
Derap langkah kaki orang berlari di keheningan malam "Kenapa tempat ini begitu gelap dan sepi, dimana semua orang?" tanyanya bingung
"Istriku.... Mei'er...Mei'er dimana kamu?" tanyanya lagi sambil berjalan menyusuri lorong istana.
Tiba-tiba seseorang berteriak memanggilnya "Taiyang...taiyang... tolong aku" ucap seseorang yang berlari ke arahnya. Dari suaranya sepertinya itu adalah suara seorang wanita 'apakah dia Mei'er?' batinnya. Taiyang memicingkan kedua matanya, ia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali agar matanya dapat menyesuaikan di kegelapan malam.
Wanita yang tadi berteriak, segera mendekat dan mendekap tubuh Taiyang lalu memeluknya dengan erat. "Taiyang selamatkan aku, aku takut."
Instingnya bergerak untuk waspada, segera Taiyang melepas pelukan wanita itu untuk melihat siapa sebenarnya wanita yang memeluknya.
"Ka..kamu..." teriak Taiyang dengan membelalakkan matanya dan sedikit menjauh.
"Ini aku...Hana...apakah Kaisar tidak mau menolongku, aku takut...hiks...hiks..." ucap wanita itu sambil menangis
Hati Taiyang tergerak untuk mendekati wanita yang menangis itu. Ia merasa tidak tega untuk tidak menghiraukan wanita secantik itu.
Tangannya terulur memegang wajah Hana yang menunduk. Hana pun memegang tangan Taiyang.
"Aku takut...aku takut sendirian. Aku takut terjebak dengan rasa hausku ini...." ucap Hana dengan menatap Taiyang.
"Hi...hi...hi..."
Betapa terkejutnya Taiyang seketika wajah Hana berubah pucat mulutnya menjadi lebar. Kemudian muncul gigi-giginya yang tajam menyeringai menatapnya dengan rasa haus. Dengan cepat ia menggigit leher Taiyang.
__ADS_1
"Tidaakkk Hana" teriaknya
Sekujur tubuhnya penuh peluh, dia terbangun dengan ketakutan yang teramat sangat.
"Ada apa Yang Mulia, apa anda bermimpi buruk?" tanya Permaisurinya
"Apa anda bermimpi tentang Hana?" cecarnya lagi
"Jangan ucapkan namanya lagi! Itu membuat hawa buruk mendekat." teriaknya dengan amarah
"Heh...bukankah Anda sebelumnya terpesona olehnya dan kini setelah mengetahui kenyataannya....hem..ya..baiklah aku tidak akan mengulasnya lagi. Tapi anda sebaiknya bergegas melakukan apa yang seharusnya anda lakukan, demi keselamatan kita semua." ucap Permaisuri
.
.
Beberapa hari kemudian surat itu tiba, surat itu kemudian dibacakan oleh Kasim di depan Raja Qin beserta keluarganya dan beberapa pejabat istana lainnya.
"Yang Mulia." ucap salah satu pejabat
Raja Qin mengangkat satu tangannya. "Keputusan terakhir telah aku ambil. Tidak ada lagi diskusi untuk itu. Segera ambil tindakan sesuai dengan instruksi dan tanggung jawab kalian masing-masing."
Setelah itu para pejabat memberi hormat dan undur diri dari ruangan itu.
__ADS_1
"Berikan waktu untuk aku, Hana dan Tian Zhang untuk saling menyapa." ucap Raja Qin dengan penekanan seolah ada yang ingin ia utarakan secara pribadi untuk anak dan menantunya itu.
Segera setelah mereka semua pergi, ruangan itu menjadi sunyi seolah tempat itu adalah saksi bisu kegugupan Hana berhadapan dengan Ayah mertuanya itu. Bagaimana tidak dulu saat perang terjadi, pria itu berlutut di hadapannya. Dan kini ia yang harus berlutut di depan pria tua itu dan menyebutnya sebagai Ayah Mertua....sungguh takdir yang luar biasa.
"Hana atau He Hua, bagiku itu hanya sebuah nama panggilan semuanya sama saja. Anda adalah orang yang sama meskipun dengan tampilan yang berbeda."
"Ayah...Anda akan membuat Hana merasa tidak nyaman." ucap Tian Zhang yang tak lain adalah Chen long
"Tidak apa-apa suamiku. Ini wajar bagi seorang mertua menyapa seorang menantu yang bertamu. Bukan begitu Ayah Mertua?" ucap Hana dengan tersenyum dan menunduk memberi hormat
"Ha...ha..ha...Lihatlah Tian, dia adalah menantu yang sopan dan pengertian. Mengapa kamu harus berpikir berlebihan?" kelakarnya
Kini dengan tatapan serius Raja Qin berkata "Bendera Perang tak lama lagi akan dikibarkan. Rakyat akan ku ungsikan dan bahan pangan telah tercukupi. Cuma satu yang belum terpenuhi permintaan Ibumu untuk membiarkanmu menjadi Jenderal perang kami." ucapnya kemudian ia menghela nafas berat dan berkata kembali "Hana, aku tahu cinta putraku kepadamu begitu besar. Jika aku mengabulkan permintaan Ibumu, yang aku takutkan adalah...." ucapannya terhenti dengan pandangan matanya seolah jauh menerawang
"Tian Zhang adalah putraku satu-satunya. Kesedihannya adalah cambuk bagiku. Ini sangat berat bagi seorang Ayah."
"Ayah...aku percaya dengan kemampuan Hana." ucap Tian Zhang menguatkan hati Ayahnya
Sambil menatap suaminya Hana berkata "Terima kasih untuk semua dukungan Ayah terlebih suamiku. Tapi saya bisa meyakinkan kalian, jika saya adalah yang terpilih. Perang ini mau tidak mau adalah jalan untuk menumpas kejahatan makhluk itu. Dia akan datang untuk menyaksikannya dan itu adalah kesempatan emas untuk memusnahkannya." ucap Hana tegas dan mantap
.......................
Author ucapin makasih sekali lagi buat yang udah komen dan pengertian kalian meskipun author sering telat untuk Up nya...🙏🏻🙏🏻 Author merasa sangat-sangat dihargai oleh kalian selama ini...tetap semangat kasih author dukungan ya lewat coment, like apapun itu yang bernilai kebaikan terima kasih banyak...apalagi doa..wah author sangat bersyukur sekali🥰🥰 terima kasih pada semua readers.
__ADS_1