
Berita tersebar dengan cepat di lingkungan istana saat fajar menyingsing. Banyak di antara mereka percaya, ada yang tidak dan ada pula yang ragu-ragu mendengar berita itu.
Istri tabib Ji Hua melakukan penyerangan pada Ibu Suri, Istri Tabib Ji Hua ingin meleyapkan Ibu Suri karena dendam pribadi kemudian seorang pelayan merelakan nyawa sebagai tameng untuk melindungi Ibu Suri. Sementara berita lain mengatakan bahwa Audrey melakukan upaya pemberontakan dan bekerja sama dengan kerajaan Benua Selatan untuk mengambil alih kekuasaan karena tindakannya diketahui oleh salah satu pelayan pribadi Ibu Suri maka ia menghabisinya. Berita itu melebar kemana-mana pemikiran-pemikiran berbeda tiap orang yang tak benar-benar mengetahuinya, menciptakan cerita menurut versinya.
Sementara di penjara bawah tanah terlihat seorang wanita berdiri lemah dengan tangan dan kakinya masing-masing di ikat pada sebuah kayu pancang.
Ia melenguh kesakitan setelah dicambuk berkali-kali untuk membuatnya mengakui kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
"Cukup. Hentikan!" perintah Ibu Suri pada petugas yang memeriksanya.
Petugas pengadilan menghentikan cambukannya setelah mendengar perintah Ibu Suri. "Dia masih belum mengakuinya Yang Mulia." ucap petugas pengadilan itu
"Aku akan membuatnya mengakuinya, tolong berikan waktu untukku. Aku ingin berbicara berdua saja."
"Maaf dia adalah......" cegah petugas itu karena tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Ibu Suri kembali
"Aku tahu, dia tidak akan berbahaya karena tangan dan kakinya sudah terikat. Lagipula aku tidak sendiri ada pelayan yang menemaniku." ucapnya sambil melirik ke arah Liwei dan Sizu
Petugas itu menunduk hormat kemudian meninggalkan ruangan yang kini hanya tinggal 4 orang disana.
"Nyonya Hua..apa anda bisa mendengar saya?" tanya Ibu Suri
Namun Audrey hanya diam tak menjawab pertanyaan itu, matanya hanya terpejam seolah ia tidak mau melihat sosok wanita yang telah menjebaknya.
Hingga Ibu Suri mengulangi pertanyaannya "Nyonya Hua..apa anda bisa mendengar saya?" tanya Ibu Suri dan Audrey pun tetap tak berkata sepatah kata pun.
"Lancang seorang pembunuh sepertimu berani tak menghiraukan ucapan Sang Wanita Agung Ibu Kekaisaran ini." ucap Liwei dengan marah
He..he...he
__ADS_1
Tawa ejekan pun keluar dari mulut Audrey
"Apakah seseorang yang telah mengirimku ke tempat hina ini adalah orang yang layak mendapatkan penghormatan dariku?" jawab Audrey kemudian
Plak!
Suara tamparan menggema di ruangan itu. Sizu menampar keras pipi Audrey hingga cadar terlepas dari wajahnya. Ibu Suri sempat tercengang melihat wajah Audrey yang setengah cacat. Namun suara Sizu pelayannya membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Dasar manusia rendah...kamu sudah membunuh pelayan Ibu Suri dan sekarang berani bersikap kurang ajar kepada Ibu Kekaisaran?" ucap Sizu
"Yang Mulia saya sarankan agar Anda memberikan pengajuan hukuman mati pada pengadilan." lanjut Sizu
Ha...ha...ha
"Lihatlah kini kalian bertiga memainkan drama yang apik. Jika tanganku tidak di ikat aku akan bertepuk tangan dan bersorak untuk kehebatan akting kalian." ucap Audrey membuka matanya dan menatap mereka satu persatu dengan amarah yang memuncak.
"Mengakulah kalau Anda adalah pembunuh pelayanku, aku akan meminta keringanan untuk hukumanmu." ucap Ibu Suri
"Apakah aku harus mengakui kejahatan yang tidak aku lakukan?"
"Tapi bukti itu ada di tanganmu, tak akan ada yang percaya padamu. Aku memiliki saksi bahwa kamulah yang membunuh pelayanku."
Audrey kembali memejamkan matanya sambil tersenyum mengejek "Kalau anda yakin bahwa aku adalah pembunuhnya untuk apa pengakuan dari ku? Mengakui atau tidak mengakui, dengan kekuasaan mu itu bukanlah masalah besar."
Liwei geram dengan penolakan Audrey ia pun berkata "Yang Mulia anda harus menghukum cambuk pendosa ini." teriaknya.
"Lakukan...lakukan..aku akan memenuhi janjiku." bisik Liwei pada Ibu Suri
Kemudian Ibu Suri seperti terhipnotis lalu ia mengambil cambuk dan mencambuk Audrey berkali-kali
__ADS_1
Akh...teriak kesakitan Audrey yang terakhir begitu panjang dan terdengar pilu menggema diruangan itu. Hingga tak lama Ibu Suri segera tersadar dan melepaskan cambuk itu dari tangannya. Saat melihat Audrey pingsan, ada desiran aneh di hatinya seolah kekejaman yang ia lakukan adalah sesuatu yang salah. Ini adalah pertama kalinya ada perasaan aneh itu selama ia menjadi Ibu Suri. Hingga Shuwan memegang dadanya untuk menenangkan dirinya. 'Ada apa denganku?' batinnya
"Kita kembali ke kamar. Ku rasa hari ini aku terlalu lelah." ucap Ibu Suri dengan tangan gemetaran.
.
Setelah beristirahat sejenak di kamarnya, Ibu Suri merasa sedikit lebih baik. Saat melihat Liwei masuk untuk mengantar makanannya dengan segera Ibu Suri memegang pergelangan tangannya "Tepati janjimu" ucapnya
"Tenanglah. Makanlah dulu makananmu!" ucapnya sambil tersenyum penuh arti
Shuwan pun menurut, ia menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia terbayang bagaimana saat perang pecah dulu dan ia terjebak kebakaran yang ada di istana belakang. Antara hidup dan mati Shuwan merasa putus asa, di tengah keputusasaan ada sesosok wanita tua berjubah hitam yang tiba-tiba masuk dalam kobaran api mendatanginya dan menyelamatkan hidupnya.
Tapi ada harga mahal yang harus ia bayar yaitu pengabdiannya pada wanita tua itu seumur hidupnya. Ia tidak tahu bahwa wanita tua itu adalah monster, monster pembunuh manusia. Monster itu pula yang menghisap habis darah pelayan setianya yang bernama Liwei yang saat itu ikut berusaha menyelamatkannya. Sungguh kejam! Dalam hitungan detik dengan mudahnya wanita tua itu berubah wujud menjadi Liwei. Itulah awal ia menjadi boneka, boneka pelayan palsunya...sungguh ironis.
Setelah memakan habis makanannya, Ibu Suri membuka mulutnya dan berkata "Aku tidak pernah meminta apapun selama ini padamu. Hanya satu hal yang sejak lama kamu janjikan. Kamu berjanji akan mempertemukan aku dengan saudari kandungku."
Dengan tersenyum Liwei berkata "Bukankah aku sudah menepatinya?"
"Maksudmu?" tanya Ibu Suri dengan menggigit bibirnya
"Nyonya Ji Hua adalah Audrey Lao Ming." ucap Liwei dengan tersenyum penuh makna
"Apaa..." teriaknya. Ia segera berlari seperti orang gila menuju penjara bawah tanah tanpa menghiraukan panggilan putranya, Pangeran Zhang yang memanggilnya.
'Adik ku...adikku... adikku yang hilang' batinnya menjerit dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
.........................
Hai readers pasti banyak yang bertanya koq begini koq begitu....karena alurnya memang maju mundur. Membacanya harus dibaca semua kalau diloncati bacanya malah gak tahu gimana alurnya...ok 👍👍. Makasih untuk semua support kalian 🥰🥰🥰 author sangat2 senang sekali 🙏🙏🙏 makasih banyak.
__ADS_1