
Tabib Ji beserta keluarganya duduk di barisan depan di samping kanan Kaisar kentara mereka adalah tamu terhormat yang secara langsung diundang oleh Kaisar. Meja dan kursi ditata apik di samping kanan dan kiri sementara kursi Kaisar dan Permaisuri tampak begitu megah berhias dari emas dan batu berharga yang begitu berkilau.
Hana dan Chen long duduk di belakang Ayah dan Ibunya. Ia menatap kursi itu dan mengingat betapa keras perjuangannya waktu itu. Ia waktu itu menghabiskan banyak waktunya untuk membaca berbagai buku untuk mendapatkan banyak pengetahuan agar bisa membantu suaminya untuk memberikan pandangannya. Chen long menggerakkan tangannya dan memegang lembut tangan Hana. Hana terkesiap melihat betapa perhatiannya suaminya itu pada dirinya. Hana pun tersenyum dibalik cadarnya, ia pun membalas dan menggenggam tangan suaminya.
Seluruh kursi telah terisi penuh oleh Para pejabat istana dan detik berikutnya kasim memberitahukan kedatangan Kaisar dan Permaisuri. Mereka semua berdiri menyambut Kaisar dan Permaisuri dan serentak berucap "Semoga Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri diberkahi banyak kebaikan dari Tuhan."
Ucapan itu berkali-kali mereka ucapkan dan berhenti ketika Kaisar dan Permaisuri duduk di singgasana. Kaisar pun mengangkat tangannya "Silahkan duduk", mereka pun bersamaan duduk kembali.
Rapat Pembahasan pun dimulai dengan menitik beratkan pada Kesejahteraan Rakyat.
Pangeran Zhang yang hadir duduk di samping kiri Kaisar melihat warna pakaiannya yang senada dengan warna pakaian yang dikenakan oleh Hana, ia pun tersenyum ke arah Hana. Merasa ada yang memperhatikan Hana pun menatap ke arah depan rupanya Pangeran Zhang tersenyum padanya. Hana pun hanya mengangguk untuk memberi hormat.
"Tanganmu sudah ku genggam dan kamu malah memberikan senyum pada laki-laki lain." ucap Chen long lirih
__ADS_1
"Kamu cemburu suamiku? Itu bagus, jadi kamu juga bisa merasakan apa yang aku rasakan saat gadis-gadis itu menatapmu." Chen long tersenyum mendengar penuturan Hana. Mereka saling menatap dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan.
Fokus mereka berdua kembali setelah Menteri Keuangan berdiri dan berbicara "Sebelumnya Yang Mulia Pangeran Zhang mengajukan saran untuk membangun balai pengobatan untuk rakyat kurang mampu. Dan biaya yang nantinya timbul diambil dari kas negara. Banyak Para Pejabat yang kurang setuju dengan penerapan ini karena khawatir biaya yang ditanggung oleh kekaisaran akan meningkat dan menyebabkan defisit."
"Namun dari sisi lain kekaisaran dinilai patut atau diharuskan membantu rakyat yang kurang mampu karena dari merekalah muncul prajurit-prajurit tangguh yang dibutuhkan oleh Kekaisaran di garis depan. Maka berdasarkan permasalahan tersebut Tabib Ji di undang untuk turut memberikan saran berdasarkan pengalamannya. Untuk itu dipersilahkan Tabib Ji untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya." ucap Menteri Keuangan
Tabib Ji berdiri di tengah aula rapat ia lalu menceritakan pengalamannya dalam mengelola keuangan yang masuk untuk menutup biaya yang dibutuhkan untuk membantu rakyat kurang mampu. Mengedepankan saling membantu, tabib Ji menjual obat dengan harga yang sedikit tinggi dibandingkan toko obat lain namun dikemas dengan tampilan apik dan menarik sehingga pelanggan tidak masalah untuk membelinya. Kelebihan uang ini lah yang dikelola untuk membeli bahan obat yang dibutuhkan rakyat kurang mampu. Tabib Ji pun juga mengatakan strateginya dalam penjualan obat adalah obat yang dijual ada 3 kategori yaitu ekslusif, standart dan biasa. Kesemuanya dijamin bagus dan mujarab namun sesuai harga, kesemuanya memiliki rentang waktu penyembuhan sesuai harga. Demikian Tabib Ji menceritakan pengalamannya dan ia pun duduk kembali.
Kaisar pun bertanya "Jika disimpulkan, itu berarti Saya juga harus membangun toko obat begitu, jika seperti itu maka biaya yang ditimbulkan juga akan bertambah banyak, mulai dari pembangunan, merekrut pegawai dan lainnya. Menurut Saya tindakan seperti itu justru akan memicu timbulnya permasalahan baru di tengah masyarakat. Kaisar akan dianggap menyerobot pasar toko obat. Bagaimana menurut kalian?"
"Boleh aku mengutarakan pendapatku, suamiku? di depan Kaisar....bolehkah?" tanya Hana pada Chen long
Belum juga Chen long menjawab tiba-tiba terdengar suara seorang pria "Mohon ijin berbicara Yang Mulia" yang ternyata pria itu adalah Pangeran Zhang
__ADS_1
"Ya" ucap Kaisar singkat
"Terima kasih Yang Mulia. Saya sangat kecewa jika seseorang selalu menyertakan keuntungan dalam membantu rakyat." sindir Pangeran Zhang
"Banyak prajurit garis depan berasal dari keluarga kurang mampu yang mendaftar menjadi prajurit untuk membela kerajaan. Justru dengan berjalannya rencana ini maka kerajaan semakin dicintai. Kita semuanya hanya perlu memikirkan solusinya."
"Ah Pangeran Zhang jiwa mudamu untuk membantu orang memang patut diacungi jempol. Tapi jika itu merugikan kerajaan apakah itu layak dipertaruhkan?" tanya salah satu Menteri
Pangeran Zhang diam membeku di tempatnya, ia bingung jawaban apa yang harus diberikan agar orang-orang ini mendukung rencana baiknya itu.
"Permisi Yang Mulia. Ijinkanlah saya untuk mengutarakan pendapat saya" ucap seorang wanita bercadar berbaju biru memberi hormatnya. Ia tampak begitu memukau meski ia memakai cadar yang tak menampilkan bagaimana rupa wajahnya.
Gerakannya anggun dan menawan seperti wanita bangsawan....ah tidak lebih tepatnya seperti seorang Permaisuri yang agung. Ia seperti memiliki aura tegas milik Permaisuri He hua dahulu mungkin itulah yang dipikirkan oleh semua orang disana yang terpesona oleh sosoknya yang berdiri di tengah aula rapat itu.
__ADS_1
............................