
Akh...akh..
"Sakit...tolong aku Ji hua aku tidak kuat rasanya sakit sekali". jerit qian
"Tenang kakak ipar. Sesaat lagi aku akan membuatmu tidak merasakan sakit itu lagi."
Ji hua meminumkan ramuan pada qian kali ini dia memperkuat kinerja obat itu dengan menambahkan beberapa herbal lain di dalamnya. Dan dalam hitungan menit Qian telah tertidur di atas ranjang sederhana. Perut Qian bergerak-gerak sendiri dengan kuat ke kanan, ke kiri terkadang seolah berputar-putar dengan cepat, sepertinya bayi itu ingin segera keluar melihat dunia.
Ji hua tidak mau siapapun membantunya, jadi ia melakukan persalinan itu sendiri. Dengan tekhnik pembedahan Ji hua mengiris lapisan demi lapisan perut qian dengan hati-hati. Setelah itu tepat tengah malam 'bayi' itu dikeluarkan dari perut qian dengan pembungkus lentur namun kuat yang menyelimutinya. Entahlah apa itu Ji hua tak mau ambil pusing dengan kondisi itu. Yang jelas bayi aneh itu adalah cacing thricinosis yang memang sengaja mereka tempatkan di dalam rahim qian.
Cacing itu sempat berhenti bergerak saat Ji hua menyobek lapisan pembungkus tubuhnya, tampaknya cacing itu belum bisa beradaptasi dengan udara disekitarnya. Dengan cepat Ji hua menempatkannya di dalam guci tanah liat besar dan menutupnya rapat, lalu dibungkus dengan erat menggunakan kain besar.
Setelah selesai menjahit perut qian dan membereskan peralatannya seseorang yang ditunggunya tampaknya datang. Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Jelas Ji hua tahu itu siapa karena dia mengetuk dengan hitungan tertentu sesuai dengan kesepakatan mereka.
Tok..
tok..tok
tok..tok..tok
__ADS_1
Ji hua membukakan pintu seseorang berjubah hitam berdiri di hadapannya dengan membawa keranjang besar di tangannya.
Ji hua menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Pengorbanan Istrinya begitu besar, hampir 6 bulan ini istrinya kabur dari kediaman sang panglima dengan alasan kemarahannya atas perselingkuhan Ji hua.
Dan ini termasuk rencana Audrey agar mudah saat menukar cacing itu dengan bayinya.
Saat Ji hua memegang keranjang besar itu, Audrey menahan tangan suaminya. Ji hua menatap mata Audrey seolah mengatakan 'ada apa?'
Hiks..hiks..
Audrey tersenyum dan mengangguk. Ji hua masuk dan meletakkan keranjang bayi itu di ranjang tempat Qian tertidur. Lalu ia segera mengambil Guci yang berisi cacing dan meyerahkannya pada istrinya.
"Berhati-hatilah. Aku akan menemuimu di hutan itu dalam dua hari kedepan." ucapnya sambil mencium kening istrinya. Audrey hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tabib Ji melihat kepergian wanita yang dicintainya itu.
Namun Ji hua tidak menyadari bahwa itu adalah kali terakhir ia melihat wajah istri yang dicintainya.
Tabib Ji menutup pintu ruangan itu dan melihat wajah putri mungil yang dilahirkan istrinya sehari sebelumnya. Ia mengangkat bayi itu dari keranjangnya dan menggendongnya.
__ADS_1
"Aku bersyukur Tuhan melindungimu anakku, semoga selamanya dirimu selalu dalam perlindungan-NYA" ucapnya seraya mencium pipi buah hatinya itu. Selembar kertas terlipat tak sengaja terinjak Ji hua 'apa ini?' batinnya.
Ia membuka lipatan surat itu dan membacanya
Teruntuk suamiku Ji hua
Suamiku, anda adalah pria pertama yang menghormati dan menghargaiku. Anda pula pria pertama yang tidak takut melihat rupaku. Anda juga adalah satu-satunya pria yang melamarku meski mengetahui semua kekuranganku.
Anda juga adalah pria pertama dan satu-satunya yang akan selalu ada di hatiku. Suamiku, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita karena mereka sepertinya menemukan jejakku. Jadi aku akan menghilang sementara waktu.
Suamiku maafkanlah aku, sebenarnya ini juga berat bagiku meninggalkan anda dan buah hati kita. Namun, kuharap engkau dapat mengerti dan memahami semua tindakanku. Percayalah jika kita berjodoh Tuhan pasti mempertemukan kita sekeluarga kembali.
- Audrey -
Tabib Ji meremas surat istrinya, setetes air mata mengalir di sudut matanya. Yang ia tahu saat ini dia harus menjalankan rencana terakhirnya.
Saat Matahari terbit menampilkan kilauan cahayanya yang samar-samar, Qian terbangun dengan tubuh lemahnya ia berkata "Ji hua bagaimana anakku apa dia...?"
Ji hua tersenyum "Selamat kakak ipar bayi perempuan yang cantik."
__ADS_1
Xi qian menangis haru akhirnya ia bisa memiliki seorang anak.