Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
88. Luka Goresan


__ADS_3

Audrey memasuki kamar Kaisar membawa nampan yang diatasnya ada sebuah mangkok obat yang hangat.


"Yang Mulia silahkan, ini adalah obat Anda." ucap Audrey sambil menyodorkan obat itu


Hana memperhatikan Ibunya, ada yang berbeda. Ibunya seperti tengah menahan rasa sakit. "Ibu, aku mengkhawatirkan Anda. Apakah Anda lelah?" tanya Hana sambil menatap mata Ibunya seolah memberitahukannya kecemasannya.


"Ya sedikit." ucap Audrey mengusap keringat di dahinya.


"Sebaiknya kalian menginap di istana untuk satu malam. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkannya" ucap Kaisar sambil tersenyum. Ini adalah kesempatan untuknya agar bisa dekat dengan Hana dan mengambil simpatinya.


"Itu merepotkan Anda Yang Mulia. Kami hanya meminta ijin untuk pulang dan akan kembali besok untuk memastikan kesehatan Yang Mulia." tolak Hana sambil menunduk.


"Tolong jangan ditolak kebaikan hati Kaisar. Ini adalah caranya berterima kasih, benarkan Kakak?" tanya Pangeran Zhang


"Baiklah. Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." ucap Hana sambil menunduk


.

__ADS_1


Dua orang pelayan istana mengantar mereka ke sebuah kamar tamu yang berada di lingkungan kediaman Kaisar. Kamar itu lumayan luas, kamar ini dulunya sering dipakai Mei lan sebelum ia menikah dengan Kaisar.


"Terima kasih. Kami akan beristirahat." ucapnya pada dua pelayan itu


"Tapi Tabib, Kaisar menyuruh kami untuk...."


"Tidak apa-apa. Jika aku membutuhkan sesuatu, aku akan mencari kalian." setelah berbicara dengan pelayan itu Hana segera menutup pintu dan menemui Ibunya.


"Ibu, dimana dirimu terluka. Aku akan mengobati lukamu." ucapnya pada Ibunya dengan wajah cemas.


"Ibu tidak apa-apa Hana. Hanya sedikit kelelahan. Dengan istirahat tubuh Ibu akan membaik." ucap Audrey memejamkan matanya dan berbaring ke tempat tidur.


"Ibu...ibu apa anda bisa mendengarku?" tanya Hana cemas


"Ya...Ibu hanya...mengan..tuk" ucapnya lemah.


"Bertahanlah Ibu. Tetap terjaga." Hana langsung menggores telapak tangannya dan menampungnya pada sebuah botol kecil yang telah berisi serbuk obat yang ia persiapkan sebelum berangkat ke istana. Ia sangat berharap tidak akan pernah memakai ramuan itu, namun kewaspadaan terhadap hal-hal yang diluar dugaan membuatnya mempersiapkannya dengan cepat tanpa ada yang tahu. Setelah mencampurnya, Hana meneteskan campuran botol itu ke luka Audrey. Asap hitam keluar dari luka itu dan menghilang setelah itu perlahan luka Audrey berangsur-angsur menutup dan sembuh.

__ADS_1


"Hana...apa yang terjadi?" tanya Audrey yang heran dengan pakaiannya yang terbuka dan posisi tubuhnya tertelungkup. Setelah itu ia duduk dan melihat Hana dengan wajah cemas menatapnya.


"Ibu, dia melukaimu. Apa anda tak merasakannya?"


Audrey berusaha mengingatnya, "Pelayan itu yang bernama Liwei pelayan Ibu Suri menghardikku saat tahu Ibu memata-matainya lalu karena panik Ibu melompati beberapa pohon disana untuk menghilangkan jejak. Ku kira luka ini dikarenakan ranting pepohonan disana."


"Ibu Liwei...Liwei adalah Nenek. Monster itu. Kenapa Ibu bergerak sendiri? Apa Ibu tak mempercayaiku?" ucap Hana sedih


"Apa kamu yakin? Kenapa ia memilih menjadi pelayan Ibu Suri. Selama ini ia tak pernah memilih peran kecil." ucap Audrey sedikit lemah


"Minumlah Ibu. Aku akan menceritakanmu semuanya."


Hana akhirnya mulai bercerita. Awalnya dia tidak yakin dengan pemikirannya selama ini namun setelah semuanya dihubungkan akhirnya ia mengerti.


Liwei adalah identitas yang dipilih oleh Makhluk itu awalnya dikarenakan keleluasaannya untuk mencapai kekuasaan. Melihat jatuhnya kekuasaan suaminya, ia membuat dirinya seolah-olah terbunuh pada pertempuran saat itu. Ia lalu melakukan perjanjian dengan Shuwan entah apa perjanjian itu sehingga Shuwan menerimanya menjadi pelayannya.


Selama menjadi pelayan Ibu Suri ia juga membuat Sizu yang sebenarnya adalah iblis penolongnya menjadi pelayan wanita yang juga bekerja untuk Ibu Suri karena ia tidak bisa percaya sepenuhnya pada Shuwan maka ia butuh seorang mata-mata. Liwei dan Sizu tahu tentang selamatnya nyawa Audrey saat itu namun mereka tak terlalu menggubrisnya. Namun saat melihat He hua yang menjadi pengantin kaisar dan menjadi Permaisuri saat itu ada ketidaknyamanan di hati Liwei maka ia meminta Sizu menyelidiki latar belakang He hua.

__ADS_1


Setelah ia tahu siapa sebenarnya He hua maka ia pun memakai tangan Ibu Suri untuk melenyapkannya dengan trik-triknya.


..........................


__ADS_2