
Chen long mondar mandir di depan kamar He hua dan Ling ling. Dia bingung apakah harus masuk ke kamar itu atau tidak?
'Yang jelas sebagai kakak, dia mengkhawatirkan adiknya. Ya hanya sebatas karena merasa kakak. Betul kalau begitu mengapa harus malu atau berpikir ini salah masuk dalam kamarnya? tidak kan. Aku kakaknya yang ingin tahu kondisi adiknya titik.'
.
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu sedikit membuat He hua merasa terganggu tidurnya. Obat yang diminum He hua memberikan efek kantuk jika lebih banyak istirahat otomatis gerakan aktivitas tubuh bisa berkurang dan tentu saja itu akan mengurangi rasa gatalnya.
Mmm..
"Siapa?"
"A..aku Chen. Bolehkah aku masuk?"
"Jangan! Kak Chen jangan masuk. Ada perlu apa? katakan saja dari sana"
Bukannya He hua tidak tahu niat Chen long mengetuk pintunya, ia sangat tahu Chen berniat menjenguk dirinya namun situasinya saat ini ia hanya memakai baju tidur putih yang tipis. Sangat tidak nyaman jika seorang pria melihat dirinya dengan kondisinya saat ini. Gatal-gatal ditubuhnya membuatnya tidak nyaman kalau harus memakai pakaian sehari-hari.
"Aku tahu dari Ling ling katanya kamu sakit. Jadi aku ingin menjengukmu hanya itu tidak lebih."
'Hais apa yang aku katakan. Kenapa harus aku sebutkan Tidak lebih.' batin Chen long
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Paman Ji sudah memberiku obat. Mungkin besok sudah lebih baik. Kak Chen tidak usah khawatir. Kamu bisa pergi sekarang."
He hua mengusirnya, ia merasa tidak nyaman jika ada pria yang berada diluar kamarnya.
Hmm
"Baiklah aku akan pergi. Semoga Tuhan segera memberikan kesembuhan untukmu."
Baru beberapa langkah saat Chen long beranjak pergi, tiba - tiba terdengar suara
prangg
Chen long yang khawatir tak lagi memikirkan mengenai sopan santun. Ia segera bergegas masuk membuka pintu kamar dan melihat pecahan mangkuk obat berserakan di lantai.
Tapi yang ditanya malah memejamkan mata karena kesal.
Chen long begitu terperangah melihat sosok dihadapannya... perempuan cantik yang begitu mempesona terbalut kain tipis begitu indah, kecantikan alaminya bak seorang bidadari.
Begitu terpesonanya hingga tanpa sadar tangannya akan meraih wajah cantik dihadapannya.
Begitu sadar Chen long melihat He hua yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Cepat keluar!" ucapannya begitu dingin siapa pun yang mendengarnya pasti tahu suara dan ekspresinya seperti menahan emosi..bak gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya.
Sebuah suara mengejutkan mereka berdua...
"Mei mei aku mendengar suara gaduh jadi aku kesini, apa yang terjadi?"
"Hanya mangkuk yang pecah...mmm baiklah karena aku sibuk berlatih pedang tadi, aku akan meneruskan latihanku." ucap Chen long dan bergegas pergi.
"Mei mei wajahmu kenapa memerah begitu?"
Yang ditanya malah ngomel-ngomel..."Dasar laki-laki itu. Seenaknya dia masuk dan sok perhatian. Aku sangat tidak suka pada perhatiannya."
"Siapa mei mei..Kak Chen..ehem hati-hati jangan terlalu tidak suka. Karena biasanya tidak suka itu bisa menjadi suka." Ling ling memberinya nasehat.
Tapi yang diberi nasehat malah kesal. Ia mengumpulkan pecahan mangkuk itu sambil bibirnya mengerucut tampak lucu sekali.
Ling ling yang melihatnya hanya menahan senyum, ia tak ingin He hua tambah kesal melihat senyumannya. Padahal betul kan.
'Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, terkadang kita begitu membenci sesuatu bisa jadi malah itu yang terbaik untuk kita.' bathin Ling ling
..................
Hai semua readers....ayuk dong jangan cuman baca aja, masak gak kasihan sama author hiks...hiks... Kasih dukungan pada author berupa vote dan like itung-itung buat pahala 😁😁 buat yang terus dukung author...berupa komen, like dan vote terimakasih banyak ya 😘😘😘
__ADS_1