
"Lapor Kaisar. Apa tindakan kita selanjutnya?" tanya Pangeran Zhang yang berhasil selamat
"Kita akan terus mengejar dan menyerang mereka, bagaimanapun jumlah prajurit mereka sekarang telah berkurang drastis. Jika kita menyerang mereka sekarang pasti itu akan membuat mereka kewalahan. Aku bisa mencium aroma kemenangan sebentar lagi."
ucapnya sambil tersenyum lebar
"Tapi adik apa anda melihat Ibu?" tanya Taiyang
Pangeran Zhang menatapnya dengan wajah datar dan hanya menjawab dengan menunjuk ke suatu arah. Dari arah itu tampak seorang wanita yang dengan santainya berteduh di bawah pohon yang rimbun ditemani oleh seorang pelayan dan ia kemudian tersenyum penuh makna ke arah Kaisar seolah tahu dari kejauhan putra-putranya membicarakan dirinya.
Entah mengapa saat melihat Ibu Suri yang tersenyum mendadak ada desiran aneh di hati Taiyang. Dia merasa ngeri dan takut dengan senyuman Ibunya itu bagaimana tidak, tanpa sepengetahuannya Ibunya membentuk prajurit aneh yang begitu mengerikan mencabik tubuh orang dengan mudah seperti bukan seorang prajurit yang membunuh musuhnya melainkan seperti seorang monster yang kelaparan melihat mangsanya.
Lalu Kaisar berjalan berdampingan dengan Pangeran Zhang untuk menemui Ibunya. Kaisar melirik pangeran Zhang yang berjalan disampingnya, entah sejak kapan ia seperti tidak melihat Zhang seperti biasanya. Apalagi melihat Ibunya, senyum terlebih tindakannya membuatnya merasa dia adalah orang lain yang hanya berkulit seperti Ibunya. Apakah pemikirannya ini aneh? 'Ini seperti tidak benar'.
Memikirkan itu semua membuat tubuh Kaisar sedikit bergetar, kengerian menjalar di seluruh tubuhnya. 'Apa jangan-jangan dia....?'
"Apa yang kamu pikirkan Taiyang?" tanya Ibu Suri tersenyum lembut
"Ah aku hanya berpikir, menyerang mereka langsung tentu akan lebih baik karena mereka telah kehilangan banyak prajurit. Bagaimana menurut Anda Ibu?" elak Kaisar dan mengalihkan perhatian Ibunya itu, ia tidak ingin membuat Ibunya menyadari bahwa Kaisar sedang mencurigainya.
"Itu baik, sangat baik. Lebih cepat lebih baik, bukan begitu Zhang?" tanya Ibu Suri sambil menyentuh pundak Pangerang Zhang
"Ya...Yang Mulia." jawab Pangeran Zhang dengan wajah datar.
Jawaban yang kaku untuk seorang anak pada ibunya padahal saat ini hanya ada mereka berempat. Taiyang memandang heran Pangeran Zhang, ia seperti boneka yang dikendalikan seseorang.
Memikirkan itu semua hanya membuatnya menjadi orang yang dipenuhi kecurigaan yang tak pernah habis, daripada memikirkan itu semua lebih baik mengutamakan tindakan yang cepat dan lebih penting.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang!" perintah Kaisar.
.
"Hos...hos...Yang Mulia, apa kita akan terus berlari?" tanya Anming sambil terengah-engah
Hana tak menjawab pertanyaan Anming, ia menghentikan langkahnya sambil melihat situasi dan cuaca Hana berkata "Berhenti. Kita tunggu mereka disini."
"Yang Mulia mohon maafkan kelancanganku, tapi apa rencana kita selanjutnya? Prajurit kita banyak berkurang akibat para monster itu."
"Siapkan saja mentalmu. Hal yang mengerikan tadi belum seberapa. Kumpulkan semua orang!"
"Baik Yang Mulia." jawab Anming sambil menjauh untuk menertibkan pasukan yang tersisa.
"Suamiku apapun yang aku lakukan nanti, bisakah Anda mempercayaiku?" tanya Hana
Hana sudah berupaya memberikan pengetahuan, pengobatan dan taktik berperang namun apa dayanya ia hanyalah manusia biasa yang tak menginginkan nyawa teman-temannya melayang. Semua orang memiliki takdir yang tak bisa dihindari. Nyawa mereka ada di tangan Tuhan, bagaimanapun upaya Hana menyelamatkan mereka tetap saja urusan nyawa adalah kehendak Sang Pencipta. 'Hanya saja kuharap ini adalah pertempuran terakhir.' batin Hana.
.
Dari kejauhan tampak berjejer pasukan berbaris rapi dengan seorang wanita bercadar di depan barisan itu memegang pedang.
"Yang Mulia, mereka ada di depan kita." tunjuk Pangeran Zhang
Segera para prajurit kerajaan Matahari menarik pedangnya dan menunggu aba-aba dari Kaisar. "Prajurit, seraaanggg.....!"
Pertarungan sengit pun menjadi pemandangan mengerikan. Hana, Tian Zhang dan Anming merangsek masuk ke dalam pasukan. Mereka seperti anak panah yang melesat membuka jalan untuk pasukannya dalam mengalahkan musuhnya. Pergerakan Hana begitu cepat dalam waktu singkat puluhan prajurit meninggal terkena tebasannya.
__ADS_1
Hana mengibaskan pedang, menendang prajurit yang menghadangnya dan menusuknya.
Melihat pergerakan Hana, Taiyang tahu Hana menargetkan Ibunya. "Lindungi Ibu Suri, monster itu hendak membunuh Ibuku." jerit Taiyang
Saat hendak menghadang Hana, tiba-tiba pergerakannya dihadang lebih dulu oleh Tian Zhang. "Aih...mau kemana Yang Mulia. Ijinkan aku menjajal kemampuan pria nomor satu di seluruh negeri." ucapnya sambil mengejek suami pertama istrinya itu, yang menurut Tian Zhang hanya pandai bermain wanita.
Emosi Taiyang meluap "Kurang ajar! Aku akan memotong lidahmu." ucapnya sambil beradu pedang dengan Tian Zhang. Setelah itu mereka pun terlibat pertarungan sengit.
Hana yang melihat kesempatan segera mendekati Ibu Suri, maka ia pun mempercepat langkahnya dan menendang pelayan yang melindungi. Tapi anehnya pelayan yang bertubuh mungil itu seperti batu kokoh yang tak terpengaruh dengan tendangan kuat dari Hana. Hana pun terjatuh, saat hendak bangkit pelayan itu menendang perut Hana hingga ia tertelungkup.
Akh...
Seteguk darah segar mengalir di mulut Hana. Hana tersenyum, ia bangkit menggunakan pedangnya. Dan setelah ia berdiri, ia malah membuang senjatanya.
"Bodoh." ucap pelayan yang bernama Sizu.
Hana mendatanginya dan memukul perut Sizu, ternyata ia mampu menghindar. Hana memukul wajah Sizu dengan kepalan tangannya namun lagi-lagi pelayan itu bisa menghindar. Hana menendang kaki pelayan itu tapi kaki pelayan itu lebih gesit dan membalas dengan menendang kaki Hana kembali. Hingga membuat Hana jatuh berlutut menghadapnya. Ia menahan bahu Hana dengan kekuatannya supaya Hana tetap dalam posisi berlutut padanya. Hana pun dibuat meringis kesakitan dibuatnya seakan tulang bahunya retak akibat tekanan Sizu pada kedua bahunya.
"Ha..ha..ha Menyenangkan sekali melihat manusia sepertimu berlutut padaku." ucapnya dengan suara besar sambil terus menekan bahu Hana.
Seketika wajah Hana yang tadinya kesakitan berubah menjadi senyuman. "Ini hari terakhirmu didunia ini." mendengar ucapan Hana, Sizu terkejut dan...
Crazzz
Hana menusukkan belati hitamnya ke dada Sizu. Cairan hitam keluar dari tusukan itu mengalir dan membuat tubuh Sizu mencair seolah ikut meleleh akibat belati itu.
...................................
__ADS_1