
Sarapan pagi telah disiapkan Ling ling di meja makan. Disana telah ada Paman Ji, Chen dan Ling ling. Chen terus melirik ke arah pintu masuk ruang makan, yang ditunggunya tetap tak tampak. Chen hanya menatap mangkuknya dengan lesu. Bagi Chen, entah mengapa tak melihat He hua seperti setahun baginya.
"Kak Chen kamu menunggu siapa ayo makan." ucap Ling ling. Sedari tadi Paman Ji melihat Chen hanya menatap mangkuk nasinya lalu ia menyenggol tangan Ling ling agar menegur Chen.
Dua orang dihadapan Chen memang mengetahui dan menyadari bahwa sepertinya Chen menaruh hati pada He hua... siapapun pasti akan menyadarinya. Perubahan sikap Chen begitu kentara 'Pria yang jatuh cinta.'
"Wah sepertinya hari ini Jie jie memasak masakan kesukaanku, baunya sangat harum."
tiba - tiba He hua datang dengan suara merdunya. Hati Chen bagai berbunga-bunga yang dinantikannya sedari tadi akhirnya datang.
"Kamu kenapa kak Chen senyum - senyum tidak jelas." ucap He hua yang segera duduk.
He..he..he
"Tidak, tidak apa-apa. Kalian tahu ini juga termasuk masakan kesukaanku."
__ADS_1
Setelah itu Chen menambah sayuran di mangkuknya. Memakannya dengan lahap dan tersenyum-senyum sambil melirik He hua.
He hua yang merasa kalau sedari tadi dilirik Chen, hanya memutar bola matanya karena jengah.
.
Setelah acara makan selesai He hua meminum ramuan obatnya lalu ia tak sengaja melihat kulit tangan Paman ji yang memiliki ruam sama seperti dirinya.
"Paman apakah tanganmu juga terkena getah tanaman ivy?" tanya He hua sambil memperhatikan punggung tangan tabib Ji hua.
He..he..
Tawa ringan He hua membuat semua orang di tempat itu bertanya-tanya. 'Apanya yang lucu?'
"Semua orang tahu bahwa tidak semua orang memiliki alergi, bahkan tiap-tiap orang yang memiliki alergi pun memiliki alergi yang tidak sama." He hua melirik Paman Ji yang mulai terlihat cemas.
__ADS_1
"Apakah kalian tahu, penyebab alergiku dan alergi paman Ji sama. Sama - sama memiliki alergi terhadap tanaman ivy. Padahal orang yang memiliki alergi terhadap tanaman ivy, sangat jarang."
"Dua orang memiliki alergi yang sama, kebetulankah atau sebenarnya Tuhan sedang menyuruh anda untuk mengakui apa yang sedang anda tutupi bertahun-tahun, bukan begitu 'AYAH' jadi....jujurlah!" ucap He hua dengan tatapan tajamnya dan suaranya dengan nada menekan.
He hua bukan orang yang bodoh. Melihat semua perjuangan Tabib Ji untuk membantu memberikannya kesempatan hidup yang kedua. Semua pengetahuan dan kemampuannya ia kerahkan untuk mengobati He hua. Namun kenapa kebenaran itu tidak ia ungkapkan sedari awal apa yang sebenarnya ia sembunyikan.
Hanya karena janjinya pada teman lama, lalu seseorang rela mempertaruhkan nyawa, kedudukan yang nyaman sebagai seorang tabib besar...omong kosong. Ada beberapa hal yang membuat He hua berpikir bahwa tabib Ji adalah ayah kandungnya. Pertama pesan terakhir ibunya yang mengatakan 'Apapun yang terjadi Tabib Ji Hua adalah orang yg bisa kau andalkan jika sewaktu-waktu kamu memiliki masalah'. Pertanyaannya adalah mengapa tabib itu? apakah hanya karena ia sahabat terpercaya Ibu? Yang kedua semua usaha dan pertolongan tabib Ji mulai dari rekayasa kematiannya hingga saat ini terutama perhatian dan kasih sayangnya. Jika semua pengorbanannya hanyalah karena janji seorang teman kurasa itu agak berlebihan seperti ada alasan mendasar dibalik semua pengorbanan yang ia lakukan. Yang ketiga berdasarkan pengetahuan medis yang diajarkan oleh tabib Ji, kebanyakan orang yang sedarah yang memiliki alergi yang sama apalagi ini alergi yang jarang di alami oleh orang kebanyakan. Kesemuanya itu membuat He hua menarik kesimpulan jika memang ada hubungan darah antara dirinya dengan tabib Ji hua.
Sepersekian detik setelah He hua mengatakan sebuah kebenaran yang tersembunyi selama bertahun-tahun, akhirnya tabib Ji hua angkat bicara. Memulai dengan helaan nafasnya.
Huftt
"Ya kamu benar."
.......................
__ADS_1
Tetap vote, like dan komen ya....😁😁