
Setelah pertarungan yang dahsyat itu dibawah rintikan hujan Hana menghampiri Ibunya lalu duduk bersimpuh "Maafkan aku.. Ibu, aku telah membunuh Nenek." ucapnya tertunduk sedih. Bagaimanapun Hermosa adalah Ibu kandung Audrey, kematian Hermosa tentu menjadi pukulan dihati Audrey bahwa pembunuh Ibunya adalah anaknya sendiri.
"Tidak Hana ini adalah takdir, ini adalah tugas yang tidak bisa kamu tolak." ucapnya sambil tersenyum lembut dan membelai wajah Hana yang kini tak bercadar. Meski bibir Audrey tersenyum tetap saja dibawah tetesan air hujan air mata Audrey pun ikut mengalir di kedua pelupuk matanya. Melihat air mata Ibunya, Hana langsung memeluk erat Ibunya untuk saling menguatkan.
Hang berlari mendekat ke arah Hana dan Audrey. "Yang Mulia." ucapnya menunduk memberi hormat
"Bawa Ibu ku pergi ke Istana untuk beristirahat disana, ada beberapa pengawal dan pelayan disana yang akan membantu tapi tunjukkan tokenku ini pada mereka agar mereka percaya pada ucapanmu."
"Tapi bagaimana dengan anda, Putri Hana?" tanya Hang
"Akan kuselesaikan dengan cepat, kamu tak perlu khawatir. Cepat pergilah!" perintah Hana
Hang langsung menggendong Audrey dan menaikkannya ke atas kuda. "Yang Mulia maaf hanya dengan ini." ucap Hang pada Audrey
"Tidak apa-apa." jawab Audrey
Taiyang mengawasi pergerakan Hana, saat Hana menyuruh Hang untuk membawa Audrey dengan sigap Taiyang menghadang kuda mereka dan berkata "Berhenti. Dia masih tahanan kerajaan kami. Perang ini masih belum usai."
Melihat Taiyang kini Hana menyadari betapa bodohnya ia yang dulu begitu mencintai laki-laki yang menggelikan ini. Hana mendatangi mereka dengan membawa sebilah pedang dengan langkah tegap dan berwibawa. Semua orang terkesima melihat betapa cantiknya istri putra mahkota itu, melihat bagaimana ia berjalan sambil membawa pedang dan keanggunannya ia terlihat seperti seorang dewi perang.
Gerimis di kala itu pun langsung berhenti saat Hana berjalan menghampiri Taiyang dan para pangeran lainnya seolah menunjukkan betapa langit sangat menghargai wanita itu. Sinar Matahari muncul dan bersinar terang menyinari baju besi Hana hingga pakaiannya tampak bersinar dan terlihat begitu indah. Masih dalam ketakjuban mereka masing-masing saat mereka semua melihat sosok Hana, saat itu langkah Hana telah berhenti di depan kuda Audrey. "Katakan saja jika Anda belum puas setelah semua pertunjukan hari ini. Perlu saya tegaskan, Ibuku bukan lagi tahanan anda dan perang ini telah usai. Tidak perlu lagi ada nyawa yang akan melayang." ucap Hana sambil memberi kode pada Hang untuk segera pergi. Melihat perintah dari Hana, Hang segera menarik pelananya dan pergi dari tempat itu.
"Hentikan mereka." perintah Taiyang pada prajuritnya.
__ADS_1
"Jika ada yang bergerak, aku tidak akan segan lagi." ucap Hana sambil mengangkat pedangnya.
"Hentikan! Perang ini telah usai, istriku telah menyelamatkan kita semua. Pergilah tanpa perlawanan maka kerajaan kami tak akan melakukan tindakan apapun pada kalian." ucap Tian Zhang.
"Kakak, jangan dilanjutkan lagi lagipula tujuan perang ini untuk membinasakan para monster itu dan para monster itu semua sekarang telah binasa. Otomatis tuduhan bahwa Hana adalah monster telah gugur, dia adalah penyelamat. Kita tak bisa memungkirinya." ucap Zhang Junda.
"Jika Anda tetap tak bisa menerima ini, sampaikan saja pada Dewan Perlindungan Kerajaan." ucap Pangeran Tian Zhang
Mendengar saran Pangeran Tian Zhang, Pangeran Zhang Junda mendekat dan berbisik pada kakaknya "Pikirkan apa yang terjadi jika rakyat tahu tentang semua ini dan anda malah ingin meneruskan peperangan ini. Benar apa yang disarankan Pangeran Tian Zhang sebaiknya kita membawa ini ke dewan perlindungan kerajaan. Ini akan memberi keuntungan bagi kerajaan kita."
Mendengar saran Zhang membuat Taiyang goyah dan menuruti saran adiknya itu. "Baiklah sepakat. Aku beserta pasukanku akan pergi, pastikan kedatangan kalian di Dewan Perlindungan Kerajaan dalam dua minggu setelah kepergian kami. Jika tidak, akan kupastikan bahwa kerajaan ini tidak akan memiliki hak untuk berkuasa." setelah mengatakan itu Taiyang beserta seluruh pasukannya yang tersisa pergi meninggalkan kerajaan Qin.
Sambil berlalu pergi Pangeran Zhang Junda sempat melirik Hana dan bergumam "Sungguh unik, ternyata takdir mengikat kita sebagai saudara sepupu." Pangeran Zhang Junda tersenyum mengingat bagaimana ia jatuh cinta pada Hana 'Rupanya perasaan nyaman di hatiku ini karena kita bersaudara, hanya ini yang bisa kubantu untukmu saudaraku. Dewan Perlindungan Kerajaan kuharap ini adalah jalan terbaik untuk kedamaian semua kerajaan.' batin Zhang.
.
Hana memiringkan kepalanya "Siapa? Aku..Maaf Anda berbicara padaku?" tanya Hana
"Sayang, semua orang sedang melihat kita. Ayolah."
"Oh... aku lupa kalau aku adalah istri yang cacat tak bisa memberikan anda keturunan dan tak dibutuhkan lagi." ucap Hana sinis dan berjalan menjauhi Taiyang
"Sayang, itu kan karena aku berjanji padamu tidak melakukan apapun tanpa pemberitahuan darimu. Apa istriku ini lupa?" rengek Pangeran Tian Zhang
__ADS_1
Seketika para prajurit dan Anming melongo dibuatnya karena Pangeran mereka yang terkenal dingin dan kaku terhadap perempuan, begitu tak berdaya dihadapan istrinya. Demi menjaga kehormatan junjungannya dan melihat betapa antusiasnya anak buahnya seperti 'ingin tahu' maka dengan segera Anming berteriak "Segera bersiap untuk kembali, jangan mendengar atau melihat apapun yang tidak berhak kalian ketahui. Sepuluh orang berkuda jaga perbatasan, pastikan semua tamu tadi telah meninggalkan tempat ini dengan aman." perintah Anming. Selesai memberi perintah, dari kejauhan tampak Pangeran Tian Zhang berlari sambil menuntun kudanya untuk mengejar Hana yang berjalan begitu cepat. 'Akh...jadi beginilah kalau suami sudah terlalu cinta. Apa aku nanti juga seperti itu?' batinnya.
"Sayang..tunggu aku. Sayang kenapa diam, kamu marah?" seru Pangeran Tian Zhang sambil berlari
Hana pun berhenti berjalan "Aku hanya memintamu berjanji tidak melakukan apa-apa bukan mengatakan sesuatu yang menyakitkan seperti itu. Sekarang bolehkah aku marah suamiku?" kemudian berjalan kembali dengan cepat.
Akhirnya Pangeran Tian Zhang melepaskan kudanya dan dengan setengah berlari menyusul langkah istrinya "Istriku... baik-baik kamu boleh marah. Aku bersalah, hukum aku jika itu membuatmu lebih baik. Tapi jangan mendiamkan aku, ini tidak nyaman untukku."
Mendengar ucapan suaminya Hana menghentikan langkahnya "Apa benar aku boleh menghukummu?"
Tian Zhang menatap Hana lalu menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Baik, aku terima permintaan maafmu suamiku. Sebagai hukumannya, selama seminggu ini jangan memaksaku melakukan apapun yang aku tidak mau. Termasuk...."
"Termasuk....termasuk apa istriku?"
"Aiya... suamiku sungguh polos. Pikirkan saja sendiri." ucap Hana kesal
"Apa...apa...apa aku salah lagi? Aduh, bikin pusing saja." ucap Tian Zhang yang tak mengerti arah pembicaraan Hana.
Tak jauh dari mereka ternyata Anming berjalan mengikuti mereka sepertinya Anming mendengar apa yang dikatakan oleh kedua junjungannya itu, karena ia sampai menepuk dahinya berkali-kali karena tuannya itu begitu polos dan tak peka terhadap arah pembicaraan istrinya.
...............................
__ADS_1