Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
93. Kematian yang tertunda


__ADS_3

Makhluk itu bercerita jika wanita yang bersama Hana berganti pakaian setelah Hana tertidur lelap. Wanita itu berdiri cukup lama di depan pintu seolah sedang menunggu sesuatu. Tak lama ada gulungan kertas kecil yang diselipkan dibawah pintu oleh seseorang. Setelah membacanya, ia kemudian pergi.


"Hanya itu yang aku tahu. Sekarang lepaskan aku!" ucapnya


"Hanya itu saja, tidak ada yang lain?"


Makhluk itu menggelengkan kepalanya


Hana akhirnya melepaskan cengkeramannya. Dan segera makhluk itu menghilang kabur tak ingin berlama-lama bersama manusia yang hampir saja membunuhnya.


.


Di penjara tampak seorang wanita dengan pakaian kebesarannya jatuh terduduk ke tanah setelah melihat wanita di depannya yang tak bergerak. Keadaan wanita itu begitu mengenaskan, kakinya terikat di rantai pada bola besi yang berkarat. Pakaian tahanan yang ia kenakan rusak dan memiliki banyak robekan akibat cambukan yang diterimanya dengan warna darah yang telah mengering.


"Audrey.....bangunlah.."


"Adikku...hiks..hiks...bangunlah.." ucapannya terhenti saat tubuh lemah itu bergerak


"Ssstt..air...air"


Shuwan segera berdiri ia berteriak pada prajurit penjaga tahanan untuk mengambilkannya air.


"Cepat, dimana airnya?"


"I..ini Yang Mulia." ucapnya sambil menyerahkan teko air dengan gemetar. Penjaga itu heran kenapa Ibu Suri tampak begitu cemas dan khawatir pada tahanan itu padahal sebelumnya, ia sendiri yang telah menyiksanya.


"Pergi. Aku ingin bicara berdua dengan Nyonya Hua." perintahnya pada prajurit itu

__ADS_1


Dengan segera Shuwan merangkul saudarinya itu dan membantunya untuk meminum air itu.


"Apa lebih baik? Dimana yang sakit adikku? Akan kupanggilkan tabib."


Audrey membuka matanya, tubuhnya sedikit memiliki tenaga setelah meminum air itu.


"Ibu Suri? Apa Anda ingin menyiksaku lagi?" tanya Audrey sinis


"Ti..tidak..adikku. Audrey..maafkan kakak yang tidak mengenalimu." ucap Shuwan sambil menitikkan air mata.


"Pergilah. Cepat pergilah." ucap Audrey sambil mendorong tubuh Shuwan hingga Shuwan terdorong beberapa senti dari tubuhnya.


"Kenapa Audrey.....kenapa? Maafkan aku yang keterlaluan dan tak mengenali saudari sendiri. Aku akan meminta pengadilan untuk membebaskanmu dan membatalkan kasus ini. Kita akan bersama-sama untuk...."


"Hentikan! Cepat pergi dari sini. Cepatlah ia akan segera datang."


"AKU" ucap suara itu yang membuat suasana hening mencekam. Sesosok wanita tua berdiri di belakang Shuwan dengan senyumnya yang mengerikan. Shuwan tak bisa berdiri untuk melawannya, tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga dengan kengerian yang menjalar di seluruh tubuhnya melihat wajah yang sudah lama ia lupakan.


"Kamu tidak juga pergi padahal saudarimu tengah memperingatkanmu. Keputusan yang salah tidak mempercayai saudari sendiri." sembari mengucapkan itu ia tertawa terbahak-bahak.


Ha...ha...ha....


Suara tawanya begitu mengerikan.


Shuwan gemetar ia memundurkan tubuhnya perlahan-lahan untuk menghindari wanita tua itu.


"Ah lihatlah..Ibu Suri kita yang Agung terduduk lemas di dinginnya lantai penjara. Apakah wajah ini menakutkan untukmu. Apakah wajah ini mengingatkan kejadian puluhan tahun yang silam." ucapnya sambil berjalan mendekati Shuwan

__ADS_1


"Hentikan. Lepaskan kakakku. Kamu sudah berhasil mendapatkanku Ibu." ucap Audrey menghadang


"Minggir. Anak durhaka. Gara-gara kamu semua rencanaku gagal." ucap wanita itu sambil menendang tubuh Audrey


"A...adik..." pekik Shuwan melihat Audrey memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Dengan memberanikan diri Shuwan berkata "Si...siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu kejam pada adikku? Dan kenapa Audrey memanggilmu Ibu?"


"Karena hari ini aku sedang senang, maka akan ku jelaskan padamu dan dengarkan baik-baik" ucap Perempuan tua itu sambil memegang dagu Shuwan


"Aku adalah...Li..wei...Aku adalah Adaline Wei Ming dan Aku...bisa menjadi siapapun yang aku mau termasuk menjadi dirimu."


Shuwan terkejut dengan ucapan wanita itu. Dia bukan manusia, dia monster. Pelayan setianya Yuer yang meninggal tadi malam telah berulang kali memperingatkannya bahwa seharusnya sejak lama ia menyingkirkannya. Ia dulu memang tidak ingin menyingkirkan makhluk itu karena ia berjanji akan mempertemukan dirinya dengan saudarinya yang hilang.


Kini semuanya terlambat, membiarkan monster di sampingnya tidak akan memberikan keuntungan apapun, ini hanya seperti kematian yang tertunda. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan membuatnya berani menepis tangan wanita itu "Lancang. Kamu tak kan berani melakukannya. Aku adalah Ibu Suri Kerajaan ini. Aku akan membuatmu menerima hukuman mati."


Ha...ha...ha....


"Ini yang aku suka. Perlawanan dari mangsaku."


"Tidaak...jangan dekati aku..pengawaaall." teriak Ibu Suri histeris


"Percuma mereka tidak akan mendengar suaramu, mereka dalam pengaruhku" ucapnya sambil mendekati Shuwan


Kuku-kuku jari wanita itu memanjang dan menghitam lalu dengan cepat ia menggores leher Shuwan dan meminum darahnya setelah puas, ia melempar tubuh Ibu Suri yang mulai mengering itu ke lantai.


Dengan perlahan tubuh dan wajahnya berubah menjadi bentuk Ibu Suri sambil tersenyum ia berkata "Saatnya memulai pertunjukan."


..........................

__ADS_1


__ADS_2