
Di Malam perayaan dua orang tampak malu-malu berjalan beriringan, mereka adalah Chen long dan Hana.
"Langit malam ini indah kan suamiku?" ucap Hana memecah keheningan diantara mereka.
"Ehem...ya istriku sangat indah." jawab Chen long sambil terus menatap Hana dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. 'Kamu mau membuka hatimu untukku Hana? Terima kasih.' batin Chen long
"Itu sedikit aneh jika anda terus tersenyum seperti itu." sambil melirik Chen long yang sedari tadi tersenyum tanpa henti
"Ini senyuman kebahagiaan karena berjalan bersama istriku."
Tiba-tiba Hana berhenti berjalan kemudian dia berkata "Hentikan senyummu sekarang! Lihatlah banyak gadis disekitar kita yang memandangmu dengan mata buasnya." setelah mengatakan itu Hana berjalan cepat, hatinya kesal sekarang.
Chen long tercengang dengan perkataan Hana dan benar saja gadis - gadis disana berbisik-bisik sambil senyum-senyum melihatnya. Kemudian melihat kesamping ternyata Hana sudah jauh dari pandangannya, Chen long pun berlari mengejarnya "Istriku tunggu aku!"
"Kamu marah?" tanya Chen long sambil menarik pergelangan tangan Hana
"Menurutmu?" jawab Hana singkat dengan melihat wajah Chen long. Entah kenapa hatinya begitu kesal melihat para gadis yang melihat suaminya itu seolah mereka sangat menginginkannya.
"Kalau begitu sebaiknya...." Chen long menarik tangan Hana dan meletakkan tangannya di lengan Chen long. "Jadi mereka tahu kalau aku adalah milikmu."
Tindakan Chen long membuat Hana tersipu sampai-sampai saat mereka berjalan, Hana hanya menunduk ia benar-benar malu.
Tiba-tiba dari arah depan seorang anak kecil berlari kencang dan menabrak mereka
__ADS_1
Brukk
Anak itu terjatuh, ia menangis sambil memegang lengannya. Ia terlihat sangat ketakutan, ia tetap berusaha berdiri.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Hana yang khawatir melihat anak yang menangis itu.
Anak itu tak menjawab Hana, ia kembali berlari dengan kaki kecilnya yang gemetaran.
"Kamu tidak apa-apa istriku?" tanya Chen long
Hana menggeleng meyakinkan bahwa ia baik-baik saja namun ada bercak di bajunya. "Ini...ayo kak chen kita temukan anak itu, ia berdarah." ucap Hana sambil menarik tangan Chen long.
Beberapa menit kemudian, setelah mencari ke segala tempat Hana dan Chen long tetap tak menemukan anak kecil itu.
"Tidak. Anak itu berdarah, aku mengkhawatirkannya." 'Oh Tuhan bantu aku untuk menemukannya' batin Hana
Ada udara yang begitu dingin menyentuh kulit tangan Hana, saat ia langsung melihat ada bocah laki-laki yang berwajah pucat yang menyentuh tangannya. Bocah laki-laki itu menunjuk ke sebuah gang yang gelap.
"Ada apa?" tanya Chen long ketika melihat Hana berjalan perlahan ke sebuah gang kecil yang berada di samping kanan mereka berdiri.
Chen long segera mengikuti Hana rupanya benar, ada anak kecil yang duduk bersandar di tanah dengan tubuhnya yang lemas.
Setelah menemukannya Hana bicara dengan pelan "Terima kasih" mendengar ucapan Hana, bocah berwajah pucat itu menghilang.
__ADS_1
Hana segera memeriksa anak laki-laki itu, dia memang terluka ada luka robekan di lengan kirinya dan lukanya cukup dalam.
.
Fangyin tiba dirumah bersama Qiang. Ia terlihat khawatir dan langsung berlari ke ruang keluarga.
"Ayah, Ibu kalian melihat Hana? Apa Hana sudah pulang?" Dari tadi Fangyin dan Qiang menunggu di dekat kedai minum namun Hana tetap tak terlihat. Akhirnya Fangyin dan Qiang memutuskan untuk langsung pulang kerumah.
"Ada apa? Bukankah kalian pergi bersama-sama tadi?" jawab Tabib Ji
"Itu..." ucap Fangyin ragu-ragu.
Tiba - tiba terdengar teriakan suara yang cukup keras. "Ayah, Ibu cepatlah kemari." suara Hana dari ruang pemeriksaan mengagetkan mereka berempat.
Chen long menidurkan tubuh anak laki-laki di atas ranjang. Anak itu sudah memucat, dingin dan menggelinjang.
Hana mengambil obat dan segera meminumkannya pada anak laki-laki itu. Dalam hitungan detik tubuh anak itu sedikit demi sedikit menghangat.
Tabib Ji, Audrey, Fangyin dan Chen long terkejut dengan darah yang menempel di baju Chen long. "Siapa yang terluka?" tanya Audrey dengan wajah khawatir.
"Anak itu Ibu, aku menemukannya. Ia di tusuk di lengan kirinya. Sepertinya benda tajam yang menusuknya mengandung racun."
Qiang melihat wajah anak itu dan betapa terkejutnya dia. "I...ini..."
__ADS_1
.......................