
"Pengawal lindungi kami!" ucap Taiyang memberi perintah karena ia dan Zhang Junda tak membawa pedang sebagai alat untuk perlindungan. Semua orang berteriak dan terkejut melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mengerikan perilaku kejam makhluk itu mengejar Kaisar dan membunuh prajurit yang melindunginya. Belum lagi selesai keterkejutan semua orang tiba-tiba sepuluh orang prajurit berubah seperti Kasim itu. Jadilah suasana di aula tersebut menjadi kegaduhan seolah tempat itu menjadi tempat pembantaian. Ada yang berlari menyelamatkan diri, ada yang bersembunyi bahkan ada yang hanya menjerit-jerit karena ketakutan tak bisa berbuat apapun.
Tapi lucunya Raja Qin, Audrey, Tian Zhang dan Hana tak terpengaruh dengan pemandangan itu, mereka cuman menonton seolah-olah seperti melihat pentas seni. Luar biasa!
"Kenapa monster-monster ini masih ada, padahal aku sudah menghabisi Hermosa?" gumam Hana dengan heran.
"Apakah mereka tidak terdeteksi olehmu? Mungkin mereka jenis baru. Licik! Ibu mungkin melakukan sesuatu dengan darahnya, ia menyiapkan rencana cadangan." jawab Audrey
"Baiklah Ibu, tampaknya sang penyelamat itu sudah mulai kewalahan. Kita harus membantunya." ucap Hana yang berdiri dari duduknya
Melihat istrinya peduli dengan mantan suaminya, maka Tian Zhang pun ikut berdiri sambil berceloteh "Ah benar juga jangan sampai ia terkencing di celananya, tentu itu akan sangat memalukan di depan mantan istrinya."
Mendengar suaminya berucap seperti itu Hana merasa sedikit tersentil hingga matanya melirik suaminya itu...'Ah suamiku ini, cemburu di tempat yang salah'. "Sayang, jangan berulang kali menekankan kata mantan. Lagipula ini soal kemanusiaan." jawab Hana dengan sabar.
Melihat anak dan menantunya, Raja Qin sampai geleng-geleng kepala 'Mereka ini' batinnya
Audrey tersenyum kecil melihat drama rumah tangga putrinya hampir sama dengan ia dan suaminya. "Ayo anak-anak!" ajaknya, ia lalu segera melompat dan mendekati para monster itu yang sudah melukai bahkan membunuh beberapa prajurit
"Tunggu Ibu!" seru Hana yang dengan cepat berlari dan langsung menerjang tubuh seorang prajurit monster
__ADS_1
"Ayah bawa ini untuk berjaga-jaga. Pengawal juga akan melindungi anda." ucap Tian Zhang menyerahkan sebuah pedang
"Pergilah, bantu mereka." perintah Raja Qin
Tian Zhang yakin bahwa Kasim dan prajurit itu hanya akan mengejar Ibu Suri, Zhang Junda terutama Taiyang. Karena itulah ia cukup merasa aman meninggalkan ayahnya apalagi Ayahnya tidak sendiri, prajurit dari kerajaan Qin dengan sigap mendobrak masuk mendengar keributan di dalam aula dan berjaga di sekitar Raja Qin.
Kini Taiyang seperti terkena karma karena Ia berbohong mengakui ke semua kerajaan bahwa ia adalah sang Penyelamat. Tentu hal buruk seperti ini tidak akan ia duga.
Hana melawan seorang prajurit, kecepatan dan ketangkasan mereka hampir menyerupai menteri keuangan namun kekuatan mereka tetap tidak sama dengan prajurit monster di peperangan waktu itu. Mereka juga tak bisa mengalahkan kekuatan dan kecepatan menteri keuangan dan putrinya, kemampuan mereka hanya sedikit melebihi manusia pada umumnya. Namun yang paling bisa dilihat yaitu mereka masih memiliki kesadaran pikiran. Hal ini memang sangat menguatkan argumen Audrey sebelumnya bahwa Hermosa melakukan sesuatu dengan darahnya.
Hana meninju perut kemudian menendang wajah prajurit itu sangking kuatnya tendangan Hana, sampai-sampai prajurit itu terjatuh memuntahkan darah dan gigi-giginya langsung rontok berserakan. Tapi ada keanehan lagi prajurit itu memuntahkan darah yang merah bukan hitam seperti prajurit sebelumnya. Itu atinya mereka tetap manusia tapi dengan kekuatan yang melebihi manusia normal. Sial! Mereka bereksperimen.
Prajurit itu melawan dengan kuku panjangnya hendak mencabik tubuh Hana namun sayang Hana berhasil menangkis serangannya dengan pedangnya dan mendorongnya mundur. Prajurit itu berlari lalu melompat dan melayangkan tangannya ke kepala Hana dengan sigap Hana menyilangkan pedangnya dan mendorongnya kembali. Ia lalu dengan cepat menyerang prajurit itu kembali dengan pedangnya, prajurit itu menghadang gerakannya dengan tangan kosongnya hingga darah mengalir membasahi pedang Hana. Rupanya itu hanya serangan untuk mengecoh prajurit itu saja karena kemudian tangan kiri Hana mengambil pisau kecil yang terselip di ikat pinggangnya dan menikam dengan kuat dada prajurit tepat dimana jantungnya berada.
Akh!! jerit prajurit itu kesakitan karena baru seorang prajurit monster inilah yang melemah tak berdaya saat melawan Hana.
Prajurit itu terjatuh tergeletak bersimbah darah namun matanya masih belum menunjukkan redupnya kehidupannya. Tak mau ambil resiko jika prajurit itu bangun kembali, Hana lalu mengambil kesempatan itu untuk menebas kepalanya hingga terpisah dari tubuhnya.
Tak ada pergerakan lagi, prajurit itu benar-benar telah mati.
__ADS_1
"Ibu, Suamiku tikam jantung mereka lalu penggal kepala mereka." teriak Hana yang kembali melawan seorang prajurit monster lainnya.
Teriakan Hana tidak hanya di dengar oleh Audrey dan Tian Zhang. Zhang Junda, Taiyang, Ibu Suri dan semua prajurit yang terdesak oleh serangan Kasim dan beberapa prajurit monster itu hingga Zhang Junda berteriak "Berikan aku pedang!" perintahnya. Jendral Keamanan langsung melemparkan sebilah pedang.
Jendral Keamanan Kerajaan Matahari pun ikut berteriak memberi semangat "Jangan takut. Ikuti perintah Putri Hana tikam jantung dan penggal kepala mereka!" teriaknya pada prajurit yang melindungi Ketiga Pembesar Kerajaan itu dengan pertahanan berkeliling di sekitar mereka bertiga.
"Serang mereka, serang!" perintah Taiyang sambil memegang tangan Ibu Suri
Mei lan berteriak meminta tolong saat salah satu prajurit monster berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke aula. Ternyata tanpa semua orang ketahui, seorang prajurit monster menangkap Permaisuri.
"Tolong...tolong. Seseorang tolong aku. Suamiku tolong aku." jeritnya ketakutan dengan air mata yang deras mengalir di kedua matanya
Kasim monster itu tersenyum saat prajurit monster itu menyerahkan Permaisuri ke tangannya "Kerja bagus." ucapnya
"Akh...jangan..jangan..lepaskan aku, ku mohon" jeritnya histeris
"Diam. Semuanya berhenti!" teriak Kasim itu dengan lantang
" Tidak ada yang boleh bergerak dan keluar dari tempat ini. Jika tidak, aku tidak akan segan memisahkan kepala Istri kesayangan Kaisar dari tubuhnya." ucapnya kembali membuat semua orang berhenti dan melihat Kasim yang sedang memegang leher Permaisuri dengan tangan kirinya yang normal sementara tangan kanannya memiliki kuku panjang dan tajam yang terarah ke leher Permaisuri.
__ADS_1
..............................