
Semua orang memakan sarapannya dalam ketegangan. Walaupun di hadapan mereka tersaji makanan lezat namun dua pasang mata malah mencuri pandang dua orang dihadapan mereka dengan bergantian antara He hua dan Chen long, begitu seterusnya. Tabib Ji jelas tahu permasalahan yang terjadi di malam itu sebab malam itu Tabib Ji segera meminta penjelasan kepada Ling ling dan Chen long. Bagaimana tidak? Tabib ji terkejut melihat penampilan Chen long yang pulang dalam keadaan berantakan.
Tak
Suara ketukan sumpit membuyarkan suasana tegang kala itu. Tiga orang disana menoleh ke arah suara tersebut "Aku selesai, permisi." ucap He hua. Lalu ia bangkit dan membereskan mangkuk miliknya. Tapi kemudian saat akan pergi ia menatap wajah Ayahnya "Ayah apakah hari ini ada kegiatan yang bisa kubantu?"
Mmm
"Sementara ini tidak ada, karena Ayah sebentar lagi akan pergi ke kota kemungkinan 3 sampai 4 hari lamanya."
Tabib Ji menceritakan kepada mereka keinginannya untuk berbisnis dan membuka balai pengobatan gratis bagi orang yang tidak mampu. Meskipun tabib Ji merasa nyaman tinggal bersama keluarga barunya di hutan namun bagaimanapun mereka harus segera pindah dari sana. Tabib Ji juga harus memikirkan bagaimana nasib keluarganya jika terus menerus tinggal di dalam hutan karena mereka adalah manusia biasa yang juga memiliki banyak kebutuhan.
"Akan kutemani tuan." ucap Chen long.
"Tidak. Kamu temani He hua dan Ling ling, jika kamu ikut denganku siapa yang akan menjaga mereka."
Mendengar ucapan ayahnya He hua memutar bola matanya dengan malas namun saat tak sengaja matanya melihat wajah Chen long.
Deg
Ada perasaan aneh mengalir di hatinya. Seperti perasaan bersalah karena memperlakukan pria itu dengan kejam. Memang pria itu bersalah karena sengaja mengungkit masa lalu He hua dan mengejeknya, namun dia juga adalah pria yang turut andil membantunya mendapatkan kesempatan kehidupan barunya.
.
Chen long duduk sendirian di kursi yang berada di depan gubuk rumah. Dia mengoles bekas lebam di wajahnya dengan hati - hati. Sambil memegang dan menatap pantulan wajahnya di cermin Chen long mengoles sendiri balsem dingin ke wajahnya, sebelum tabib ji pergi ia memberikan balsem itu untuk Chen long dalam beberapa hari atau seminggu bekas luka cakaran dan lebam itu akan menghilang seutuhnya. Chen long meraba dan memperhatikan dengan seksama wajahnya di cermin, mulai dari bekas cakaran sampai bekas pukulan hingga berwarna biru menghiasi wajah, leher dan dadanya.
Sebenarnya Ling ling ingin membantunya tadi namun Chen long menghentikannya beralasan ia bisa melakukannya sendiri. Dia kan pria lajang, bersentuhan dengan wanita yang bukan merupakan saudara kandung rasa-rasanya kurang nyaman. Ya walaupun Chen long sudah menganggap Ling ling seperti adik untuknya namun Ling ling tetaplah orang luar.
Ehem
Chen long menurunkan cerminnya dan melihat ke asal suara. Setelah mengetahui pemilik suara itu Chen long mengabaikannya dengan mengangkat kembali cermin ditangannya untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Kak Chen...
sepertinya kamu kesulitan, bagaimana jika aku membantumu untuk mengobatinya."
"......"
tidak mendapat tanggapan, He hua menghela nafas dan mengulang kembali perkataannya "Kak Chen sepertinya kamu kesulitan, bagaimana jika aku membantumu untuk mengobatinya."
"Tidak! Jika kamu membantuku, kamu malah hanya akan menambah lebam diwajahku."
'Iya sepertinya kamu layak mendapatkan tambahan pukulan lagi di wajahmu.' batin He hua.
"Kenapa diam? sepertinya benar kan kalau kamu ingin menambah pukulan lagi di wajahku."
"I..tidak, mana ada" jawab He hua tergagap.
He hua berjalan mendekati Chen long. Lalu ia duduk berdekatan dengan Chen long. "Nah sekarang boleh aku bantu?"
Jantung Chen long berdegup kencang.
"Sini balsemnya." ucap He hua sambil menengadahkan tangan meminta balsem dari tangan Chen long.
Sangking gugupnya Chen long malah memberikan tangannya pada He hua dan menyatukan jemari mereka.
"Apa yang kamu lakukan! Aku meminta balsemnya bukan meminta tanganmu." ucap He hua sambil melepaskan tautan tangan mereka dengan kasar.
"Ah...maaf aku...aku..cuman..." ucap Chen long menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga merasa heran dengan tindakannya sendiri.
"Aih lupakan."
He hua mengambil balsem dingin itu dari tangan Chen long dan mengoleskannya pada wajah Chen long dengan telaten dan hati-hati.
__ADS_1
Dan Chen long tentu saja menikmatinya dan memejamkan matanya menerima sentuhan lembut He hua. Bagaimanapun ia adalah pria lajang yang belum pernah dekat dengan perempuan manapun. Jika ia menatap mata He hua maka ia tidak akan sanggup menormalkan detak jantungnya.
Saat mengoleskan balsem itu He hua teringat dengan perilakunya dulu yang sering menghukum pelayan di tempatnya. Mereka juga memiliki lebam seperti Chen long disekujur tubuhnya jika ia melewati kediamannya semua pelayan menunduk takut padanya seakan-akan mereka sangat menghormati junjungan mereka. Namun saat ia sakit dan lemah banyak pelayan yang mencemoohnya bahkan suara cemoohan mereka terdengar sampai ke kamar He hua. Mereka berkata "Tuhan mendengar doa kita, akhirnya permaisuri mendapat hukuman dari Tuhan karena sering menganiaya orang lemah seperti kita".
He hua bukan menghukum orang tanpa alasan. Dia menghukum mereka karena mendengar para pelayan itu menjelekkan dirinya sama seperti ucapan Chen long. Mereka mengungkit tentang kaisar yang tak pernah sekalipun bermalam di kediamannya malah dia menghamili sepupu terdekatnya. Sungguh ironis! Perkataan itu memang benar tapi sangat amat menyakitinya, sebagai seorang istri ia seperti terang-terangan dihina seolah tak layak untuk naik di ranjang kaisar.
"Maaf" ucap He hua dengan suara pelan yang bergetar. Ia masih He hua yang sama. He hua yang jahat dan kejam. 'Bagaimana bisa aku menyakiti penolongku seperti ini'. batin He hua. Ia meraba bekas cakarannya semalam di wajah Chen long.
Tes...tes..
Air mata He hua mengalir diwajahnya dan menetes jatuh di tangan Chen long.
Chen long segera membuka matanya dan melihat He hua menangis.
"Maaf aku sudah menyakitimu."
Chen long menggenggam tangan He hua.
"Hei sudahlah. Aku tidak apa-apa." ucapnya menenangkan He hua.
He hua terisak pelan saat Chen long menggenggam tangannya, ada sedikit perasaan hangat mengalir dihatinya.
'Mungkin dulu kamu dikenal sebagai Permaisuri Jahat dan Kejam namun setelah dekat denganmu, aku sedikit memahamimu. Kamu bukanlah orang sejahat yang mereka duga He hua, mungkin semuanya hanya karena keinginan untuk dikasihi dan desakan politik saja'. batin Chen long.
Chen long juga paham bahwa kedudukan dan harta terutama cinta bisa merubah watak dan perangai manusia.
'Dan kamu He hua adalah korban karena terlalu mencintainya.' ucap batin Chen long dan wajahnya pun tampak sendu.
Bagaimanapun Tuhan tidak menyukai sesuatu yang berlebihan.
..................
__ADS_1
Hai para readers semuanya...jangan lupa ya seperti biasa tetap semangat dukung author ya jangan pernah bosan #ingatpesanauthor baca๐ like ๐komen๐vote ok๐๐ makasih banyak semuanya ๐๐