Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
67. Pemujaan Sesuatu yang lain


__ADS_3

Nyonya Chyou dan pelayannya terkejut dengan keanehan itu tapi mereka tidak berani bertanya.


"Sa...sakit. Ampuni Aku." ucapnya mengiba


"Tuhan tidak mengijinkanmu menyakiti manusia, katakan ini keinginanmu sendiri atau ada yang menyuruhmu?" ucap Hana mendekati bayi itu dengan aura yang mengancam.


"Pria keluarga ini meminta kekayaan pada tuanku. Aku hanya menjalankan perintah tuanku." melihat Hana yang lengah bayi itu kembali mengumpulkan kekuatannya untuk pergi dari tempat itu.


Grep


"Mau kabur kemana?" ucap Hana sambil mencengkeram leher bayi aneh itu. "Aku belum mengatakan pesanku kamu malah ingin kabur. Katakan pada tuanmu, jangan ganggu keluarga ini lagi jika tidak, kalian akan tahu akibatnya." Hana mengepalkan tangan kirinya hingga jari-jarinya berbunyi lalu Hana melepaskan cengkeramannya. Bayi aneh itu pergi dengan merangkak cepat ke luar rumah, ia seperti tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan gadis itu. Hana menatap ke sudut rumah tampak beberapa makhluk lain menatap Hana dengan ketakutan. "Jangan mengusik jika tidak ingin diusik" ucap Hana dengan tatapan tajam.


Sungguh mereka adalah musuh yang nyata. Hanya manusia dengan iman yang kuat yang ditakuti oleh mereka.


Mmmm


"Ibu"


suaranya seperti seseorang yang bangun dari tidurnya. Mendengar suara itu mereka berbalik dan melihat Anchi yang sudah sadar.


"Anakku sayang, apa kamu merasa sudah baikan? Minumlah dulu sayang." Nyonya Chyou dan memberikan segelas air.


"Tabib dan juga Nona...."


"Hana" jawab Hana


"Aku ucapkan terimakasih. Tadi apa itu?" tanya Nyonya Chyou sambil menunjuk bekas retakan yang cukup dalam di tembok kamar.


"Sesuatu yang lain. Dia tidak akan mengganggu Anchi lagi. Ia berasal dari kiriman seorang dukun." jawab Hana.


"Dukun? Tapi kenapa? Anchi tak pernah menyakiti siapapun." ucap Nyonya Chyou bingung.


"Apa anda memiliki anak laki-laki?" tanya Hana

__ADS_1


"Tidak. Anakku hanya 1 Nona."


"Kalau begitu sebaiknya kita menanyakannya langsung pada kepala keluarga ini?" ucap Hana.


.


Di sebuah ruang kerja seorang pria bertubuh tinggi dan kurus sedang menjamu 2 orang tamu dan seorang wanita paruh baya.


"Katakan saja keperluan anda?" ucap pria itu yang merupakan kepala keluarga dirumah itu.


"Saya adalah tabib yang mengobati putri anda, dia mengalami gangguan kesehatan serius namun setelah memeriksanya lebih lanjut ia sepertinya hanya mengalami gangguan kurang tidur." jelas tabib ji


"Lalu?" tanya Tuan Chyou seakan acuh sambil membolak-balikkan kertas pembukuan yang ada di atas mejanya.


Hana menatap Ayahnya, ia seperti tidak terima Ayahnya tidak dihargai seperti itu. Tabib Ji memberikan kode agar Hana bersabar.


"Syukurlah saat ini ia telah sehat dan...." ucapan Tabib Ji terhenti ketika Tuan Chyou merubah posisi duduknya dan mengambil kotak yang ada di dalam laci meja kerjanya.


"Ya...aku mengerti berapa biayanya?" tanya Tuan Chyou tanpa basa-basi. Menurutnya semua orang sama, semua orang pasti butuh uang jadi menurutnya daripada membuang-buang waktunya yang berharga. Lebih baik menyelesaikannya tanpa basa-basi agar 2 orang dihadapannya segera pergi.


Hana sudah tidak tahan lagi baru kali ini dia bertemu dengan orang sombong yang memandang remeh orang yang sudah membantu putrinya.... benar-benar.


Brak!!


Suara gebrakan meja mengagetkan 3 orang disana.


"Apa begitu cara anda memperlakukan seseorang yang membantu mengangkat kesulitan yang terjadi di keluarga anda? Oh atau memang benar ucapan 'dia' kalau anda memang tak peduli dengan nyawa putri anda lebih mementingkan hitungan keuntungan di buku itu atau lebih jelasnya lagi 'Putri kandung yang ditumbalkan untuk kekayaan'?" ucap Hana dengan suara tinggi dan tatapan yang begitu tajam.


Tuan Chyou gemetar mendengar perkataan dan tatapan Hana, yang ia pikirkan darimana gadis itu tahu?


"Kenapa diam? Benarkan ucapanku tuan Chyou." ucap Hana sinis


"Suamiku apa benar yang dikatakan Nona Hana? Anda mengorbankan putri kandung kita?" ujar Nyonya Chyou miris. Ia tidak menyangka betapa teganya suaminya. Tak terhitung berapa tabib yang sudah ia datangi hanya untuk menyembuhkan putrinya ternyata selama ini suaminya sendiri yang menyebabkan putri kesayangannya jatuh sakit.

__ADS_1


Melihat suaminya yang diam dengan kaki di bawah meja yang gemetaran, Nyonya Chyou tahu suaminya memang bersalah.


"Kamu hanya menduga-duganya saja. Dan beraninya kamu menuduhku seperti itu? Apa kamu memiliki bukti?"


"Itu sebuah ruangan di belakang kursimu. Ruangan yang khusus untuk tempat Pemujaan Sesuatu yang lain."


Deg!


'Bagaimana bisa ia mengetahuinya?' wajah Tuan Chyou memucat. Padahal ruangan itu tertutup lemari besar, tak ada siapapun yang tahu bahwa disana ada sebuah ruangan yang khusus di buat pemujaan oleh tuan Chyou.


"Hais...sudahlah jangan mengelak lagi. Aku tidak akan mempersulit anda tuan tapi...." Hana berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Tuan Chyou "Dengan syarat bersihkan ruangan itu tidak ada lagi pemujaan seperti itu dan carilah kekayaan dengan cara yang benar, cintailah keluarga anda karena merekalah harta anda yang sesungguhnya. Jika anda masih melanjutkannya silahkan tapi jangan menyesal jika dalam beberapa tahun kemudian nyawamulah yang akan diminta oleh dukun itu, PAHAM!!"


"Ayo Ayah kita pulang." ucap Hana berbalik dan melangkah menuju pintu ruangan itu.


Tabib Ji pun berdiri dan hendak mengikuti Hana namun ditahan oleh Tuan Chyou. Ia memegang pergelangan tangan tabib Ji "Tu...tunggu Tuan dan Nona. Aku memang bersalah. Aku bangkrut. Usaha yang kubangun bertahun-tahun sedikit demi sedikit terus merugi." ucapnya dengan wajah tertunduk.


"Itu bukan alasan yang bisa membenarkan tindakan anda." ucap Tabib Ji. Tabib Ji sungguh merasa kesal bagaimana bisa orang tua dengan mudahnya memberikan anaknya sebagai tumbal hanya demi kekayaan.


Nyonya Chyou menangis tersedu-sedu ia sungguh kecewa dengan tindakan suaminya.


Tadi ia tampak begitu sombong dan kini setelah semuanya terbuka, ia seperti pria yang menyedihkan. Hana tampak berfikir lalu ia berkata "Anda adalah pedagang daging penyuplai restoran dan kedai makanan bukan?"


"Ya benar, pesaing semakin banyak. Mereka bahkan memberikan harga yang lebih murah dari harga yang aku tawarkan."


"Kenapa anda tidak berinovasi membuka kedai makanan sendiri dengan bahan baku yang sudah anda miliki. Halaman anda cukup luas, anda bisa membuat kedai makanan disana." ucap Hana


"Idemu sangat bagus Nona. Tapi apakah aku bisa?" ucapnya ragu


"Yakinlah setiap usaha dengan niat baik dan dikerjakan dengan baik akan mendapat keberkahan." ucap Hana memotivasi.


Mata Tuan Chyou berbinar "Terima kasih Nona, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan anda." ucap sambil membungkuk memberikan hormatnya.


Tabib Ji menatap putrinya dengan bangga.

__ADS_1


....................


Maafkan author yang baru berkarya karena mood author turun setelah level karya ini turun hais...sedih banget😢😢


__ADS_2