Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
87. Noda merah


__ADS_3

Seseorang melesat menggunakan pakaian serba hitam, melompat dan memanjat pohon besar dengan cepat. Kemudian ia mengeluarkan satu botol kecil dari bajunya lalu menaburkan isi keseluruhan botol itu ke tubuhnya. Ia bersembunyi memanfaatkan rimbunnya pepohonan disana sambil mengedarkan pandangannya mengamati situasi untuk melakukan pengamatan.


Tempat ini ternyata adalah halaman belakang kediaman Ibu Suri. Halaman yang luas dengan bermacam-macam tanaman dan yang paling mencolok adalah banyaknya bunga mawar dibandingkan tanaman lainnya. Tak ada tempat lain di istana yang menawarkan pemandangan mencolok seperti ini. Tapi tak satupun pengawal yang terlihat berjaga di tempat ini. Bahkan tak ada satupun pelayan yang berkeliaran di sini 'ini sangat aneh'.


Tak lama seorang pelayan terlihat membawa bungkusan yang tak terlalu besar menyita perhatian Audrey yang sedang bersembunyi. Pelayan itu terlihat menggali tanah dengan santainya tak ada yang aneh, ia hanya seperti pelayan yang akan menanam bunga. Awalnya Audrey tak terlalu memperhatikan kegiatan pelayan itu, tapi tunggu dulu ada noda merah pada bungkusan itu!


Setelah dirasa cukup dalam, pelayan itu berhenti menggali. Ditariknya bungkusan itu dan langsung dibenamkan dalam lubang galiannya setelah itu ia menutupinya dengan tumpukan tanah dan menanamkan bunga mawar diatasnya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia tersenyum penuh makna.


'Apa isi bungkusan itu, kenapa ia langsung membenamkan tanpa membuka bungkusan itu' batin Audrey. Dan senyum pelayan itu terlihat mengerikan siapa pelayan itu bukankah itu adalah Liwei, pelayan spesial Ibu Suri.


.


Hana sangat cemas sudah 1 jam lamanya dan ibunya tak kunjung kembali.


"Ada apa Hana? apa yang kamu pikirkan?" tanya Kaisar sambil mengamati wajah Hana

__ADS_1


"Tidak ada Yang Mulia, hanya saja saya memikirkan Ibu saya yang mungkin kelelahan berjalan jauh menuju dapur istana untuk memasak obat." ucap Hana memalingkan wajahnya karena tidak ingin menatap wajah Kaisar


"Hana, jika kita berdua panggil aku Kak Taiyang saja. Bukankah kita sudah berteman? tidak perlu sungkan. Untuk Ibumu, aku akan meminta pelayan untuk menjemputnya menggunakan kereta kecil istana agar Ibumu tidak terlalu kelelahan." ucap Kaisar dengan nada meyakinkan.


Tak lama kasim mengumumkan kedatangan Pangeran Zhang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan Pangeran Xiang (keberuntungan). Pangeran Zhang tersenyum lebar saat ini karena akan bertemu Hana. Pangeran Zhang tahu dari beberapa pelayan bahwa orang nomer satu itu sakit dan saat ini sedang diobati oleh Hana, tabib wanita yang berwajah bidadari begitu mereka menyampaikannya padanya. Padahal tadi malam sangat jelas ia bertemu dengan kakaknya dan dia terlihat baik-baik saja, tapi kini semua orang memperbicangkan karena ia sakit. Luar biasa taktiknya 'dia pasti memiliki maksud tertentu setelah melihat wajah Hana' batin Pangeran Zhang. Ia sangat mengenal watak kakaknya itu. Maka siang ini dia mengajak Pangeran Xiang yang merupakan anak pertama dan satu-satunya dari Kaisar dan Permaisuri Mei lan dengan alasan menjenguk Ayahnya yang sakit untuk mengingatkannya ia telah memiliki banyak istri dan seorang putra.


"Ayah...." teriak Pangeran Xiang dan menghambur ke pelukan pria itu


Hana memperhatikan interaksi keduanya, dia adalah anak yang terlahir akibat perselingkuhan Kaisar dan Mei lan sepupunya. Membuat hubungan antara He hua dan Kaisar dahulu semakin merengang. Tapi kini Hana sama sekali tidak menaruh kecemburuan baginya Xiang adalah anak yang lucu, kehadiran bocah itu adalah takdir.


Tak ada anak yang bisa meminta dilahirkan dari orang tua mana dan dalam kondisi bagaimana. Semua anak terlahir suci lalu bagaimana bisa Hana menyalahkannya, tidak! Kini Hana memandangnya dengan penuh kasih baginya anak itu sungguh menggemaskan dengan pipinya yang bulat seperti tomat.


"Yang Mulia!" ucap Hana bangkit dari duduknya dan memberi salam.


"Sudahlah tak perlu sungkan. Kita kan berteman. Apa pemeriksaannya selesai?" tanya Pangeran Zhang

__ADS_1


'Apa-apaan 2 pria ini mengapa mereka mengatakan 'berteman' seolah ada makna dalam yang terkandung didalamnya' batin Hana


"Jawab Yang Mulia, pemeriksaan telah selesai. Kini tinggal menunggu......" ucapan Hana terhenti saat Pangeran Xiang mendekati Hana sambil berkata "Tabib, kamu tabib?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca


Hana berlutut lalu mengangguk "Benar Yang Mulia."


"Ayah satit apa?"


"Yang Mulia hanya kelelahan. Pangeran Xiang sungguh khawatir? Jangan menangis Ayah Yang Mulia baik-baik saja sekarang." ucap Hana dengan lembut


"Aku takut Ayah...hiks...hiks" ucapnya seraya menghapus air matanya yang terjatuh di pipinya


"Sudah...sudah.. laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki harus kuat." ucap Kaisar sambil memeluk sambil mengusap-usap punggung anak kesayangannya itu


'Kuat? katakan itu pada dirimu kakak. Anda membuat kehebohan dengan mengatakan sakit hanya demi bertemu Hana.' batin Pangeran Zhang tersenyum paksa.

__ADS_1


..........................


Makasih untuk semua dukungannya pada authorπŸ™πŸ™. Author akan berusaha sekuat tenaga, jiwa dan raga. Namun maafkanlah author yang di hari yang Fitri banyak kesibukan membuat kuker untuk suguhan. Karena kuker yang telah jadi kemaren telah habis dimakan anak author sendiri πŸ˜‚πŸ˜‚ mohon maklum ya readers. Terus dukung author ya dengan like dan comment makasih banyak πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2