
Kemudian setelah keriuhan itu selesai Hana berkata "Aku ingin melihat bagaimana teknik prajurit anda memanah tuan Anming."
"Maafkan saya Yang Mulia, tapi kemampuan Anda di atas yang saya kira. Saya rasa..." ucap Anming tertunduk seolah ia malu bahwa anak buahnya bisa dengan mudah dikalahkan Hana
"Tuan Anming belajar itu bisa didapatkan dari siapapun dan dimanapun. Ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri justru akan menjadi kelemahan yang mendasar. Seseorang yang merasa bersaudara tidak akan mempermalukan saudaranya sendiri. Justru sebaliknya, rasa persaudaraan akan membuat kita bisa menerima kritikan saudaranya itu dan bisa mengolah kekurangan menjadi kemampuan lebih baik ke depannya." ucap Hana sambil tersenyum
"Yang Mulia" ucap Anming terharu dan berlutut. Baru kali ini ada perempuan lain yang membuat hatinya bergetar dengan ucapannya selain Ibunya. 'Laki-laki yang baik memang berjodoh dengan perempuan yang baik pula.' batin Anming
"Sudah cukup. Istriku, kamu membuat seluruh prajuritku hampir menangis seperti berhadapan dengan ibu mereka." ucap Tian Zhang
"Baiklah. Cukup untuk sekarang. Aku ingin kalian bersungguh-sungguh berlatih karena besok kita akan persiapkan segala hal yang dibutuhkan." ucap Hana yang kemudian kembali ke istana
Setelah kembali ke Istana, Hana bertanya pada Tian Zhang "Sudahkah Anda menyiapkan ruangan dan bahan-bahan obat yang saya minta?"
"Ya. Aku akan tunjukkan ruangannya."
__ADS_1
.
Pagi itu juga tak membuang-buang waktu Hana, Tabib Ji hua, Fangyin, Qiangda dan Hong bersaudara saling bahu membahu membantu membuat banyak suplemen untuk dibuat dengan jumlah yang banyak. Suplemen itu nantinya untuk membantu menambah stamina para prajurit dan dapat mengolah energi mereka dengan lebih baik.
Hana juga memantau para pandai besi kerajaan yang membuat persenjataan untuk para prajurit.
Semua yang dilakukan oleh Hana benar-benar menguras energinya. Hingga saat Hana duduk dan berdiskusi dengan Tian Zhang di malam hari mengenai wilayah dan taktik yang akan digunakan saat perang, tanpa sadar ia tertidur pulas. Meskipun Tian Zhang mengangkat tubuh Hana untuk memindahkannya ke atas ranjang, ia seolah tak terganggu sedikitpun dan tetap terlelap.
Tian Zhang menatap istrinya yang tertidur dengan damai. Dirapikannya rambut istrinya itu 'selesai perang nanti, apakah kita bisa bersama dan membangun keluarga kita sendiri Hana?' batin Tian Zhang. Sembari membatin itu tak terasa tiba-tiba air mata mengalir di sudut matanya. Tetesan air mata Tian Zhang jatuh di pipi Hana dan itu membuat Hana terbangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa. Maaf mengganggu tidurmu istriku."
"Katakanlah ada apa sebenarnya? Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Hana khawatir
"Aku hanya bersyukur bisa melihatmu dan berada di sampingmu. Dan tak terasa itu membuat jiwa keharuan ku muncul. Lucu bukan?"
__ADS_1
Hana kemudian bangun dari posisi tidurnya dan duduk mendekati suaminya. Dulu ia adalah perempuan yang mengiba kasih sayang suaminya dan kini betapa beruntungnya ia. Bisa memiliki suami yang pengertian, memberinya banyak cinta tanpa meminta balasan dan kini ia malah berkata 'bersyukur hanya bisa melihatnya dan berada disisinya'. "Suamiku, aku yang bersyukur bisa menjadi istrimu. Sungguh Tuhan luar biasa menjodohkan kita. Dan aku tahu apa yang membebani pikiranmu." ucap Hana sambil menyenderkan kepalanya di bahu suaminya
"Cukup istriku. Sebaiknya kamu segera tidur. Besok tenaga dan konsentrasimu akan banyak dibutuhkan." ucap Tian Zhang sambil mengusap-usap wajah Hana
.
Keesokan paginya Hana dan keluarganya telah membagi-bagikan banyak suplemen untuk para prajurit. Meninjau kesiapan peralatan perang, persediaan bahan makanan, obat-obatan sampai mematangkan taktik perang dengan suaminya dan Anming. Para warga yang telah lansia, wanita dan anak-anak telah diungsikan ke tempat yang aman. Begitu juga dengan Raja dan keluarga kerajaan lainnya mereka telah bergegas berangkat ke daerah yang tersembunyi dan memiliki tingkat keamanan tinggi.
Dalam 2 hari paling cepat mereka akan sampai dan menyerang kerajaan Qin. Pastinya mereka akan melewati 1 jalur yaitu jalur laut. Di bibir pantai telah disiapkan benteng besar dan kokoh yang akan dipergunakan untuk memantau kedatangan mereka dan memperkuat pertahanan melawan musuh. Keseluruhan wilayah kerajaantelah dilindungi tembok besar 2 lapis hingga tak akan mudah bagi musuh untuk menjebol dan merusak dinding tersebut. Mereka mempersiapkan pembangunan tembok pembatas kerajaan dengan begitu cepat.
Hana berdiri di tepi pantai ditemani Tian Zhang dengan menatap jauh ke lautan Hana berkata "Ibuku pasti yang menyarankan ini semua pada Ayah mertua. Pemikirannya begitu jauh dan tak terduga."
"Kamu benar. Perang adalah jalan satu-satunya. Selama makhluk itu masih ada, dunia tak akan damai."
.........................
__ADS_1
Wow makasih buat semua komennya, author tambah semangaat. Doakan buat episode selanjutnya ya makasih semuanya 🙏🏻🙏🏻