginkan suaminya dan dirinya atau adakah sesuatu yang memaksanya untuk menghindari keluarganya? Apa yang sebenarnya ibunya pikirkan dan hadapi?


Hana cuma bisa mengolah semua pertanyaan itu di dalam pikirannya sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua untuk saat ini.


Kemudian Audrey mengajak Hana masuk menuju pintu dengan ukiran lambang matahari. Ya tempat ini setahu Hana adalah kantor penyelidik kerajaan. Tempat dimana rakyat bisa mengadukan kejahatan yang menimpa mereka. Namun karena tempat ini sudah lama dan tak mungkin direnovasi akhirnya tempat ini seperti ditinggalkan begitu saja. Huh sungguh cara korupsi yang cerdik bukan? Padahal bangunan-bangunan seperti ini seharusnya bisa dimanfaatkan tapi karena oknum-oknum yang nakal sehingga mereka memperbesar bahkan memberi seribu alasan agar membuat bangunan baru pada kaisar untuk tempat kerja penyelidik untuk ini untuk itu. Ya otomatis dengan adanya pembangunan bangunan baru maka segala biaya akan ditanggung oleh uang kas kerajaan membuat pundi-pundi perak bahkan emas mengisi saku oknum seperti itu untuk memperkaya dirinya dan kroninya. Inilah yang dulu diperdebatkan dan ditentang oleh Hana pada suaminya karena dengan sepenuhnya memberikan kepercayaan pada oknum pejabat. Jika dibiarkan berlarut-larut maka suatu saat akan menghancurkan kekaisaran nantinya.


Namun ya seperti biasa suaminya dulu tak mau mendengarkannya. 'Berlebihan' ucapnya padahal semua kekayaan kekaisaran berasal dari pajak rakyat dan setoran pajak dari kerajaan lain. Terlebih mereka oknum nakal itu dengan pintarnya menutup itu semua dengan image 'kemuliaan' yaitu saat ada pembangunan mereka akan berbagi dengan rakyat yang kurang mampu dengan membagi-bagikan uang dan kebutuhan lainnya seperti makanan dan pakaian. Membuat mereka dicintai rakyat kecil dan membuat mereka tampil bak pahlawan.


Lucunya apa yang mereka berikan pada rakyat bukan dari kantong mereka sendiri melainkan berasal dari biaya pembangunan yang digelembungkan. Mereka, oknum itu bahkan memanfaatkan ketidaksetujuan Permaisuri. Mereka bersekongkol untuk membuat image Permaisuri menjadi buruk. Inilah buruknya mental oknum pejabat korup, mereka akan menyingkirkan batu penghalang yang akan menghambat mereka mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

__ADS_1


"Kamu melamun Hana?"


"Ya...sedikit teringat akan masa lalu. Tempat ini juga memiliki sebagian masa lalu ibu."


Hmm


Audrey menepuk-nepuk bahu Hana.


"Ying...kemarilah antarkanlah Chen ke lantai atas untuk beristirahat sejenak lagipula ini masih tengah malam."


"Chen"


"Ya Nyonya"


"Berikutnya panggil aku Ibu."

__ADS_1


Alis Hana bertaut menatap Ibunya memperlihatkan wajah yang tak terima dan bertanya...kenapa dia harus memanggil Ibunya dengan sebutan Ibu?


"Kenapa? Apa salahnya?" ucap Audrey menjawab tatapan Hana


Ehem


Dengan raut wajah yang cerah, Chen pun langsung berkata "Baiklah Ibu, ananda akan beristirahat sejenak sesuai perintah Ibu." Chen long menatap Hana kemudian mengerlingkan sebelah matanya, kemudian ia berbalik.


"Silahkan tuan" ucap Ying


Hana mendengus 'Huh...Pria itu sengaja membuatnya kesal.'


Audrey tersenyum melirik wajah kekesalan Hana.


......................

__ADS_1


__ADS_2