
"Jadi ayah, ibu kandungku bernama Audrey?" tanya He hua.
"Ya benar. Sebenarnya dari awal kebangkitanmu, aku ingin mengatakan dan mengakui semuanya padamu namun aku khawatir engkau akan malu dan tidak mengakui aku sebagai orangtua kandungmu." jelas Ji hua dengan suara paraunya.
"Oh Ayah bagaimana mungkin anda berpikiran seperti itu. Seandainya saja...."
He hua tak mampu melanjutkan kata-katanya, air matanya tumpah. "Maaf aku permisi sebentar" setelah mengucapkan kata-katanya ia berlari keluar rumah mendekati sebuah sungai kecil yang tak jauh dari rumah gubuk itu.
"Mei mei" teriak ling ling . Ia begitu khawatir dengan nona yang sudah dianggap adiknya itu.
"Biarkan Ling ling! Biarkan adikmu menenangkan hatinya bagaimanapun semua ini begitu berat untuknya." cegah tabib Ji
.
He hua duduk di atas batu di pinggiran sungai itu, mengambil beberapa kerikil kecil dan melemparkannya. Air matanya mengalir tiada henti.
Bagaimanapun He hua mempersiapkan hatinya sebelum bertanya, namun tetap saja cerita di masa lalu itu membuat hatinya pilu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya. Namun ia tidak ingin siapapun melihat kelemahannya. Kalau ayahnya mengatakan 'malu'? Mungkin perasaan itu bagi sebagian orang, lebih baik memiliki orang tua dengan latar belakang besar dan sudah tiada lebih terhormat daripada mengakui memiliki ayah yang seorang tabib dan ibu berwajah buruk dengan latar belakang tak jelas.
Itu mungkin bagi yang lain, namun tidak dengan He hua. He hua menjalani hidupnya di istana tanpa keluarga, waspada dengan semua orang termasuk sepupunya, membuat He hua benar-benar kehilangan arti keluarga yang sebenarnya. Dengan kehidupan keduanya dan mengetahui kebenaran bahwa ia masih memiliki orang tua kandung adalah suatu berkah untuknya. Malu, kata itu tak pernah terlintas di pikirannya. Kesedihannya bukan karena memiliki latar belakang yang biasa namun karena kebenaran itu secara apik disimpan bertahun-tahun. Seandainya saja ya seandainya saja mereka bisa bersama-sama mungkin ia tidak akan mengalami semua ini. Seandainya saja semua ini tidak terjadi mungkin He hua sudah menikah dengan pria berlatar belakang sederhana hidup bersama - sama dan saling menguatkan satu sama lain sebagai keluarga.
__ADS_1
He hua menghapus jejak air mata yang masih menumpuk di sudut matanya. He hua menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Akhirnya ia berdiri dan berniat akan kembali masuk ke dalam rumah karena hari sudah menjadi gelap. Ia tidak ingin berlama-lama menangis, karena sesungguhnya menangis adalah cara manusia melepaskan emosi apapun kenyataan di depan mata harus dia hadapi. Hidup keduanya ini harus ia jalani sebaik-baiknya sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Tuhan yang sudah memberinya kesempatan kedua.
Pergerakan pepohonan membuatnya sedikit waspada. Matanya menatap ke atas dan berteriak "Kak Chen turunlah! apa kamu ingin jatuh untuk kedua kalinya?"
He hua memang hafal dengan aroma khas pria itu. Tabib Ji memberikan parfum khusus yang sama agar semua orang aman dari bahaya binatang buas. Dan siapa lagi yang beraroma sama, bisa berada di atas pohon jika bukan Chen long. Karena hanya pria itu yang memiliki kemampuan seperti itu.
Tap
Chen long mendarat ke hadapan He hua setelah melompat dari dahan pohon.
"Kewaspadaanmu bagus." ucapnya
"Sok perhatian."
He hua mencibir dan meninggalkan Chen long. Namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangan kirinya di tarik paksa Chen long.
"Lepaskan."
"Bisa tidak, kamu berhenti berpura-pura tegar padahal sebenarnya kamu sama dengan yang lainnya, 'kamu rapuh'. Kenapa tidak membagi perasaanmu dengan orang lain untuk menenangkan hatimu."
He hua geram dengan kata-kata Chen long. 'Rapuh? Aku tidak selemah itu' batinnya.
__ADS_1
"Membaginya? denganmu?" ucap He hua sinis. "Kak Chen kamu bukan siapa-siapa untukku, Aku hanya berhutang budi padamu, jadi jangan sok perhatian dan seperti mengerti benar siapa diriku." ucap He hua dengan menunjuk - nunjuk dada Chen long dengan telunjuknya. Lalu merasa pegangan tangan Chen long melemah ia menarik paksa tangannya dan pergi dari sana.
Chen long yang sempat tersentak dengan perkataan He hua, segera mencari ide lain untuk menggoda gadis itu. Ia tersenyum mengejek dan melanjutkan kata-katanya. "Ya...ya yang mengerti dirimu itu cuman suami tercintamu. Tapi sepertinya ia begitu mencintaimu sampai tak pernah menyentuhmu dan memperlakukanmu seperti barang antik."
He hua yang mendengar kata-kata Chen long menghentikan langkahnya. Ia berbalik, berjalan cepat menuju Chen long. Hatinya sekarang dipenuhi kemarahan yang teramat sangat. 'Beraninya pria ini mengejekku'.
'Sudah kuduga, memang singa betina.' batin Chen long.
"Beraninya kamu, menyebut dia!!" ucap He hua dengan mendorong dada Chen long. Karena dorongan kasar dan kuat He hua membuat mereka berdua terjatuh dengan posisi He hua berada di atas Chen long. Beberapa saat mata mereka beradu, membuat jantung Chen long berdetak cepat. Semburat kemerahan terlihat di wajahnya. Namun karena suasana gelap gulita maka He hua tak menyadari itu.
Jika perempuan lain tersipu malu dengan kondisi mereka saat itu, namun tidak dengan He hua. Kesempatan itu tidak boleh ia sia-siakan, He hua duduk dia atas tubuh Chen long menjambak rambutnya dan memukuli tubuh dan wajahnya. Hatinya benar-benar diselimuti kemarahan, hingga ia tidak menggunakan akalnya.
Ling ling yang mencari He hua awalnya terkejut karena mendengar suara kegaduhan. Teriakan Chen long yang berkata "Ampun-ampun, hentikan. Tolong hentikan." Membuat Ling ling mendekat ke asal suara dengan mengarahkan lilinnya, Ling ling begitu terkejut mulutnya terbuka lebar. Pemandangan yang sungguh tidak pantas, He hua berada di atas tubuh Chen long dan memukulinya. Seperti seorang istri yang menghajar suaminya karena ketahuan berselingkuh.
"Mei mei apa yang kamu lakukan." ucap Ling ling panik.
He hua yang mendengar suara Ling ling terkejut, kesadarannya kembali. 'Apa yang kulakukan' batinnya. He hua bangkit, berjalan meninggalkan Ling ling dan Chen long yang kesakitan. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa Tabib Ji yang sudah menunggunya semenjak tadi. Tabib Ji melihat punggung He hua merasa sedih, 'tampaknya ia masih belum bisa menerima kalau aku Ayahnya' batin Ji hua.
.................
Wkwkwk author yang nulis ini sampai ketawa geli, benar-benar ya kalau orang udah emosi itu gak bisa berpikiran jernih. Kasihan ama kak Chen yang di jambak sama He hua πππ.Tetap semangat dukung author ya jangan pernah bosan #ingatpesanauthor bacaπ like πkomenπvote okππ makasih banyak semuanya ππ
__ADS_1