Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
47. Ibu Kota


__ADS_3

Disaat dunia berputar dan ketika waktu terus berjalan seringkali manusia lupa bahwa umur terus bertambah. Sering menyesal terhadap kesalahan yang dilakukan di masa lalu tanpa mau berubah lebih baik ke depannya. Memang manusia bukan pribadi yang sempurna dan banyak berbuat dosa namun Tuhan Yang Maha Esa telah melebihkan kita dengan kesempurnaan daripada makhluk lainnya. Itu adalah salah satu bukti kecintaan Tuhan kepada manusia, lalu bagaimana kita untuk mensyukurinya?


.


Hana mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tak percaya dengan penglihatannya sekarang.


"Ke...kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" ujar Hana keheranan.


Karena memang didalam kamarnya semua orang berkumpul dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Hiks...hiks...


"Mei..mei...mei mei Hana adikku yang malang."


'Oh ya Tuhan ada apa lagi ini?' batin Hana yang merasa lucu dengan perlakuan keluarga yang menurutnya berlebihan. Ia bangun dari tempat tidurnya lalu duduk namun tubuhnya terasa agak tak bertenaga.


Tiba-tiba Tabib Ji memeluknya erat dan menitikkan air matanya.


"Ada apa Ayah? Kenapa Ayah menangis?"


"Hana anakku" ucap Tabib Ji melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak sadarkan diri selama 2 bulan ini. Ayah memeriksamu namun Ayah tidak menemukan kejanggalan apapun. Ayah merasa gagal menjagamu nak."

__ADS_1


"Apaa... 2 bulan Ayah?" Hana seolah tak percaya dengan pendengarannya. Bagaimana mungkin ia hanya merasa seperti terlelap beberapa jam saja. Tapi melihat pandangan setiap orang yang menatapnya dengan rasa khawatir tampaknya ia memang benar-benar harus percaya dengan kenyataan itu. Apalagi tubuhnya memang terasa begitu lemah.


'Tapi tunggu dulu dimana ini? mengapa kamarnya terasa luas dan suasananya seperti berbeda.' batin Hana sambil mengedarkan pandangannya.


"Ayah ini...?"


Tabib Ji segera memberikan jawaban atas keterkejutan Hana. Sudah pasti Hana akan bertanya. "Kita sudah pindah anakku, kita sudah berada di ibukota sekarang. Ini adalah rumah baru kita.


Hana seolah tak percaya hanya dalam dua bulan ia tidur dan sudah banyak yang terjadi.


Sudah pasti Tabib Ji memperkirakan bahwa Hana akan terkejut dengan kepindahan mereka yang seperti mendadak. Namun ini semua demi kesehatan putrinya jika cerita keseluruhannya akan ia sampaikan pada saatnya nanti. Lebih baik membuat kondisinya prima seperti sedia kala setelah itu menceritakan semuanya. Ia harap Hana bisa menerima apa yang nanti ia sampaikan.


"Hmm...sudah...sudah lebih baik Ayah keluar. Tunggu kesehatanmu pulih, Ayah akan menceritakan semuanya dan jangan lupa Fang yin tolong berikan ia semangkuk bubur sebelum pencernaannya normal kembali." ucap Ayah sambil berlalu dari kamar Hana.


"Adik Hana aku akan ke dapur sebentar untuk mengambil bubur. Kak Chen tolong jaga Hana sebentar ya." ucap Fangyin sambil tersenyum penuh makna.


Pasti Fangyin sedang berusaha menjodohkan Hana dengan Chen Long meskipun Hana sudah pernah bercerita pada Fangyin sebelumnya kalau Hana hanya menganggap Chen seperti seorang kakak laki-laki untuknya. Tapi sepertinya Fangyin tak menghiraukannya, ia seperti mak comblang yang berusaha mengikat mereka.


Tangan Hana bergerak untuk mengambil gelas di meja sisi tempat tidurnya.


"Biar aku ambilkan." dengan sigap Chen long mengambil gelas berisi air dan menyerahkannya pada Hana.


"Te...terima kasih Kak." ucap Hana kikuk

__ADS_1


Tangan Hana gemetaran menerima gelas itu. Namun Chen long membantunya memegang gelas itu dan mendekatkannya kebibir Hana.


Glek..glek..


Entahlah kenapa suara Hana yang meneguk air itu begitu menggelitik di telinga Chen long dan membuatnya merasakan debaran dihatinya saat itu.


"Terima kasih Kak Chen"


Mungkin inilah mengapa Fangyin meminta Chen Long untuk menjaganya karena mungkin Fangyin takut sesuatu yang buruk menimpa Hana karena tubuh Hana yang sekarang masih lemah. Berlebihan kalau mengganggap kata 'jaga' sebagai upaya Fangyin menjodohkan Chen long dengan Hana.


"Hemm I...iya." ucap Chen long sambil menatap Hana.


"Ehem...tampaknya aku mengganggu kalian ya?" ucap Fangyin dengan nada menggoda.


"A...aku keluar. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan." ucap Chen long berusaha menetralkan jantungnya karena terkejut dengan kedatangan Fangyin yang tiba-tiba.


"Kak yin coba jelaskan padaku kenapa dari tadi aku merasa ada sesuatu yang janggal dari kepindahan kita yang mendadak ini."


Fangyin tahu Hana pasti akan mencurigainya jika ia menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang ambigu. Maka tidak ada salahnya bukan jika mengungkapkan sedikit dari kebenarannya.


"Aiya.… kamu terlalu berpikir berlebihan adikku. Ayah begitu khawatir dengan hilangnya kesadaranmu untuk waktu yang terbilang cukup lama. Jadi Ayah mempercepat kepindahan kita semua karena Ayah memerlukan obat-obatan yang lengkap untuk menunjang kesehatanmu. Kenapa kamu harus curiga seperti itu?"


Kenapa Hana harus mencurigai keluarganya sendiri, Ia yang tiba-tiba tidak sadarkan diri untuk waktu yang terbilang tidak sebentar telah membuat semua anggota keluarganya khawatir. Maka wajar saja jika Ayahnya yang merupakan seorang tabib akan mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk putri kandungnya. Penderita kehilangan kesadaran sepertinya harus mendapatkan asupan nutrisi, vitamin dan obat obatan lainnya untuk menunjang kondisi tubuhnya.

__ADS_1


..................


Hai readers semuanya aku koq sedih banget yang ngelike cuma beberapa orang aja. Jangan pelit dong kasih jempolnya author jadi sedih 😭😭 tetap like, vote dan komentar ya biar author tambah semangat💪💪


__ADS_2