Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
25. Awalnya


__ADS_3

Sepersekian detik setelah He hua mengatakan sebuah kebenaran yang tersembunyi selama bertahun-tahun, akhirnya tabib Ji hua angkat bicara. Memulai dengan helaan nafasnya.


Huftt


"Ya kamu benar. Aku adalah ayah kandungmu."


Tabib Ji menceritakan semuanya.


Saat itu tabib Ji muda masih menjadi tabib keluarga Panglima Perang 'Jian Lan' dan juga merupakan orang kepercayaan Panglima Perang tersebut.


1 tahun pasca perang yang dimenangkan oleh Kerajaan Matahari terhadap Kerajaan Ming, pengobatan masih terus dilakukan. Memang tubuh sang panglima mengalami kemajuan namun rasa sakit yang menyerang kakinya saat malam dan nyeri perut bagian bawah yang kadang dialaminya menjadi pikiran berat untuk sang tabib. Tidak ingin ketakutannya menjadi kenyataan, tabib Ji berpamitan pada sahabatnya untuk menemukan obat yang efektif.


Pencarian beberapa hari di tepian pantai itu membuahkan hasil, beberapa tanaman obat langka yang hanya tumbuh setahun sekali di dekat tepi pantai berhasil ia kumpulkan. Saat selesai mengumpulkan tanaman obat itu, pandangan tabib Ji hua muda menangkap sesosok tubuh perempuan tertelungkup. Dia mendekatinya dan memeriksa kondisinya karena bagaimanapun ia adalah tabib yang berkewajiban menolong orang. Perempuan itu masih muda berkulit putih dan berambut pirang, rambutnya yang panjang tampak menutupi wajahnya. Namun betapa terkejutnya Tabib Ji saat membalikkan tubuh perempuan itu separuh wajahnya sangat mengerikan seperti pernah mengalami luka bakar.


Tabib Ji memberanikan dirinya untuk mengobati perempuan itu dengan ramuan obat yang berada dalam tas obatnya. Namun setelah ditunggu beberapa saat dan gadis itu tidak juga sadar akhirnya...


"Nona maaf kelancangan saya." dengan terpaksa tabib Ji membawa tubuh gadis yang masih pingsan itu dengan kudanya.


.


3 hari berlalu.


Tabib ji begitu telaten mengurus dan mengobati perempuan itu, dibantu pelayan wanita di kediaman Jian Lan untuk mengurus keperluan pribadi perempuan itu mulai dari menyeka tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


Saat tabib Ji akan melakukan pemeriksaan, ia melihat wajah gadis itu tertutupi oleh rambutnya sendiri. Tangannya menjulur hendak menyingkap rambut itu namun tiba-tiba secara mengejutkan...

__ADS_1



gadis itu membuka matanya. Tabib Ji begitu terkejut sampai mengelus dadanya seakan jantungnya melompat melihat gerakan mata terbuka secara mendadak.


Akhh


"Nona akhirnya anda sudah sadar. Apakah kamu haus?" ucapnya sambil menetralkan detak jantungnya.


Gadis itu menjawab dengan anggukan kepala.


Tabib Ji mengulurkan segelas air pada gadis itu.


Gadis itu berusaha untuk duduk dan meminum air di gelas itu hingga habis.


"Siapa namamu Nona?"


"Jika kau tidak percaya padaku, tidak usah memaksakan diri."


"Audrey...namaku itu namaku."


suara gadis itu begitu merdu menggelitik hati tabib Ji.


"Sepertinya kamu bukan dari benua ini."


"Ya, aku dari benua barat. Saat aku pulih aku akan menceritakan semuanya. Namun satu hal apakah kamu berjanji tidak akan mengusirku apapun yang akan terjadi."

__ADS_1


"Ya akan ku usahakan."


.


Hari berganti hari tahun berganti tahun. Walaupun wajah Audrey buruk namun kepribadiannya yang begitu bersahaja membuatnya terlihat cantik di mata Tabib Ji. Dengan keberaniannya tabib Ji menikahi Audrey. Setelah satu tahun menikah istri tabib Ji, Audrey hamil anak pertama mereka.


Namun sesuatu yang tidak dibayangkannya terjadi kemudian. Panglima perang yang kini menjadi menteri pertahanan mengajak tabib Ji bicara empat mata diruangan kerjanya.


Awal pembicaraan diawali dengan ucapan selamat pada kawannya, namun setelah hal yang sangat tak terduga diucapkan.


"Aku ingin anak pertamamu menjadi anakku."


sempat tertegun sejenak tabib ji tertawa ringan


Hehehe


"Jian sahabatku, anakku tentu saja akan menjadi anakmu juga. Dan nanti jika kamu memiliki anak, anakmu juga akan menjadi anakku."


Prank


Gelas di meja itu dibanting ke lantai oleh Jian Lan. "Kamu tahu sendiri kelumpuhanku waktu itu membuat syarafku mati dan akupun menjadi mandul lalu bagaimana aku bisa memiliki anak. Dan istriku apa kau tahu tiap hari ia mendengar beberapa pelayan menertawakannya 'rupa yang cantik tidak menjamin bisa memiliki keturunan. Tuhan lebih menyayangi audrey'. Aku begitu kasihan padanya, aku tidak bisa membelanya. Aku begitu pengecut. Aku malu dengan kondisiku."


"Sabar kawan jangan emosi. Bagaimanapun ini adalah kehendak Tuhan. Bersyukurlah bahwa kamu masih bisa menikmati semuanya." seru tabib Ji menenangkan luapan amarah sahabatnya.


....................

__ADS_1


wow alurnya ceritanya makin panas. Yuk para readers please donk masak iya baca doang, kasih donk author ini jempolnya berupa like dan vote maupun komentar biar author semangaat lagi 😭😭


__ADS_2