
Setelah menangis semalaman Hana tertidur di pelukan Chen long. Chen long memindahkan posisi Hana dan menidurkannya ke ranjang lalu menyelimutinya. Ia menatap wajah Hana dan memegang tangannya "Maafkan keterlambatan ku. Bisakah kamu melupakan dia dan memulainya dari awal bersamaku?" ucapnya dengan lembut. Chen long menatap wajah Hana dengan sendu, ia mendekat hendak mencium kening istrinya itu namun ia mengurungkan niatnya "Aku tidak akan mendekatimu tanpa seijinmu" sambil meletakkan kembali tangan Hana.
Chen long mengambil sebuah selimut tebal dilipatnya dan ia taruh di antara dirinya dan Hana, kemudian ia berbaring di sampingnya untuk istirahat. Tadinya ia ingin segera tidur setelah sampai namun Qiang memberitahunya bahwa semua barang-barangnya telah dipindahkan ke kamar Hana atas perintah Nyonya Audrey. Belum lagi pembicaraan Hana dan Fangyin yang sempat didengar olehnya. Ia memutuskan untuk menunggu sejenak diluar kamar setelah mendengar Hana menangis tersedu-sedu. Ia sungguh tidak tega mendengarnya, meskipun Hana saat ini belum bisa menerimanya namun ia yakin perlahan Hana akan membukakan pintu hatinya... semua butuh waktu.
Chen long mengingat bagaimana dulu tiba-tiba Nyonya Audrey menemuinya di luar Hutan Sunyi, ia mengatakan bahwa Hana telah menerima pesan itu. Dan itu berbahaya jika mereka tidak segera melangsungkan pernikahan untuk menyamarkan auranya. Ia harus berpikir ribuan kali sebelum menyetujuinya. Ia tidak ingin dituding memanfaatkan keadaan Hana tapi ia juga tidak ingin Hana dalam bahaya. Maka ia pun memantapkan hatinya untuk menikahi Hana. Dan yang paling mengejutkan adalah persetujuan Ayah Chen long atas pernikahan mereka. Padahal ia tahu Raja Qin yang merupakan Ayahnya sangat membenci Hana. Namun permintaan Chen long yang ditulisnya dengan sebuah surat dengan cap stempel Nyonya Audrey dapat langsung mendapatkan balasan persetujuan dari Ayahnya.
Dan benar saja saat ia pulang, kebenaran itu ia dapatkan. Raja Qin berhutang budi pada Audrey kala itu karena pernah menyelamatkan hidupnya. Tapi tidak sesederhana itu, Raja Qin ternyata juga setuju dikarenakan mengetahui latar belakang siapa Audrey dan siapa Hana sebenarnya. Dari siapa Ayah Chen long mengetahui itu, tentu saja dari ibu mertuanya. Bahkan ia sangat takjub sepak terjang mertuanya itu yang cepat dan tepat. Audrey adalah anak sah dari Kaisar Ming yang telah wafat. Yang otomatis Hana juga adalah penerus kerajaan barat. Ditambah Chen long adalah putra laki-laki satu-satunya Kerajaan Qin. Pernikahan yang menguntungkan bukan.
Tapi Chen long tidak ingin itu semua, harta dan kekuasaan hanya penghias kehidupan. Ia hanya ingin hidup damai bersama Hana meskipun itu sulit dengan apa yang akan dilalui Hana nantinya. Yang pasti Chen long telah memikirkan semuanya itu. Pasangan suami istri sudah seharusnya menghadapi semua bersama dalam suka maupun duka.
.
Keesokan harinya.
Hana dan Chen Long merasa sangat nyaman saat tidur bahkan tak menyadari hari sudah siang mereka belum juga keluar dari kamarnya.
Bahkan saat sarapan pagi telah usai beberapa jam yang lalu mereka tetap belum juga nampak. Fangyin yang gusar saat menjaga toko berulang kali menjatuhkan kotak obat bahkan ia seperti lupa dimana letak obat yang diminta pelanggan.
"Jika ada yang mengganggu pikiranmu sebaiknya istirahat saja." ucap Qiang yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan Fangyin.
Mmm...
"Ya aku memikirkan Hana. Kenapa dia belum keluar kamar sejak tadi malam, dia bahkan belum sarapan." ucap Fangyin sedih
"Itu kan tadi malam. Yang kutahu Chen Long sudah pulang. Sudah ada suami yang menjaganya, lagipula dia bukan anak kecil." ucap Qiang datar
"Anda benar tapi...." ucap Fangyin namun ia celingukan karena melihat Qiang ternyata sudah tidak ada disana...'Ais cepat sekali perginya'
Lalu ia melihat rupanya ada yang mengantar bahan obat ke toko. Qiang dan pekerja pengantar itu sibuk memindahkan bahan obat. Melihat kesibukan keduanya, Fangyin ikut membantu mengangkat bahan-bahan obat tadi dan memasukkan ke dalam toko. Setelah beberapa puluh menit akhirnya selesai.
Qiang melihat Fangyin meniup-niup tangannya yang rupanya tergores dengan tajamnya sudut kotak kayu yang ia bawa tadi. 'Jika gadis lain pasti akan menjerit dan menangis karena luka di kulitnya' batin Qiang. Ia lalu berinisiatif mendatangi Fangyin dan memberikan salep obat untuknya. "Ini" ucapnya singkat.
__ADS_1
"Kak Qiang, terima kasih." ucap Fangyin sambil tersenyum. 'Dia sangat perhatian' batinnya.
Hemm
Qiang hanya berdehem untuk menjawab ucapan Fangyin lalu menundukkan kepalanya seperti mengiyakan kemudian masuk ke ruang penyimpanan obat. Ia bersandar di dinding sambil memegang dadanya, apa dia sudah gila? jantungnya berdetak cepat setelah melihat senyuman Fangyin. Fangyin memang berbeda dari gadis lainnya. 'Ia pekerja keras, perhatian dan manis, aish apa yang ku pikirkan' batin Qiang sambil menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikirannya yang penuh dengan gambaran senyuman Fangyin tadi.
"Kak Qiang terimakasih, ini aku kembalikan obatnya." ucap Fangyin sambil menyodorkan salep obat di tangannya.
"Eh...Hemm..."
Qiang sedikit terkejut tapi ia hanya berdehem untuk menjawabnya kemudian berdiri dari duduknya dan berniat pergi dari sana karena tidak ingin terlalu lama bersama Fangyin.
"Apa kamu menghindariku kak?" tanya Fangyin sambil mencegah Qiang untuk lewat.
Langkah Qiang terhenti "Tidak" ucapnya singkat.
"Boleh kita bicara berdua sebentar?" tanya Fangyin
"Tidak. Tidak disini. Aku tidak ingin timbul perkataan yang akan menyudutkan dirimu."
"Ya..mmm..maksudku jika itu nanti malam, aku akan mengajak Chen Long dan....."
"Dan aku akan mengajak Hana." ucap Fangyin sambil tersenyum
Hemm
Jawab Qiang kembali, ia jadi salah tingkah lalu bergegas pergi keluar.
"Aiya...Dia selalu berkata hemm."
.
__ADS_1
Di klinik rumah Hua
Sebuah kereta kuda berhenti tepat di depan klinik. Seorang pria bertubuh tegap turun dari dalam kereta dan mempersilahkan orang selanjutnya untuk turun. Rupanya itu adalah Hang dan Pangeran Zhang. Hang kemudian mengambil sebuah bingkisan dari dalam kereta. Mereka cukup menarik beberapa pasang mata di sekitarnya, tentu saja karena ketampanan mereka ditambah kereta yang bagus memiliki simbol matahari tentu saja semua orang tahu, orang-orang ini berasal dari kerajaan.
Sambil menggerak-gerakkan kipasnya Pangeran Zhang memperhatikan situasi di klinik yang cukup ramai tapi tertib. Hongli mengenali Pangeran Zhang dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Silahkan Yang Mulia. Saya akan memanggilkan tabib Ji, beliau masih memeriksa beberapa pasien." ucap Hong li dengan sopan
"Ya tidak apa-apa. Saya akan menunggu." ucapnya sambil tersenyum.
Hong li segera menyampaikan kedatangan Pangeran Zhang pada tabib Ji. Tak berapa lama Tabib Ji dan Audrey menemui mereka.
"Wah sungguh keberuntungan Yang Mulia datang ke kediaman kami." ucap Tabib Ji seraya memberi hormat demikian pula Audrey yang juga menundukkan kepalanya sambil memberikan salamnya.
Pangeran Zhang memberikan sebuah bingkisan untuk tabib Ji "Ah Anda terlalu sungkan Yang Mulia, saya dan keluarga sangat berterima kasih. Adakah yang Anda perlukan sehingga Yang Mulia menyempatkan singgah kerumah kami?"
"Saya lihat klinik anda selalu dipenuhi oleh pasien. Bahkan pasien dari tempat jauh pun datang kemari. Bagaimana jika Saya berikan bantuan berupa rumah yang khusus untuk menangani pasien sehingga anda beserta keluarga bisa leluasa memeriksa pasien. Bagaimana?" ucap Pangeran Zhang
"Wah ide Anda sungguh bagus dan...." ucapan Tabib Ji terpotong dengan suara Hana
"Ibu...Ibu"
Audrey segera bangkit dari duduknya "Maaf saya permisi sebentar"
tapi Hana telah menuruni tangga beberapa pasang mata menatapnya "Ibu, aku akan memasak siang ini. Bagaimana anda ingin makan apa hari ini?"
Hana menoleh kenapa seperti ada yang menatapnya, Ibu menatap Hana memberi kode dengan mengeryitkan dahinya. 'Ada apa? Oh ada Pangeran Zhang' batin Hana
"Salam kepada Pangeran Zhang." ucap Hana sambil tersenyum.
Tabib Ji dan Audrey menepuk dahi mereka, sementara mata Hang dan Pangeran seperti tak bisa berkedip menatap Hana.
__ADS_1
'Apa ada yang salah?' batin Hana
............................