
Hana menoleh kenapa seperti ada yang menatapnya, Ibu menatap Hana memberi kode dengan mengeryitkan dahinya. 'Ada apa? Oh ada Pangeran Zhang' batin Hana
"Salam kepada Pangeran Zhang." ucap Hana sambil tersenyum.
Tabib Ji dan Audrey menepuk dahi mereka, sementara mata Hang dan Pangeran seperti tak bisa berkedip menatap Hana.
'Apa ada yang salah?' batin Hana
"Bi..da..dari" ucap Hang spontan
"Benar...ini bidadari" ucap Pangeran Zhang
Hana langsung menyadari jika ia lupa memakai cadarnya. "A...aku akan menyiapkan makan siang." ucap Hana canggung dan segera pergi.
Tapi kepergian Hana membuat kedua laki-laki itu tetap tak berkedip dan menatap kemana arah menghilangnya Hana.
Ehem
Hingga suara Tabib Ji membuat arwah kesadaran keduanya seakan kembali ke tempatnya.
"Ah...he..luar biasa ya Tuan. Mm..maksud saya penawaran tuan saya luar biasa betul kan tabib?" ucap Hang sambil menggaruk kepalanya.
"Ehem ya saya rasa sebaiknya kami pergi, untuk tawaran itu saya harap tabib Ji menyetujuinya." ucap Pangeran Zhang sambil membuka kipasnya menutupi kegugupannya. Jantungnya benar - benar seakan berhenti berdetak melihat gadis yang luar biasa cantik. Mungkin itulah sebabnya Hana dan Ibunya memakai cadar agar tak menimbulkan kehebohan. Sungguh kecantikan yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.
"Maafkan kami Pangeran Zhang sepertinya Anda harus tetap disini. Kurang sopan jika tamu agung pergi tanpa ada hidangan. Bagi kami menjamu tamu mempererat persaudaraan. Iya kan Ibunya Hana?" ucap Tabib Ji
"Ya Anda benar suamiku. Saya permisi sebentar, saya akan membantu Hana di dapur." ucap Audrey seraya pergi menuju dapur.
.
__ADS_1
Di meja makan berbentuk panjang semua orang duduk berhadapan. Tabib Ji, Audrey, Hana dan Fangyin duduk di sebelah kanan meja sementara di sebelah kiri Pangeran Zhang, Hang, Chen long dan Qiang. Sementara Hong Li dan Jun menolak ikut makan siang bersama karena merasa tidak nyaman duduk semeja dengan Pangeran Zhang.
Mereka makan dengan tenang dan tampak menikmati hidangan yang disajikan. Hingga Pangeran Zhang berkata "Masakan yang dimasak sungguh sangat nikmat." sambil melirik Hana yang kini telah memakai cadarnya dan Hang pun menimpalinya "Benar tuan, masakan ini sangat nikmat."
Tabib Ji dan Audrey tersenyum senang dengan pujian Pangeran Zhang dan Hang. Namun kemudian Audrey menyadari tatapan Zhang kepada puterinya tidak biasa.
Demikian pula dengan Hana, merasa tak nyaman dengan lirikan Pangeran Zhang berulang kali padanya membuat Hana menimpali pembicaraan itu "Sebenarnya masakannya biasa saja, ini hanya masakan rumahan biasa Pangeran. Tapi makan bersama keluarga membuatnya terasa nikmat. Benarkan suamiku?" ucap Hana sambil tersenyum manis menatap Chen long.
Uhuk
Chen long tersedak mendengar Hana memanggilnya seperti itu. 'Apa karena disini ada Pangeran Zhang dan Hang?' batinnya sambil melirik Pangeran Zhang yang rupanya menatap Hana.
"Ya benar istriku. Apapun yang kamu masak selalu lezat untukku." jawab Chen long sambil tersenyum manis. Sebagai sesama pria, Chen long tahu bahwa tatapan Pangeran pada Hana seperti tatapan seorang pria pada gadis pujaannya itu membuatnya kesal.
Mendengar kata-kata itu, Pangeran Zhang menunjukkan raut wajah kekecewaan. Tapi kemudian dia berkata "Wah saya merasa berada di tengah keluarga yang hangat. Apa Nona Hana selalu memasak masakan seperti ini?"
Pangeran Zhang kemudian menahan senyumnya. Berarti benar Hana dan Chen long tidak seperti suami isteri yang sebenarnya mereka hanya berpura-pura. Itu berarti menjelaskan jika Hana tidak pernah ingin menarik perhatian Chen long padahal mereka adalah pengantin baru.
.
Saat Malam tiba sesuai janji, Fangyin, Hana, Qiang dan Chen long berjalan - jalan bersama menikmati pasar malam. Perayaan Penobatan Permaisuri di hari ke-2 ini masih menyedot antusias warga. Fangyin menyarankan sebaiknya mereka berpisah saja agar mereka berdua bisa saling terbuka satu sama lain dan akan bertemu kembali 2 jam lagi di dekat kedai minum yang terkenal di pusat kota itu.
Setelah berjalan-jalan berdua bersama Qiang, Fangyin mengajaknya ke sebuah jembatan yang cukup terkenal di tempat itu. Jembatan Kesepian namanya sesuai namanya tempat itu benar-benar sepi tak ada orang yang berhenti disana. Hanya beberapa pejalan kaki yang melintas lalu lalang disana.
"Kenapa kesini Fangyin? Inikan Jembatan Kesepian?" ucap Qiang heran
"Memangnya kenapa Kak?" tanya Fangyin
"Bukankah jika ada pasangan yang berdiri disini, jodoh mereka akan pendek dan buruknya lagi mereka tidak akan berjodoh."
__ADS_1
"Kakak percaya?"
Qiang menggeleng. Itu memang hanya kepercayaan orang-orang tua dulu.
"Lihatlah tempat ini sangat sepi, banyak pepohonan rimbun di sekitarnya. Dulu sering terjadi pemerkosaan bahkan tindakan kejahatan ditempat ini yang korbannya adalah para gadis. Oleh karena itu kemungkinan para orang tua dulu menyebarkan rumor agar tak ada pasangan bahkan gadis yang berhenti ataupun lewat di malam hari."
"Eh itu memang ada benarnya Fangyin."
Fangyin kemudian berbalik dan menatap Qiang "Kak Qiang, aku merasa kakak menghindariku dan seperti menjauhiku. Apa itu benar?"
"Ah...baiklah memang iya. Aku hanya malu dengan diriku Fangyin. Aku seorang pria yang telah berumur, pernah menikah, pernah gagal dan memiliki seorang putra yang bahkan aku tak pernah tahu dimana keberadaannya. Dekat denganmu membuatku merasa tak pantas bila orang-orang disekitar menjodohkan kita." Ucap Qiang dengan jujur. Namun kejujuran Qiang malah membuat Fangyin tertawa
Ha..ha...ha
"Kamu benar-benar lucu kak Qiang. Kamu mengejekku atau......"
"Tidak Fangyin lihat aku. Apakah..." ucap Qiang memegang pundak Fangyin. Namun kemudian ucapan Qiang terhenti saat Fangyin menepis tangan Qiang dari pundaknya. Dan itu membuat Qiang sadar Fangyin memang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Ajakan malam ini mungkin hanya keinginan Fangyin agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka. Hingga Qiang berbalik melangkahkan kakinya akan pergi. Ia begitu malu.
"Apa kakak akan pergi sebelum aku menjelaskan?" ucap Fangyin menghentikan langkah Qiang.
"Aku tidak ingin disentuh oleh laki-laki yang tak memiliki ikatan hubungan denganku. Itu adalah prinsipku. Kak, aku tumbuh dipaksa sebagai gadis pekerja keras. Dulu, aku bukanlah orang bebas sepertimu. Aku adalah pelayan yang hidupnya tergantung apa kata tuannya. Saat adikku menjadi tuanku, aku bahkan meracuninya dengan kedua tanganku. Aku merasa seperti gadis kejam yang rela menempuh jalan apapun hanya demi keselamatan diriku. Saat kesakitan mendera saudariku, aku bersumpah akan terus mendampinginya seumur hidupku untuk menebus dosa besar itu. Kini jika orang bertanya cinta. Apa itu cinta? Aku bahkan tak tahu apa itu cinta. Karena aku tak pernah berfikiran untuk bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang." ucap Fangyin berteriak penuh emosi hingga air mata mengalir di kedua matanya
"Jika kakak merasa malu hanya karena status pernah menikah dan kehilangan anak, bagaimana denganku? Masa laluku."
Qiang berbalik menghadap Fangyin hatinya tersayat melihat gadis itu menangis "Cukup...cukup Fangyin. Aku tak bisa melihatmu menangis. Masa lalu kita berdua memang pahit. Ijinkan aku mencintaimu agar kita saling menguatkan. Saling menerima kekurangan masing- masing. Akan aku buktikan dengan segera melamarmu." ucap Qiang meyakinkan Fangyin
..........................
Jika pria sejati akan membuktikan cintanya lewat keseriusannya tanpa meminta bukti cinta yang aneh-aneh pada pasangannya. Bener gak?
__ADS_1