
Dengan penjelasan Hana maka mulailah terbuka sedikit demi sedikit apa yang sebenarnya melatarbelakangi kematian Permaisuri He Hua. Ini bukan hanya karena keinginan Taiyang dan Mei lan saja tapi juga karena campur tangan Ibu Suri termasuk bagaimana bisa seorang Ibu Suri yang tak pernah bersinggungan dengannya bisa membuat langkah yang begitu jauh dan dengan kejam menghabisinya menggunakan tangan orang yang paling dicintainya jika bukan karena dorongan yang kuat dari seseorang.
Kini ia kembali ingin menghabisinya dan memastikan musuhnya lewat Audrey. Wanita itu pasti sudah mencurigai siapa Hana sebenarnya, dengan kesembuhan Audrey akan memastikan bahwa Hana dan He hua memang orang yang sama karena hanya darah keturunan yang terakhir yang bisa menyembuhkan racun mematikannya.
"Ibu tolong, jangan lakukan apapun lagi. Aku akan membuatnya keluar dari istana dengan demikian untuk selanjutnya kita tak perlu berurusan dengan orang istana." ucap Hana
"Tidak Hana itu terlalu lama. Tahukah kamu apa yang Ibu temukan saat memata-matainya?" ucap Audrey sambil menggenggam tangan Hana ia berkata kembali. "Ia memotong beberapa bagian tubuh korbannya dan menguburkannya di halaman belakang sebagai pupuk tanaman bunga mawar. Itu sangat kejam Hana. Jika kita menunggu sampai ia keluar dari istana berapa banyak nyawa yang akan mati di tangannya. Ibu akan bertindak dengan atau tanpamu." ucapnya sambil melepas genggamannya
.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Sizu pada Liwei yang berjalan ke arahnya
__ADS_1
"Baru saja memancing salah satu ikan besar membuatku senang. Sebentar lagi aku akan menangkap mereka dan tidak ada lagi penghalang. Menjadi manusia membuatmu menjadi lemah." ucapnya menyindir Sizu
"Lemah? Siapa yang kamu maksud lemah....ha?" ucapnya mencekik leher Liwei dari arah belakang
"K..kamu. Lepaskan aku!" ucap Liwei sambil menarik kasar pergelangan tangan Sizu hingga cengkeramannya terlepas.
"Ingat! Kamu bukan apa-apa tanpaku. Kamu hanyalah iblis tua yang menyedihkan." ucapnya sambil berlalu pergi dan menuju ke arah kamarnya tapi saat akan membuka pintu sesuatu yang besar seolah menghentikan gerakan pintu itu hingga membuat pintu itu memperlihatkan sedikit celah yang terlihat. Ternyata Sizu menggunakan kekuatannya menahan pintu itu.
Ha..ha..ha...
"Inikah hukumanku? Tidak terlalu mengerikan, aku suka." ucapnya menarik Sizu masuk ke dalam kamar tapi kemudian ia berhenti lalu berkata "Rubah wajahmu seperti yang aku inginkan, maka aku akan mempertimbangkan menerima atau tidak hukumanmu." ucap Liwei sambil mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Dalam sekejap Sizu berubah bertambah tinggi dan wajahnya serta tubuhnya menjadi seorang pria muda lalu mereka tersenyum masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya.
Kejadian itu tak luput dari pandangan anak seorang pelayan yang berumur 8 tahun. Ia begitu terkejut dan menutup mulutnya sendiri untuk mengurangi ketakutannya melihat perubahan Sizu. Lalu ia berlari dan menceritakan hal itu pada ibunya. Pelayan itu gemetaran lalu berkata "Apa mereka melihatmu?" Anak itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Segera pulang! Katakan pada penjaga kamu sakit. Jangan ceritakan pada siapapun. Ambil uang ini jika kamu mendengar sesuatu....." ucapnya sambil meneteskan air mata
"Ibu..." ucapnya gemetaran memegang wajah Ibunya
"Kuatkan hatimu. Jika kamu mendengar sesuatu tentang Ibu. Kamu tahu Ibu seperti apa. Bawa serta surat ini berikan pada tetua, ingat hanya tetua adat. Tidak boleh pada yang lain. Mengerti!" ucapnya pada anaknya sambil menggenggam tangan anaknya
"Tapi Ibu, aku hanya anak perempuan. Aku takut." ucapnya menangis
"Berhenti melemahkan dirimu sendiri. Terlahir menjadi perempuan bukan berarti kelemahan. Ini adalah takdir dari Tuhan. Percayalah kamu kuat, kamu adalah anak perempuan Ibu yang kuat. Kamu bisa, cepat pergi!" ucapnya mendorong anaknya
__ADS_1
.............................